HomeEkonomi BisnisKawasan Tambang Minyak Ledok Tampak Asri, Peserta Studi Banding Timor Leste Tercengang

Kawasan Tambang Minyak Ledok Tampak Asri, Peserta Studi Banding Timor Leste Tercengang

0 0 likes

Bagikan

kabarblora.com – Dalam studi banding ke Indonesia terkait pengelolaan sumber daya minyak dan gas (Migas) di hari pertama, 11 (sebelas) orang perwakilan dari Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) yang terdiri dari Staf Pemerintah Timor Leste dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengadakan kunjungan di Ledok, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, Pada Senin (11/03/2019).

Saat melakukan studi lapangan sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan dipandu langsung oleh Direktur Utama (Dirut) Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Blora Patra Energi (BPE) Christian Prasetya, Dirut BUMD PT Blora Patragas Hulu (BPH) Imam Mukhyar dan Komunitas Jelajah Blora.

“Di Ledok sendiri, total jumlah penambang sekitar 400 orang. Sumur yang aktif produksi ada 125, sedang yang tidak aktif ada 71 sumur dengan pengiriman crude oil (minyak mentah) kurang lebih 8 tangki per harinya. Ya, saya itu penginnya cerita tentang kutukan migas tidak ada di Blora,” kata Christian Prasetya, Direktur Utama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Blora Patra Energi (BPE) saat ditemui kabarblora.com di lokasi sumur LDK 204, Senin (11/03/2019) siang.

Di sisi lain, rombongan yang terdiri dari berbagai elemen di Timor Leste cukup antusias mendengarkan penjelasan dari Christian Prasetya, Dirut BUMD PT Blora Patra Energi terkait dengan pengelolaan pertambangan minyak di Ledok.

“Kita sangat interest. Ya, kita sangat tertarik dalam studi ini. Kita bisa melihat pertambangan tradisional dan pertambangan modern pemerintah (Pertamina) yang letaknya bersebelahan. Ini sangat menarik,” kata Lucio J Savio, Inclusive Development Program Manager dari OXFAM.

Menurut Lucio, dengan populasi 1,3 juta penduduk, pengembangan ladang migas di Timor Leste sangat penting. Dikatakannya, sejak 2005 di Timor Leste melakukan pengelolaan ladang gas Bayu Undan. Ladang gas ini menjadi salah satu pendapatan bagi pemerintah Timor Leste. Namun tahun 2022 nanti diperkirakan kandungannya akan habis dan tidak ekonomis lagi. Selain Bayu Undan, ada ladang migas lain bernama Greater Sunrise di Laut Timor yang sekarang lagi proses pembangunan.

“Kita juga tadi sempat sharing dengan Pak Christian (Dirut BPE), tentang bagaimana hasil dari pertambangan minyak di sini sebesar 0,5 persennya diberikan kepada masyarakat Desa Ledok. Karena di Timor Leste, kita belum ada sistem kayak gini. Di sana pemerintah lokal juga belum berfungsi dengan baik. Jadi studi lapangan ini sangat membantu teman-teman. Nanti akan kita pelajari. Rencana kita balik, kita tulis reportase, kita adakan seminar tentang pengalaman ini dan membuat rekomendasi untuk Pemerintah Timor Leste,” ujarnya.

Lanjut Lucio, asumsi sebagian besar masyarakat tentang eksploitasi migas adalah dampak terhadap rusaknya lingkungan yang sangat besar. Tapi, dirinya tercengang setelah beserta rekan-rekan Timor Leste melihat sendiri lingkungan yang ada di Ledok ternyata tetap hijau dan asri jauh dari degradasi keanekaragaman hayati yang dibayangkan.

“Secara kasat mata, di sekitar area pertambangan itu tadi kita lihat sangat hijau. Malah ada kebun jagung juga di sana. Efek lingkungannya tidak terlalu negatif. Itu juga sangat menarik buat kita,” tuturnya.

Harapannya, ada studi yang lebih komprehensif lagi terkait dengan pengelolaan migas yang ada di Blora untuk mempersiapkan pengelolaan potensi migas yang lebih baik di Timor Leste.

“Mungkin baiknya ada studi lanjutan yang lebih mendalam dan spesifik lagi, seperti difasilitasi dari pihak pemerintah atau parlemen Timor Leste. Sehingga kawan-kawan bisa datang dan melihat lebih dalam lagi. Soalnya ada beberapa ladang migas di Timor Leste. Untuk cara pengolahannya bisa dipelajari dari ladang migas di Blora ini,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments