HomeJawa Tengah333 Pelajar Pamotan Akan Belajar di Wong Samin Blora

333 Pelajar Pamotan Akan Belajar di Wong Samin Blora

Jawa Tengah Komunitas Nasional News Pendidikan Peristiwa Sosial Wisata dan Budaya 0 0 likes 2.5K views share

kabarblora.com – 333 orang siswa-siswi jurusan Ilmu Pengetahuan dari SMA N 1 Pamotan Rembang rencana akan melakukan study lapangan di sedulur Sikep Blora pada Kamis (20/9). Kegiatan outdoor study mata pelajaran IPS ini akan dilaksanakan di Dukuh Jasem, Desa Jepangrejo, Kecamatan Blora Kota dan Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora.

Siswa yang akan ikut adalah kelas X IPS sejumlah 177 orang, dan siswa kelas XI IPS sejumlah 156 orang. Kegiatan tersebut akan didampingi oleh Bapak Ibu Guru berdasar latar belakang disiplin ilmu pengetahuan yang sesuai.

“Di antaranya Guru Sosiologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, dan mapel pendukung yaitu PKn, Agama, PKn, Seni, Bahasa Indonesia serta Bahasa Jawa,” kata Suhadi, M.Pd salah seorang guru mata pelajaran Sosiologi di SMA N 1 Pamotan.

Menurut Suhadi, tradisi orang timur adalah saling kunjung-mengunjungi. Bukan merasa rendah apalagi direndahkan. Biasanya yang merasa yang lebih muda, berkunjung kepada yang lebih tua, atau sebaliknya, adalah hal yang biasa.

“Tradisi seperti ini kan sebetulnya modal sosial budaya yang dimiliki masyarakat kita,” ungkap pengajar kelahiran Rembang, 3 April 1982 ini.

Dirinya melihat, sedikitnya ada tiga daya tarik dari tradisi kunjungan. Pertama, dapat berfungsi merawat kerukunan masyarakat. Kedua, dapat berfungsi meningkatkan dinamika perekonomian masyarakat. Dan ketiga, dapat berfungsi untuk mendapatkan data sosial yang benar.

“Bahkan jauh dari pada itu, Mas, tradisi saling berkunjung dapat difungsikan untuk metode pembelajaran dalam dunia pendidikan,” ungkap bapak dengan dua orang anak yang berdomisili di Komunitas Rumah Baca Dukuh Palan Pamotan Rembang ini.

Lanjut Suhadi, tradisi kunjungan merupakan alternatif metode pembelajaran, karena fenomena alam dan sosial adalah sumber dari kajian pengetahuan. Bahkan tradisi kunjungan dapat menjadi metode pembelajaran yang terbarukan.

“Iya, karena setiap proses kunjungan selalu bersinggungan dengan pembaruan data fenomena alam dan sosial. Keberadaan pengetahuan formal ini akan selalu dikroscek kebenarannya,” terang pengajar lulusan S1 Pendidikan Sosiologi dan Antropologi dan S2 Pendidikan IPS Universitas Negeri Semarang ini.

Dengan bertema membangun manusia Indonesia dengan kearifan sosial masyarakat sedulur Sikep yang bertujuan untuk mengindentifikasi kearifan sosial masyarakatnya, dirinya berharap kegiatan study lapangan ini bisa mendapatkan format dan strategi dalam perspektif pengetahuan ilmu sosial.

Terpisah, Danang Pamungkas, S.Pd seorang guru pengajar mata pelajaran Sosiologi di SMA Kartini Rembang yang akan bersama 14 guru Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi lainnya turut serta dalam kegiatan study lapangan ini menyatakan bahwa metode pembelajaran yang dipakai menggunakan project-based learning yaitu model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks.

“Metode ini berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama dari suatu disiplin keilmuan, Mas. Intinya bagaimana melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainnya, seperti memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri. Puncaknya para siswa bisa menghasilkan produk karya yang bernilai dan realistik,” ujar pengajar kelahiran Rembang, 2 Desember 1994 ini.

Rencananya, untuk tahap evaluasi, hasil dari produk kegiatan study lapangan ini akan digunakan untuk bahan penilaian dari mata pelajaran Sosiologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, PKn, Bahasa Jawa, Seni dan Budaya, dan mapel Bahasa Indonesia dengan kekhasan penilaian mapel masing-masing.

“Nah, untuk tahap tindak lanjutnya, setiap peserta didik nantinya diwajibkan menghasilkan produk karya ilmiah sosial yang akan dipublikasikan di perpustakaan dan di website kunjungan lapangan. Dengan tindaklanjut publikasi tersebut, diharapkan hasil dari kegiatan outdoor study Mapel IPS ini dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan sosial, serta bermanfaat untuk rujukan dalam menyusun strategi pemberdayaan sosial tematik kearifan lokal,” terang guru lulusan S1 Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta.

Saat disinggung kenapa belajarnya ke sedulur Sikep, menurut Danang, hal menarik dari kearifan sosial kelompok sosial sedulur Sikep adalah karena masyarakat tersebut memiliki rangkaian tujuan hidup yang harmoni yang dilengkapi perangkat antibodi yang mumpuni.

“Hanya saja kita terkadang masih malu-malu untuk menggunakan perangkat sosial ini.
Padahal ini luar biasa, lho. Tak dipungkiri bahwa kelompok sosial sedulur Sikep memiliki kearifan sosial yang dapat kita gunakan untuk strategi membangun manusia Indonesia, maka tidak ada kata lain selain kita harus selalu mencintai kelompok sosial yang ada di atas bumi pertiwi ini,” pungkasnya.

Rencananya, selain di sedulur Sikep Jasem Jepangrejo dan Karangpace Klopodhuwur, rombongan yang akan didampingi Komunitas Jelajah Blora akan singgah pula di Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) Desa Jetis Kec/Kab. Blora. (*)

Facebook Comments