HomeEkonomi BisnisKering Kerontang, Program Seribu Embung Pemerintah Dinilai Gagal

Kering Kerontang, Program Seribu Embung Pemerintah Dinilai Gagal

0 0 likes

Bagikan

kabarblora.com – Program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berencana membangun seribu embung untuk menghadapi kekeringan panjang dan mengantisipasi krisis air yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir dinilai warga tidak berhasil. Seperti halnya Embung Tegaldowo Rembang yang memiliki luasan sekitar 1,3 hektar dengan memanfaatkan tanah bengkok desa, yang penggarapannya secara penuh menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Semen Indonesia yang saat ini dalam kondisi kering.

Ketua Fraksi PPP yang juga anggota Komisi D DPRD Jateng dan Ketua Pansus Revisi Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jateng, H. Abdul Aziz, S.Ag., M.Si saat dihubungi wartawan menuturkan bahwa revisi RPJMD Jateng tahun 2016 memang bertujuan memasukkan program seribu embung tersebut.

“Secara teknis, saat ini memang banyak sekali embung-embung skala kecil yang mengalami kekeringan. Wong sungai saja pada kering karena sumber airnya nggak ada, akibat gundulnya hutan kita sejak 20 tahun terakhir ini,” kata Abdul Aziz, Kamis (18/10) siang.

Menurut politisi Partai Persatuan Pembangunan Pembangunan (PPP) dari Lasem ini, skala embung seperti Embung Tegaldowo, hanya digunakan untuk penyangga panen kedua setelah musim hujan selesai. Untuk penanganan kekeringan yang ada tidak lain adalah dengan melakukan penghijauan kembali daerah di sekitarnya.

“Iya, maka reboisasi besar-besaran harus dilakukan,” ujarnya.

Saat ini, pembangunan proyek embung di Jawa Tengah mendapat sorotan dari banyak pihak lantaran tidak sesuai harapan masyarakat. Data dari Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu SKPD di bawah Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah menyebutkan bahwa progress pembangunan embung sampai dengan 2017 oleh pengelola sumber daya air total embung sejumlah 1.087.

Seperti halnya embung yang berada di Desa Tegaldowo, yang merupakan salah satu desa yang masuk ring I pabrik PT Semen Indonesia di Rembang, selain Desa Timbrangan, Pasucen, dan Kajar di Kecamatan Gunem, serta Desa Kadiwono di Kecamatan Bulu. Keberadaan Embung Tegaldowo di Desa Tegaldowo Rembang, yang selesai dibangun pada Desember 2016 lalu oleh PT Semen Indonesia yang awalnya sangat diharapkan masyarakat membantu mengatasi kekeringan dan kesulitan air di musim kemarau seperti sekarang ini kondisinya sangat memprihatinkan.

Abdullah, petani Desa Tegaldowo yang rumahnya hanya berjarak sekitar 300 meteran dari embung malah mengatakan bahwa sudah sejak dari awal tebakannya tidak meleset, bahwa akhirnya embung yang dibangun sedalam kurang lebih 6 meteran itu tidak akan terpakai.

“Gagal. Njerone isine mung lemah, Mas, wis resik ora enek banyune. Padahal dhuwure kurang luwih 6 meter. Kawit awal nggawe embung biyen wis tak tebak, yen akhire bakal ora kanggo. Yen misale kanggo pertanian, sak ngertiku yo ora tau ono sing nggunakno (Gagal. Dalamnya isinya hanya tanah, Mas, sudah bersih tidak ada airnya. Padahal tingginya kurang lebih 6 meter. Sudah mulai awal buat embung dulu sudah tak tebak, kalau akhirnya bakal tidak terpakai. Kalau semisal buat pertanian, setahuku juga tidak pernah ada yang menggunakan).

Lanjut Dullah, panggilan akrabnya, program seribu embung di Jawa Tengah tersebut sebetulnya bagus, tapi menurutnya jangan sampai merampas lahan-lahan produktif yang bisa mencukupi kebutuhan pangan. Yang terpenting lagi adalah jangan sampai membangun embung namun malah memunculkan persoalan baru. Satu contoh Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih di Rembang yang merupakan daerah resapan air malah ditambang dan dibuat embung.

“Embung itu kan hanya tempat air dan bukan resapan. Jadi jangan sampai logikanya terbolak-balik. Ini bahaya. Apalagi masyarakat sini juga was-was semenjak dibangunnya embung Tegaldowo ini. Sudah memakan tiga nyawa orang karena tenggelam di situ lho,” pungkasnya.

Sampai berita ini diturunkan, Kepala Desa Tegaldowo, Suntono tidak bisa dihubungi. (*)

 

Facebook Comments