HomePendidikanFenomena Money Politik Dalam Pemilihan Umum

Fenomena Money Politik Dalam Pemilihan Umum

Pendidikan Suara Warga 0 0 likes 2.3K views share

Sosial adalah kata yang selalu berhubungan dengan masyarakat yang bertujuan untuk mendapatkan informasi, memberi informasi dan mendapatkan kekuasaan. Politik adalah kata yang selalu berhubungan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan Negara serta kegiatan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat. Jadi, sosial politik adalah hubungan antara orang yang ingin memiliki jabatan atau kekuasaan di masyarakat.

Perkembangan zaman semakin maju, terutama pada kecanggihan teknologi semakin meningkat yang mengakibatkan interaksi sosial semakin menurun dan  faktor lainnya. Selain itu, interaksi sosial adalah proses komunikasi antara dua atau lebih makhluk sosial untuk mendapatkan informasi dan memberi informasi.

Politik Negara saat ini sangatlah menurunkan mental makhluk sosial karena semua hanya kecurangan dan permainan uang terus berjalan ketika pemilihan akan dilaksanakan. Politik uang adalah sebuah rancangan yang dilakukan oleh makhluk sosial dengan menggunakan uang untuk mendapatkan sebuah kekuasaan di masyarakat.

Harga diri merupakan salah satu aspek yang menentukan keberhasilan seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Bagaimana individu berinteraksi dengan lingkungannya dan bagaimana individu melakukan penyesuaian sosial akan dipengaruhi oleh bagaimana individu tersebut menilai keberhargaan dirinya.

Individu yang menilai tinggi keberhargaan dirinya merasa puas atas kemampuan diri dan merasa menerima penghargaan positif dari lingkungan. Hal ini akan menumbuhkan perasaan aman dalam diri individu sehingga dia mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya (Knapp, 1984).  Selain itu aspek lain yang menyebabkan interaksi sosial gagal terjadi, menurut pendapat dari (Abdulsyani, 2007), bahwa status dan peranan sosial merupakan unsur baku dalam stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial menempatkan seseorang atau sekelompok orang pada kedudukan tertentu. Kedudukan tertentu ini tergambar dari hak dan kewajiban yang dimiliki, tingkat penghormatan yang diterima, dan kewenangan yang diakui.

Unsur yang bisa menjadi faktor pembentukan suatu kelas sosial, salah satunya adalah dilihat dari segi sosial ekonomi. Dari sumber ekonomi terbentuklah kelas sosial ekonomi seperti kaya dan miskin, ekonomi kuat dan ekonomi lemah. Stratifikasi sosial dapat terjadi karena ada sesuatu yang dibanggakan oleh setiap orang atau sekelompok orang dalam kehidupan masyarakat.  Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa penggunaan ponsel tidak mempengaruhi interaksi remaja secara tatap muka. Penggunaan ponsel remaja (laki-laki maupun perempuan) memang cenderung tinggi. Tetapi dalam hal interaksi tatap muka antara remaja dengan lingkungan sosialnya tetap saja cenderung kurang. Maka,  interaksi remaja tersebut tidak hanya disebabkan oleh tingkat penggunaan ponsel yang tinggi.

Banyak terdapat faktor-faktor lainnya dalam karakteristik remaja, seperti semakin tingginya beban akademik, mulai mengkonsumsi media-media massa atau teknologi dengan tinggi serta cenderung lepas dengan lingkungan sosial keluarganya. Dengan begitu terlihat bahwa memang kelompok usia remaja cenderung kurang interaksinya secara tatap muka dengan lingkungan sosialnya (Ina Astari Utaminingsih, 2006).

Hal tersebut berlawanan dengan teori yang dikemukakan oleh (Budyatna, 2005), yaitu dengan munculnya penggunaan ponsel dapat mempengaruhi suatu proses yang bersifat transaksional dalam interaksi tatap muka.

Fenomena Money Politic atau Politik Uang dalam Pemilihan umum di Indonesia seakan sudah menjadi sesuatu yang wajar, bahkan menjadi suatu keharusan. Idealnya seorang yang dicalonkan dan mencalonkan diri sebagai seorang bintang dalam suatu partai politik untuk mengikuti suatu pemilihan legislatif ataupun eksekutif haruslah memiliki bekal pengetahuan dan pengamalaman politik bukan hanya sekedar terkenal dan memiliki dompet tebal. Akan kemana Indonesia ini untuk kedepannya tentulah ditentukan oleh pemimpinnya. Merupakan suatu kemunduran untuk Indonesia apabila para pemimpin kita hanyalah seorang 9 pemimpin karbit-an yang hanya muncul apabila pemilihan mendekat dan menghilang ketika pemilihan telah usai  (Patrick Jimbrev Rimbing, 2014).

Berdasarkan hasil pengolahan data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh secara signifikan antara politik transaksional terhadap perilaku pemilih di Kota Kotamobagu sebesar 4,3%. Hal ini dapat dilihat berdasarkan pada beberapa indikator politik transaksional khususnya mengenai kegiatan pemberian uang pernah terjadi sebesar 52,6%, mengenai kegiatan pemberian hadiah (imbalan, sembako dan diluar uang sering terjadi sebesar 52,6%, mengenai kegiatan pemberian jabatan politik di Kota Kotamobagu pernah terjadi sebesar 56,6%. Kemudian pada indikator perilaku pemilih secara rasional memiliki perilaku yang baik sebesar 59,5% dan indikator emosional memiliki perilaku yang baik sebesar 40,5%.

Dalam hal ini masyarakat Kota cukup apresiasif dalam pelaksanaannya, hanya saja bila calonnya memberikan materi dan di kenal oleh mereka dan sedikit memiliki garis kekerabatan itu yang lebih mereka dukung (Komisi Pemilihan Umum, 2015).

Sebagai contoh Politik uang di Sulawesi Utara terjadi dengan berbagai macam cara, yang paling terlihat adalah saat door to door, penyalahgunaan fasilitas negara pada masa kampanye, pemberian barang, pemberian uang, pemberian jasa, Pemberian barang paling banyak berupa pakaian, sembako dan peralatan rumah tangga. Kalau jasa, bisa berupa pelayanan kesehatan, hiburan, pertunjukan, layanan pendidikan dan janji pemberian uang.

Pemberian uang dalam berbagai modus terutama melalui door to door sebagai modus klasik, dengan mendatangai konstituen kemudian meninggalkan uang. Cara lain, keluarga caleg atau relawannya memberikan uang kepada sejumlah konsituen di acara kebaktian, pengajian atau keagamaan. Memberi uang kepada lansia, anak-anak. Pasca pencoblosan ada lagi menukarkan nama yang dicoblos dengan uang (Patrick Jimbrev Rimbing, 2014).

Dari penelitian ini, peneliti mendapat hasil. Pertama pada praktik politik yang telah terjadi dilakukan oleh tiga agen yaitu calon, tim sukses dan pemilih. Praktik politik uang dilakukan melalui kegiatan kampanye dengan membagikan uang tunai, barang, sumbangan maupun janji-janji politik pada pemilih. Kedua, bahwa dalam melakukan tindakanya, para agen mempunyai motivasi yang mengarah pada keinginan-keinginan secara verbal, juga mengarah pada motivasi ekonomi sebagai alasan mendasar dalam berpartisipasi pada pemilihan kepala desa (Mohamad Amanu, 2015).

Dari penelitian ini peneliti melihat, bahwa sebuah jabatan layak untuk diperebutkan dan diperjuangkan oleh masing-masing pihak karena pada sebuah jabatan mampu memberikan akses secara ekonomi maupun politik bagi orang-orang yang berperan di dalamnya.

Melalui jabatan, para agen di dalamnya memperoleh keuntungan yang mampu menutupi ketidakrasionalan atas modal yang telah dikeluarkannya. Pada akhirnya peneliti melihat ini, dalam sebuah kesatuan bahwa di dalam kontestasi pemilihan terdapat pelanggaran dalam bentuk korupsi pemilu tidak bisa dihindarkan dalam rangka memperebutkan sebuah kursi jabatan.

Kemudian pasca terpilihnya seseorang, peluang korupsi politik lebih nampak terlihat dilakukan oleh para elite pemerintahan maupun para pelaku pendukung dalam pemenangan. Maka dapat disimpulkan perilaku korupsi politik merupakan akibat dari korupsi pemilu  (Mohamad Amanu, 2015).

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa krisis interaksi sosial dipengaruhi oleh berbagai aspek yaitu harga diri, status sosial, belum mengetahui perannya sebagai makhluk sosial, perekonomian, dan penggunaan ponsel. Aspek-aspek ini akan mengakibatkan silaturahmi antar sesama makhluk sosial semakin menurun dan bisa jadi interaksi sosial akan hilang karena perkembangan teknologi semakin meningkat. Oleh karena itu, tempat wisata berupa kampung interaksi bagi makhluk sosial sangatlah penting untuk menantang para masyarakat hidup tanpa adanya aspek penyebab terjadinya interaksi sosial gagal selama 1 bulan menetap di Kampung tersebut.

Selain itu, politik uang semakin merajalela karena sebuah jabatan layak diperjuangkan dan sebuah jabatan dapat memberikan akses perekonomian kemudian memperoleh keuntungan lainnya. Jadi, politik uang sangatlah berepengaruh terhadap kemakmuran hidup seseorang karena bisa saja mereka dapat memperoleh uang lebih dari hasil jabatan yang telah diraihnya atau membayar semua hasil pengeluaran pada saat kampanye dengan sumber dana dari biaya pembangunan daerah dan lain-lain. Dan tidak bisa kita sembunyikan lagi dengan adanya politik uang, mental seseorang untuk mendapatkan jabatan secara adil dan jujur tidak akan bisa lagi kita jumpai dijaman sekarang ini. Oleh karena itu, penanaman nilai dan norma agama maupun arti pancasila harus ditanamkan sejak kecil demi kesejahteraan masyarakat dan kemakmuran hidup kita. (Fathu Riza, tim KPI UGM)

Artikel ini juga di terbitkan di website sosialpolitik.filsafat.ugm.ac.id

Daftar Pustaka:

Abdulsyani. 2007. Sosiologi Skematika, Teori Dan Terapan. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Knapp, L. 1984. Interpersonal Communication and Human Relationship. Newton MA : Allyn and Bacon.

Jurnal  Amanu, Mohamad.2015.Politik Uang Dalam Pemilihan Kepala Desa.Studi kasus di Desa Jatirejo kecamatan Banyakan kabupaten Kediri: hal. 21.

Budyatna, M. Pengembangan Sistem Informasi : Permasalahan Dan Prospeknya. Komunika: Vol 8 No 1, 2005.

Komisi Pemulihan Umum 2015. Pengaruh Politik Uang Terhadap Partisipasi dan Preferensi Politik Masyarakat Kota Kotamobagu.Study kasus pilwako 2013, pileg dan pilpres 2014: hal. 36.

Rimbing, Patrick Jimbrev 2014. Money Politics Dalam Pemilihan Legislatif Di Kota Manado Tahun 2014. Suatu studi di Dapil 1 kecamatan Sario dan kecamatan Malalayang: hal. 8-9.

Utaminingsih, Ina Astari 2006. Pengaruh Penggunaan Ponsel Pada Remaja Terhadap Interaksi Sosial Remaja.Institut Pertanian Bogor: hal. 80.

Facebook Comments