HomeSuara WargaDuel Dua Dewi di Pilkada 2020

Duel Dua Dewi di Pilkada 2020

Suara Warga 0 0 likes 2.3K views share

kabarblora.com – Pilkada Blora tahun 2020 ini terbilang istimewa. Sebab, baru pertama kalinya muncul kandidat perempuan dalam kontestasi. Tidak tanggung – tanggung langsung muncul dua perempuan sekaligus.

Dua perempuan tersebut yaitu Umi Kulsum maju sebagai Cabup Blora berpasangan dengan Agus Sugiyanto sebagai Cawabup Blora. Kemudian dari pihak lawannya, muncul nama Tri Yuli Setyowati sebagai Cawabup Blora yang akan mendampingi Arief Rohman maju sebagai Cabup Blora.

Fenomena ini diharapkan membawa kegairahan baru khususnya bagi kaum perempuan  yang diharapkan mampu meningkatkan persentase partisipasi politik. Yang lebih menarik  tentu saja melihat bagaimana unsur gender ini akan mampu mempengaruhi pemilih perempuan dalam menjatuhkan pilihan apakah pada Umi Kulsum atau pada Tri Yuli Setyowati.

Biasanya ada tiga kerangka analisis untuk memprediksi kecenderungan pemilih. Yakni dari faktor sosiologis, faktor psikologis dan faktor pilihan rasional.

Kerangka analisis dari faktor sosiologis (perspektif madzab Columbia) berangkat dari asumsi bahwa setiap individu terikat pada lingkungan sosialnya. Pengaruh kelompok sosial akan berpengaruh juga terhadap penentuan predisposisi atau faktor penentu sebelum menjatuhkan pilihan politiknya.

Maka untuk menakar siapa yang lebih digdaya dalam duel dua dewi itu dari sudut analisis sosiologis ini adalah siapa diantara keduanya yang paling mempunyai jangkauan sosialisasi yang lebih luas ke berbagai  segmen politik di Blora.

Kerangka analisis yang kedua adalah perspektif psikologis yang dikembangkan oleh Universitas Michigan USA. Menurut sudut pandang madzab Michigan ini, faktor yang menentukan pilihan politik berasal dari kondisi  psikologis pemilih dalam mempersepsikan faktor pribadi kandidat, tema yang diusung, dan identifikasi kandidat pada partai politik.

Bagi kedua kandidat dan tim suksesnya, tentu usaha untuk mampu menyentuh nuansa batin dan kesadaran terdalam pemilih menjadi kata kunci untuk  meraup suara. Issue yang dikembangkan harus benar-benar segmentatif berdasarkan  keragaman pemilih. Serta siapa yang telah dan sanggup melakukan penetrasi pemikirannya secara intens dalam spektrum yang luas, maka akan sanggup pula meraup suara yang lebih signifikan.

Kerangka analisis yang ketiga adalah perspektif pilihan rasional yang dikonseptualisasikan oleh Anthony Downs. Menurutnya, dalam menentukan pilihan, pemilih merupakan aktor yang mandiri dengan menggunakan pertimbangan rasional pada serangkaian alternatif pilihan. 

Kedua Dewi yang sedang berkontestasi  dan timnya harus menyediakan informasi  yang berkelimpahan agar publik cukup mempunyai pertimbangan yang rasional dalam menentukan pilihan. Track record, tema kampanye, strategi kampanye menjadi faktor yang dipertimbangkan pemilih.

Dari perspektif pilihan rasional lahir tiga kategori yaitu pemilih pasif, swing voters, loyalis dan agitatif. Swing voters akan menjadi lahan perebutan yang seru terutama dari lapisan milenial karena kecenderungan pilihan yang masih cair.

 

 

Penulis: Tri Martana, Bidang Komunikasi dan Media MD KAHMI Kabupaten Blora

Facebook Comments