HomePolitikKonstelasi Politik Blora Pasca Pileg 2019

Konstelasi Politik Blora Pasca Pileg 2019

kabarblora.com – Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 di Blora memunculkan dua pendulum kekuatan baru, yaitu PKB dan NASDEM. Keduanya berhasil memaksimalkan resources politik untuk mendulang suara sehingga perolehannya melampaui pileg sebelumnya.

Unsur Bupati dan Wakil Bupati menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Tetapi persaingan politik di grass root tentu tidak sesederhana itu. PKB misalnya harus bersaing memperebutkan suara dari ceruk NU bersaing dengan rival tradisionalisnya PPP. Sementara Nasdem harus bertarung memperebutkan suara dari pemilih nasionalis yang secara tradisional di Blora dikuasai oleh PDIP, Golkar, dan Demokrat.

Apapun hasilnya sekarang, dinamika politik akan dan telah bergeser ke ruang parlemen untuk pembentukan fraksi dan nantinya sedikit banyak akan ber-irisan juga dengan dinamika politik lain yang sangat krusial, yaitu Pemilihan Bupati (Pilbup).

Waktu dan penciptaan momentum merupakan unsur penting dalam politik untuk memproyeksikan strategi di masa depan. Siapa yang paling siap dan mampu membaca arah dan situasi di masa depan, merekalah yang akan keluar sebagai pemenang. Merebut dan memenangkan momentum tidak selalu paralel dengan besar kecilnya partai politik, termasuk di Blora.

Terbukti selama dua dasawarsa, partai pemenang pemilu di Blora tidak sanggup mendudukkan calonnya sebagai Bupati. Fakta berikutnya adalah kombinasi Nasionalis-Religius menjadi menjadi trend politik Blora sudah mengalami dalam dua periode sebelumnya dan sepertinya masih menjadi komposisi yang relevan.

Dalam konteks Blora maka bagaimanakah kiprah PKB dan Nasdem paling menarik untuk dicermati.

Sebagai partai pemenang PKB tentu layak untuk mengajukan calon Bupati (Cabup) dan jika Nasdem berbesar hati di posisi Calon Wakil Bupati (Cawabup), maka peluang untuk memenangkan Pilbup jika kedua partai tersebut berkoalisi sangat besar. Apalagi secara popularitas tentu saja para patron di kedua partai tersebut lebih populer. Tetapi  komposisi itu bisa berubah manakala ada partai atau koalisi partai yang bergabung dengan Nasdem untuk mendukung calon Bupati dari Nasdem.

Jika dirunut akar koalisi di level pusat maka ada kemungkinan Golkar dan Hanura bisa melakukannya berangkat dari asumsi sebagai partai yang berpengalaman tentu mereka tidak akan melewatkan momentum krusial untuk membesarkan pengaruh partai mereka begitu saja.

Jika ini terjadi maka koalisi tiga partai ini akan sanggup memberikan tekanan kepada PKB apakah tetap berkoalisi dengan Nasdem yang disokong oleh Golkar dan Hanura yang juga mengajukan Cabup nya.

Jika PKB dan Nasdem saling berhadapan maka kontestasinya akan lebih menantang. Terutama untuk mempertahankan formula Nasionalis-Religius, maka PKB bisa saja mendekati PDIP dan Nasdem akan mencari pasangan dari kekuatan politik partai-partai Islam atau bisa juga dari ormas Islam seperti NU yang berpotensi menyusutkan dan menggerus pengaruh PKB di ormas tersebut.

Membahas tentang Politik Blora kedepan, Formula koalisi perlu dibangun sejak awal karena tokoh yang akan diusung harus terlebih dahulu dikenal oleh publik.

Jika mempergunakan waktu yang disediakan KPU beserta alat peraga kampanye tentu tidak cukup, sehingga mulai saat ini tokoh-tokoh tersebut harus sudah dimunculkan di ruang publik. Semakin lama durasi waktu pengenalan calon semakin baik karena publik punya waktu yang cukup untuk membedah track recordnya.