HomeJawa TengahIndonesiana – Cerita Dari Blora, Pramoedya Disiplin Sepenuh Hati 

Indonesiana – Cerita Dari Blora, Pramoedya Disiplin Sepenuh Hati 

Jawa Tengah Nasional News Peristiwa Sastra Wisata dan Budaya 0 0 likes 775 views share

kabarblora.com – Acara talkshow bertitel Pram dan Sastra yang bertempat di rumah masa kecil Pramoedya berlangsung sekitar pukul 09.00-11.30, Rabu (12/9) tadi memeriahkan hari pertama acara Indonesiana – Cerita Dari Blora. Para peserta yang terdiri dari para pelajar, OPD, komunitas dan umum dengan khidmat mendengarkan pemaparan narasumber Soesilo Toer, Muhidin M Dahlan, Gatot Pranoto dan moderator Christian Pramudya. Hadir sebagai undangan di deretan depan, selain jajaran Dirjen Kebudayaan, para Kepala Dinas, Assisten II Setda Blora, tampak Astuti Ananta Toer bersama keluarga besar Pramoedya.

“Dari Indonesiana inilah yang akan menjadikan kabupaten Blora menjadi titik penting, tidak hanya Cepu karena minyaknya, tetapi paling tidak Blora terkenal karena sastranya. Nanti lahir anak-anak yang fasih sastranya. Saya yakin, visi ini sejalan dengan visi Pak Bupati dan Pak Wakil Bupati. Mudah-mudahan, kerja keras panitia Indonesiana, beserta pemerintah kabupaten dan seluruh jajaran dari Direktorat Jendral Kebudayaan menghasilkan poin-poin penting dan kebijakan khususnya di Kabupaten Blora,” kata Dra. Sri Hartini, M.Si. Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan mewakili Dirjen Kebudayaan RI.
Blora merupakan salah satu kabupaten/ kota yang terpilih untuk menyelenggarakan Festival kebudayaan dan menjadi bagian dari Platform Indonesiana, yang mulai hari ini hadir dengan festival folklor bertajuk Cerita Dari Blora. Cerita ini identik dengan sosok Pramoedya Ananta Toer. Festival ini mengangkat dan mengekspresikan khasanah seni, budaya dan sastra di daerah Blora, termasuk di dalamnya cerpen Cerita Dari Blora karya Pramoedya Ananta Toer.
Festival Folklor Blora dipilih sebagai bentuk penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tokoh sastra besar dunia kelahiran dari Blora Pramoedya Ananta Toer. Tema ini diambil dari judul kumpulan cerita pendek karya Pramoedya Ananta Toer, yang memberi andil dan membesarkan kota Blora ke tingkat nasional bahkan internasional. Melalui karya cerita pendeknya, spiritnya terkandung kekuatan makna cerita, moral, dan nilai-nilai estetik. Gelaran karya sastra ataupun kesenian tradisional dikemas dan diungkap dalam upaya menghidupkan seni dan budaya di Blora sebagai kota sastra, dari Blora menuju sastra dunia.
Soesilo Toer adik kandung Pramoedya sekaligus salah satu pendiri Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) dalam sambutannya mengatakan bahwa Pram itu orangnya optimis.
“Pram itu jadi pengarang dimulai dari melamun, minum kopi dan merokok. Pram mendapat pencerahan itu karena rokok dan kopi,” ujarnya.
Muhidin M Dahlan seorang penulis kelahiran Sulawesi Tengah yang juga hadir sebagai narasumber mengatakan bahwa Pramoedya adalah seseorang yang selalu berbicara dengan data. “Pram menggunakan arsip tidak sekedar bahan, tetapi senjata. Arsip di tangan seorang Pram dia bisa menjadi api,” tukasnya.
Lanjutnya, dari membaca koran yang sedemikian rupa, Pram bisa memprediksi masa depan.
“Karena bacaannya itu adalah koran. Yang dia cari adalah yang selalu mempunyai relasi dengan tujuannya bersastra. Itulah mengapa dia menjadi sangat produktif. Karena sastra bagi dia adalah project. Bukan project-project negara. Dia bikin project itu dengan sepenuh hati. Bagi teman-teman aktifis, Pram patut dicontoh. Seperti halnya projek Tirto Adhi Soerjo. Siapa yang nyuruh, gak ada.  Dia tentukan projectnya. Dia disiplin menggali sedemikian rupa. Jadilah karya fiksinya tetralogi dan non fiksinya berjudul Sang Pemula. Kalau ingin panjang umur dalam berkarya, serius, maka buatlah project. Jangan nunggu negara mengasih kita, atau mengajukan proposal. Pram tidak mengenal itu,” tandasnya.
Duduk berdampingan dengan Muhidin, Gatot Pranoto sebagai Ketua Panitia memberikan semangat dan dukungan kepada para peserta yang sebagian besar adalah para pelajar.
“Untuk semuanya, saya anjurkan membacalah dan menulislah,” kata Gatot Pranoto Ketua Panitia Indonesiana – Cerita Dari Blora.
Di akhir sesi pertama, Wakil Bupati Arief Rohman menyampaikan bahwa akan selalu berkoordinasi dengan Dirjen Kebudayaan bahwa Pramoedya adalah milik Blora, milik Indonesia juga milik dunia.
“Matursuwun. Terimakasih atas kerawuhannya. Kami mohon maaf kalau masih banyak kekurangan di sana-sini. Karena ini acara pertama. Kita berharap festival Cerita Dari Blora ini tahun depan bisa dilanjutkan,” katanya.
Di hari pertama ini, rencana juga akan digelar Bedah Buku karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Cerita Dari Blora di tempat yang sama pada pukul 14.30-17.00 WIB dengan pembicara Soesilo Toer, Gunawan Budi Susanto dan Gatot Pranoto dengan jumlah peserta komunitas dan umum. (*)
Facebook Comments