HomeEkonomi BisnisKasus PTSL Dilaporkan, Kades Kutukan Meninggal Dunia

Kasus PTSL Dilaporkan, Kades Kutukan Meninggal Dunia

Ekonomi Bisnis Jawa Tengah Nasional News Pemerintahan Peristiwa 0 0 likes share

kabarblora.com – Ada dugaan akibat dilaporkan ke kepolisian oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terkait dengan indikasi melakukan pungutan liar (Pungli) Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), Kepala Desa Kutukan Kecamatan Randublatung Juwadi dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Lamongan, Senin (29/10) sekitar pukul 05.00 WIB pagi tadi.
“Ada kabar korban meninggal karena kebocoran jantung. Kami terus terang sangat prihatin. Saat ini Kades terlalu banyak beban mental psikologis atas banyaknya lembaga, atau institusi yang mengatasnamakan fungsi kontrol. Kami berharap kepada semua elemen, mari kita perkuat fungsi pendampingan, dengan masukan, arahan, petunjuk, pelatihan keilmuan bagi aparatur desa. Bukan hanya sekedar pengawasan yang ujungnya adalah pelaporan,” kata Heri Agung Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Blora, Senin (29/10) pagi.
Ucapan bela sungkawa juga disampaikan oleh Kepala Desa Trembulrejo Kecamatan Ngawen Ahmad Sucipto yang beberapa hari terakhir ini mendapat sorotan dari banyak pihak terkait polemik biaya PTSL di desanya.
“Innalillahi wainnalillahi rojiun. Saya turut berdukacita. Sangat disayangkan sekali. Seharusnya ini tidak sampai terjadi, kalau benar masuk dan sakitnya Kades Kutukan gara-gara program PTSL ini. Karena masyarakat sangat tertolong dengan adanya program ini,” ucap Ahmad Sucipto.
Kanit 2 Tipikor Polres Blora Iptu Nur Dwi Edi, S.H dalam keterangannya  menyatakan terkait dengan laporan kasus PTSL di Desa Kutukan Kecamatan Randublatung bahwa semua pihak sudah dimintai keterangan.
“Perkaranya sudah dicabut sama Sumari. Tapi tetap kita ajukan. Sudah dipanggili semua untuk dimintai keterangan, termasuk klarifikasi. Namun belum ada perintah turun,” kata Kanit 2 Tipikor Polres Blora Iptu Nur Dwi Edi, S.H.
Namun, sewaktu dihubungi oleh wartawan, pihak LSM menyanggah bahwa meninggalnya Kades Kutukan bukan karena dilaporkannya kasus PTSL di desanya.
“Bukan. Sakitnya tidak karena laporan. Tapi karena memang sudah lama sakit. Kabarnya sakitnya komplikasi diabetes, paru-paru, dan ginjal. Ojo mbok kaitno laporan. Tidak ada kaitane dengan laporan. (Jangan dikaitkan dengan laporan. Tidak ada kaitannya dengan laporan). Kalau laporannya sudah dua atau tiga bulan kemarin. Dadi pas bar tak laporno (Jadi setelah selesai saya laporkan), selang dua minggu saksi-saksi dan perangkat diundang diperiksa, terus Kades masuk ICU 4 hari. Keluar. Namun kambuh lagi. Tapi dekne wis gak gelem digowo ning rumah sakit (Tapi dirinya sudah tidak mau dibawa ke rumah sakit). Sebetulnya yang laporan tidak satu saja. Selain dari Pusat Peranserta Masyarakat, Sumari dari FAKLIRA juga memasukkan laporan,”  jelas Rudito Suryawan melalui sambungan selulernya.
Rudito mengungkapkan bahwa dalam menyikapi segala kasus sebetulnya ada persoalan yang dilematis, antara perikemanusiaan dan penegakan hukum atau aturan.
“Tapi apapun, peri kemanusiaan kan harus tetap jalan. Namun kadang-kadang dikesampingkan. Saya ingin penegakan hukum. Gitu aja. Perikemanusiaan itu soal lain. Karena hukum kan tidak mengenal azas kepatutan. Apakah orang tersebut sudah tua, atau penyakitan. Kalau salah ya salah. Kan gitu,” terangnya.
Jenasah tiba di rumah duka Senin (29/10) pukul 10.00 WIB. Kemudian diberangkatkan untuk disholatkan di masjid pukul 12.50 WIB dan diberangkatkan ke makam desa pukul 13.15 WIB. Tampak Wakil Bupati Arief Rohman beserta jajaran Forkompimcam turut melayat. (*)
Facebook Comments