HomePendidikanEnergi Baru Terbarukan, Dari Wacana Menuju Realita

Energi Baru Terbarukan, Dari Wacana Menuju Realita

Pendidikan Suara Warga 0 2 likes 867 views share

Menurut Wakil Menteri ESDM, cadangan minyak bumi Indonesia sebanyak 3,3 miliar barel akan habis di eksploitasi sekitar 2030 apalagi temuan cadangan baru juga kurang. Untuk cadangan gas lebih baik karena cukup untuk 25 sampai 50 tahun ke depan. Maka mulai harus dikongkritkan penggunaan sumber energi lain yang bersifat terbarukan dan perlu dipikirkan alih teknologi untuk penggunaan mesin yang berbahan bakar minyak dengan bahan bakar lain. Apalagi hal ini juga menyangkut mayoritas aktifitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.

Yusuf Hartadi, Mahasiswa Magister Energi Universitas Diponegoro memberikan wacana menuju realita terkait hal tersebut sebagai Energi Baru terbarukan.

KONDISI ENERGI NASIONAL

Energi fosil sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Semua sudah tahu istilah tersebut, merujuk ke penggunaan bahan bakar minyak, batubara dan gas alam. Jumlah cadangan sumber energi fosil adalah terbatas, dengan penggunaan terus menerus suatu saat akan habis. Pemerintah mengajak perguruan tinggi untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) untuk mengantisipasi berkurangnya energi fosil. Dalam catatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Outlook Energi 2017, konsumsi energi final terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, penduduk, harga energi dan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Konsumsi energi final selama tahun 2010-2015 meningkat relatif terbatas sekitar 1,3% per tahun. Data tahun 2015 menunjukkan konsumsi energi final terbesar adalah sektor rumah tanggan (35%) diikuti sektor transportasi (31%), industri (29%), komersial (4,0%) dan sektor lainnya (2,0%)

Tingginya tingkat konsumsi energi tersebut akan menguras sumberr daya energi fosil, tidak sebanding dengan penemuan cadangan yang baru. Oleh karena itu, harus dilakukan efisiensi penggunaan energi fosil dengan menerapkan manajemen energi seiring dengan pengembangan dan penggunaan EBT harus dipercepat. Pemerintah telah menargetkan pemanfaatan EBT dalam bauran energi nasional mencapai 23% pada tahun 2025.

Indonesia memiliki potensi sumber daya EBT yagn cukup besar dengan variasi yang beragam. Potensi terbesar adalah (OTEC) Ocean Thermal Energy Conversion sebesar 41,012 MW, biomassa 32,654 MW, hydro 75.091 MW, energi surya 4,8 kWh/m2/day, energi angin 970 MW, pasang surut (tidal0 4.800MW (Ditjen EBTKE, 2013, 2014, 2015). Potensi sumber daya EBT tersebut memerlukan nilai investais yang besar, sementara tingkat bunga perbankan realtif tinggi sehingga kondisi ini dinilai tidak kondusif untuk mengembangan EBT.

MANDIRI ENERGI

Konsep mandiri energi telah cukup lama dikembangkan dalam skala desa, yaitu pemanfaatan potensi sumber daya energi baru terbarukan lebih dari 60% untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat desa itu sendiri. Secara nyata, desa mandiri energi bertujuan untk membuka lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, menciptakan kegiatan ekonomi produktif dan secara nyata mengurangi konsumsi energi dengan pemenuhan sendiri.
Pengembangan desa mandiri energi memiliki dua tipe, yaitu pengembangan sumber non pertanian (mikrohidro, tenaga surya dan biogas) dan pengembangan sumber pertanian (biofuel dan agrofuel).

Program desa mandiri energi di Jawa tengah telah dilaksanakan dari kurun waktu yang cukup lama dan dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Manfaat program ini sangat dirasakan oleh masyarakat setempat, tetapi dalam pengembangan program ini mengalami banyak kendala. Faktor kendala terbesar adalah kurangnya sosialisasi.

Masyarakat desa melihat program desa mandiri adalah sesuatu yang baru. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dilakukannya sosialisasi dan pendampingan sebelum program tersebut di implementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa mandiri. “program mandiri energi berarti mengubah kebiasaan masyarakat desa, ini tidak bisa hanya dengan menjelaskan untung ruginya saja, tetapi merubah mindset. Hal ini butuh pendampingan terus menerus” penjelasan Erin Ratna Kustanti, S. Psi, M.Psi, Psikolog, pengajar Fakultas Psikologi Undip saat wawancara di Tembalang, Semarang. Menurut beliau, merubah kebiasaan berarti merubah cara berfikir. Penerapan program desa mandiri energi berarti merubah kebiasaan dari perilaku komsumsi energi menjadi perilaku produksi energi, dimana hasil produksi energi diprioritaskan untuk konsumsi sendiri.

Program desa mandiri energi dicanangkan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat desa itu sendiri. Kerjasama pemerintah dengan dinas terkait sangat menentukan berjalan tidaknya program tersebut. Perguruan Tinggi memeiliki peran yang strategis dalam menjalankan program tersebut. Kerjasama pemerintah dengan UNDIP telah dilakukan di beberapa tempat dan masyarakat telah merasakan manfaat dari program tersebut. Jika disuatu desa telah dilaksanakan program desa mandiri energi, harus dilakukan pendampingan terus menerus agar warga desa benar-benar memiliki kemampuan mengelolanya. Undip sebagai institusi perguruan tinggi memiliki program KKN (Kuliah Kerja Nyata), sehingga mahasiswa dapat dilibatkan dalam pendampingan tersebut.

Program Sekolah Pasca Sarjana UNDIP telah memiliki prodi Magister Energi memiliki 2 konsentrasi, yaitu perencanaan energi dan EBT. Perencanaan energi memiliki target untuk menguasai sistem efisiensi energi dan manajemen energi sehingga tercapai efisiensi yang tinggi dalam penggunaan energi fosil. EBT memiliki target untuk menguasai pengembangan energi baru dan terbarukan yang berbasis potensi sumber daya energi dalam negeri, agar tercapai sustainable energy. Magister Energi Undip diharapkan menjadi motor penggerak efisiensi energi dan pengembangan energi baru terbarukan.(timkb/Yusuf)

Jika sekarang pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2018, siapa yang Anda pilih ? Vote Sekarang !

  • SUDIRMAN - IDA (56%, 250 Votes)
  • GANJAR - YASIN (39%, 177 Votes)
  • NETRAL/TIDAK MEMILIH (5%, 22 Votes)

Total Voters: 449

Loading ... Loading ...
Facebook Comments