HomeNasionalLafran Pane: Kiprah HMI Sampai Blora

Lafran Pane: Kiprah HMI Sampai Blora

Nasional Tokoh 1 0 likes 1.3K views share

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi mahasiswa tertua dan terbesar sampai Kabupaten Blora di usia 59 tahun 2006

Perkaderan HMI Blora di Desa Bacem Kec. Jepon Kab. Blora Periode II  Kepengurusan Ahmad Anam As shiddiq (Foto: Dokumentasi HMI Blora ’08/’09)

Sepanjang usianya keberadaan HMI di Blora, di awali Kepengurusan tahun 2006 Oleh Andyka Fuad Ibrahim, Kepengurusan 2008 Oleh Ahmad Anam As shiddiq, Kepengurusan 2010 Oleh Sugiono, HMI kiprah tuntasnya tak lagi terdengar kembali akan posisi, peran, keberadaannya di Blora.

Menurut Andyka Fuad Ibrahim dan para KAHMI asli dari HMI Perkaderan Blora, terakhir kepengurusan 2012 setelah Sugiono, HMI Blora kepengurusannya dipegang oleh Sampurno.

“Berdirinya HMI Blora tahun 2006 dulu di prakarsai oleh Ir. M. armas djaja, Beliau adalah Perintis pertama (Babat alas) di Kabupaten Blora. Dan Saya adalah bagian Perkaderan pertama di Blora”. ungkap Andyka menceritakan tentang HMI Blora.

Ia juga Menambahkan terkait organisasi HMI adalah organisasi kader yg mempunyai komitmen akan keislaman-keindonesiaan. Dengan dikukuhkannya Lafran pane sebagai pahlawan nasional, ini menjadi momentum bangkitnya HMI Blora.

KAHMI Blora

Bersyukur hingga kini biarpun HMI di Blora kepengurusannya belum aktif kembali namun kepedulian KAHMI (Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) masih selalu berupaya bersatu untuk menata kembali.

Organisasi HMI telah melahirkan begitu banyak intelektual, pemimpin politik, aktivis sosial, birokrat, pengusaha, dan kaum profesional lainnya di Indonesia.

Sejarah HMI menjadi berharga karena dukungannya secara terus-menerus terhadap perkembangan bangsa Indonesia. Figur-figur besar seperti Ahmad Dahlan Ranuwihardjo, Nurcholish Madjid, Akbar tanjung, Jusuf kalla atau para syahid seperti Ahmad Wahib dan Munir, adalah telaga hikmah yang menyediakan teladan bagi kita untuk terus menyegarkan semangat dalam berjuang bagi kemajuan masyarakat.

Selain Figur – Figur tersebut, ada 1 figur pendiri HMI Lafran Pane. Di informasikan di berbagai sumber media diantaranya :

http://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/11/06/oyz2oo385-gema-takbir-iringi-penetapan-lafran-pane-sebagai-pahlawan-nasional#

https://m.timesindonesia.co.id/read/160520/20171106/205350/pendiri-hmi-jadi-pahlawan-nasional-begini-detikdetik-pengangkatannya/#!-_

Almarhum Prof. Lafran pane di Kongres HMI ke 18 (Foto : Dokumentasi PB HMI)

Lafran Pane (Foto : Dokumentasi PB HMI)

Lafran Pane ditetapkan sebagai pahlawan nasional karena peran besar almarhum dalam pusaran sejarah bangsa. penetapan pahlawan ini merupakan kado munas medan yg akan diselenggarakan tgl 17 November 2017 s.d 19 November 2017.

Sepintas tentang Prof. Lafran Pane, beliau lahir di kampung Pagurabaan, Kecamatan Sipirok, yang terletak di kaki gunung Sibual-Buali, 38 kilometer kearah utara dari Padang Sidempuan, Ibu kota kabupaten Tapanuli Selatan. Pak Lafran Pane merupakan tokoh prakarsa dan pendiri organisasi HMI. Sebagaimana ditetapkan pada Kongres XI HMI tahun 1974 di Bogor.

Menurut berbagai informasi, sebenarnya Prof.Lafran Pane lahir di Padangsidempuan 5 Februari 1922. Untuk menghindari berbagai macam tafsiran, karena bertepatan dengan berdirinya HMI Lafran Pane mengubah tanggal lahirnya menjadi 12 April 1923.

Sebelum tamat dari STI Lafran pindah ke Akademi Ilmu Politik (AIP) pada bulan April 1948. Setelah Universitas Gajah Mada (UGM) dinegerikan tanggal 19 desember 1949, dan AIP dimasukkan dalam fakultas Hukum, ekonomi, sosial politik (HESP).

Dalam sejarah Universitas Gajah Mada (UGM), Lafran termasuk dalam mahasiswa-mahasiswa yang pertama mencapai gelar sarjana, yaitu tanggal 26 januari 1953. Dengan sendirinya Drs. Lafran pane menjadi Sarjana Ilmu Politik yang pertama di Indonesia. Mengenai Lafran Pane, Sujoko Prasodjo dalam sebuah artikelnya di majalah Media nomor : 7 Thn. III. Rajab 1376 H/ Februari 1957, menuliskan :

Sesungguhnya, tahun-tahun permulaan riwayat HMI adalah hampir identik dengan sebagian kehidupan Lafran Pane sendiri. Karena dialah yang punya andil terbanyak pada mula kelahiran HMI, kalau tidak boleh kita katakan sebagai tokoh pendiri utamanya”.

Semasa di STI inilah Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (hari rabu pon, 14 Rabiul Awal 1366 H /5 Februari 1947 pukul 16.00). HMI merupakan organisasi mahasiswa yang berlabelkan “islam” pertama di Indonesia dengan dua tujuan dasar. Pertama, Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Dua tujuan inilah yang kelak menjadi pondasi dasar gerakan HMI sebagai organisasi maupun individu-individu yang pernah dikader di HMI. Inilah yang menjadi filosofi berfikir semua kader HMI diseluruh dunia, yaitu KeIndonesiaan dan KeIslaman.

Jika dinilai dari perspektif hari ini, pandangan nasionalistik rumusan tujuan tersebut barangkali tidak tampak luar biasa. Namun jika dinilai dari standar tujuan organisasi-organisasi Islam pada masa itu, tujuan nasionalistik HMI itu memberikan sebuah pengakuan bahwa Islam dan Keindonesiaan tidaklah berlawanan, tetapi berjalin berkelindan. Dengan kata lain Islam harus mampu beradaptasi dengan Indonesia, bukan sebaliknya.

Dalam rangka mensosialisasikan gagasan keislaman-keindonesiaanya. Pada Kongres Muslimin Indonesia (KMI) 20-25 Desember 1949 di Jogjakarta yang dihadiri oleh 185 organisasi alim ulama dan Intelegensia seluruh Indonesia, Lafran Pane menulis sebuah artikel dalam pedoman lengkap kongres KMI (Yogyakarta, Panitia Pusat KMI Bagian Penerangan, 1949, hal 56). Artikel tersebut berjudul “Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia”.

Dalam tulisan tersebut Lafran membagi masyarakat islam menjadi 4 kelompok. Pertama, golongan awam , yaitu mereka yang mengamalkan ajaran islam itu sebagai kewajiban yang diadatkan seperti upacara kawin, mati dan selamatan. Kedua, golongan alim ulama dan pengikut-pengikutnya yang ingin agama islam dipraktekan sesuai dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ketiga, golongan alim ulama dan pengikutnya yang terpengaruh oleh mistik. Pengaruh mistik ini menyebabkan mereka berpandangan bahwa hidup hanyalah untuk akhirat saja. Mereka tidak begitu memikirkan lagi kehidupan dunia (ekonomi, politik, pendidikan). Sedangkan golongan Keempat adalah golongan kecil yang mecoba menyesuaikan diri dengan kemauan zaman, selaras dengan wujud dan hakikat agama Islam. Mereka berusaha, supaya agama itu benar-benar dapat dipraktekan dalam masyarakat Indonesia sekarang ini.

Lafran sendiri meyakini bahwa agama islam dapat memenuhi keperluan-keperluan manusia pada segala waktu dan tempat, artinya dapat menselaraskan diri dengan keadaan dan keperluan masyarakat dimanapun juga. Adanya bermacam-macam bangsa yang berbeda-beda masyarakatnya, yang terganting pada faktor alam, kebiasaan, dan lain-lain. Maka kebudayaan islam dapat diselaraskan dengan masyarakat masing-masing.

Sebagai muslim dan warga Negara Republik Indonesia, Lafran juga menunjukan semangat nasionalismenya. Dalam kesempatan lain, pada pidato pengukuhan Lafran Pane sebagai Guru Besar dalam mata pelajaran Ilmu Tata Negara pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP Yogyakarta (sekarang UNY), kamis 16 Juli 1970, Lafran menyebutkan bahwa Pancasila merupakan hal yang tidak bisa berubah. Pancasila harus dipertahankan sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Namun ia juga tidak menolak beragam pandangan tentang Pancasila, Lafran mengatakan dalam pidatonya:

Saya termasuk orang yang tidak setuju kalau Pemerintah atau MPR mengadakan interprestasi yang tegar mengenai pancasila ini, karena dengan demikian terikatlah pancasila dengan waktu. Biarkan saja setiap golongan mempunyai interpretasi sendiri-sendiri mengenai pancasila ini. Dan interpretasi golongan tersebut mungkin akan berbeda-beda sesuai dengan perkembangan zaman. Adanya interpretasi yang berbeda-beda menunjukan kemampuan pancasila ini untuk selama-lamanya sebagai dasar (filsafat) Negara_ “. (hal.6)

Dari tulisan diatas nampak Lafran sangat terbuka terhadap beragam interpretasi terhadap pancasila, termasuk pada Islam. Islam bertumpu pada ajarannya memiliki semangat dan wawasan modern, baik dalam politik, ekonomi, hukum, demokrasi, moral, etika, sosial maupun egalitarianisme. Egalitarianisme ini adalah faktor yang paling fundamental dalam Islam, semua manusia sama tanpa membedakan warna kulit, ras, status sosial-ekonomi. Wajah islam yang seperti ini selazimnya dapat dibingkai dalam wadah keindonesiaan. Wawasan keislaman dalam wadah keindonesiaan akan sesuai dengan perkembangan waktu dan tempat. Untuk kepentingan manusia kontemporer diseluruh jagat raya ini sebagai rahmatan lil alamin.

Setiap 25 Januari, HMI akan mengenang satu orang: Prof. Drs. H. Lafran Pane. Dia pemrakarsa berdirinya HMI, organisasi yang banyak melahirkan sumber daya manusia (SDM) terbaik di negeri ini, juga punya andil besar terhadap lahirnya proklamasi. Pada 25 Januari 1991, beliau meninggal dunia. Singkat kata, Lafran Pane Layak dijadikan tokoh nasional dan PAHLAWAN NASIONAL.

Keppres pengangkatan Prof. Lafran Pane sebagai Pahlawan nasional telah ditanda tangani Presiden Jokowi bersama dengan pejuang asal Aceh Laksamana Malahayati, gerilyawan laut Sultan Mahmyd Riayat Syah dari Riau , tokoh nasionalis religius asal NTB Tuan Guru Pancor (Muhammad Zainudin Abdul Madjid). Presiden, akan menganugerahi gelar tersebut pada 9 atau 10 November 2017 mendatang di Istana Negara. Apakah juga akan bertambah lagi yang akan di anugerahi Pahlawan Nasional dari 9 orang yang diusulkan Kementerian Sosial tentu sesuatu yang bukan mustahil.

Momentum MUNAS X KAHMI

Munas X KAHMI di Medan ( Hotel Santika) pada anggal 17 s/d 19 November 2017 tentunya berbeda dengan Munas-Munas sebelumnya. Munas kali ini terasa istimewah karena keluarga besar HMI dan para alumninya sedang dalam suasana bersuka cita dan bersyukur kepada Allah SWT, karena pendiri HMI Bapak Prof Lafran Pane mendapatkan anugerah oleh Negara dan Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional.

Momentum tersebut memberikan isyarat kepada para Alumni HMI yang bernaung di KAHMI sebagai langkah awal untuk introspeksi diri apakah kita sudah move on dalam mewujudkan cita-cita “masyarakat adil dan makmur yang di Ridhoi Allah SWT”. Dengan landasan yang kokoh sebagai “insan cita, pengabdi dan bernafaskan Islam”. Punya standar moral, konsisten dan berintegritas sebagaimana telah dicontohkan sebagai Role Model oleh almarhum Prof.Lafran Pane. (Ahmad/TIMKB)

Facebook Comments