HomeNewsMengeksplorasi Folklore Pangeran Jatikusumo dalam Karnaval Peringatan HUT RI ke- 74

Mengeksplorasi Folklore Pangeran Jatikusumo dalam Karnaval Peringatan HUT RI ke- 74

News Pendidikan Sejarah Blora 0 0 likes share

kabarblora.com – Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) ke-74 yang akan datang, bakal dimeriahkan aktivitas karnaval budaya dan pembangunan dari peserta Taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Karnaval itu bakal digelar pada tanggal 19 Agustus 2019 mendatang. Pantauan kabarblora.com, sejumlah sekolah sudah banyak yang menyiapkan berbagai pernak-pernik jauh-jauh hari. Salah satunya adalah SMP Negeri 1 Tunjungan yang terletak di Jl. Gatot Subroto Blora.

Menurut Martana selaku guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), tujuan sekolah membuat pernak-pernik tersebut untuk mereaktualisasikan kembali tradisi, seni dan budaya kedaerahan. Kata dia, agar tokoh Pangeran Jatikusumo tetap eksis dan dapat tertransformasi pada generasi penerus terutama pada siswa SMP Negeri 1 Tunjungan.

“SMP Negeri 1 Tunjungan sebagai salah satu sekolah yang diundang mengangkat folklore Pangeran Jatikusumo yang hingga saat ini petilasan dan peninggalan budayanya masih dapat dijumpai di desa Janjang kecamatan Jiken, Kabupaten Blora,” ujar Martana kepada kabarblora.com, Rabu 7 Agustus 2019.

Dikisahkan tokoh pangeran Jatikusumo yang bakal diperankan para siswanya adalah seorang bangsawan dari Kesultanan Pajang yang diutus oleh Sultan Pajang Pangeran Benowo (1578-1579) ke wilayah Blora untuk mencari pusaka.

“Ketika sampai di hutan janjang, Kecamatan Jiken beliau kemudian bermukim sementara dan bersosialisasi dengan masyarakat sambil berdakwah,” bebernya.

Lebih lanjut disampaikan, pusaka yang dimaksud dalam folklore tersebut adalah bahasa simbolik sebagai sesuatu yang penting bagi kesultanan Pajang. Penemuan pusaka yang dipandang penting karena erat kaitannya dengan konstelasi politik yang masih memanas dengan kerajaan Jipang Panolan yang ada di timur wilayah Blora.

“Bisa ditafsirkan Pangeran Jatikusumo ditugaskan untuk mencari unsur-unsur dan strategi politik yang dapat menyempurnakan integrasi Jipang Panolan ke dalam wilayah kesultanan Pajang,” katanya.

Ditinjau dari unsur ekonomi, lanjut Martana, dapat ditafsirkan bahwa misi Pangeran Jatikusumo bertujuan memberikan data kalkulasi ekonomi wilayah Blora dan sekitarnya guna menguatkan kemampuan ekonomi Kesultanan Pajang pada masa itu. Kata dia, terdapat tiga potensi utama wilayah Blora yang sangat penting sebagai penopang ekonomi.

“Blora itu letaknya cukup strategis di sekitar bengawan Solo. Hutannya yang luas dan potensi lumpur api atau minyak yang disimbolisasi dengan pusaka Brongot Setan Kober (Api Setan yang menyala) milik Aryo Penangsang,” terangnya.

“Agar misi spionase berjalan sempurna maka pangeran Jatikusumo benar- benar menyatu dengan masyarakat lokal,” Martana memungkasi.

Proses integrasi dengan masyarakat lokal itulah yang secara imajinatif dieksplore sebagai tema utama karnaval SMP Negeri 1 Tunjungan. Ditampilkan secara kreatif dalam pernak-pernik rancang busana, rancang bangun maskot wayang krucil dan koreografi tari bakal mengisi acara karnaval HUT RI mendatang.

Bakal Tampilkan Koreografi Gladhen Jaga Desa

Salah satu guru seni tari SMPN 1 Tunjungan, Mimin Suparmi, menyampaikan bahwa akan ada tiga (3) bagian koreografi tari yang dieksplorasi agar bisa sedekat mungkin dengan realitas kultural dan sosial zaman dulu.

Pertama, kisah yang diangkat tentang pelatihan olah keprajuritan oleh Pangeran Jatikusumo kepada para Blandong (pencari kayu di hutan) dan Bocah Angon (para penggembala ternak) yang merupakan dua kelompok masyarakat khas daerah Blora.

Kedua, atribut yang dikenakan para penari juga merupakan atribut khas dua kelompok profesi tersebut. Para Blandong misalnya membawa Perkul (kapak kecil) dan Dadung (tali dari).

“Untuk yang penampilan bocah angon menggunakan atribut khas berupa Kemanak (penutup mulut sapi), Pecut (cambuk), dan Sabet (bilah) bambu untuk menggiring bebek. Sebagian atribut tersebut sekarang sudah tidak dikenali lagi oleh generasi sekarang sehingga sangat urgen untuk direaktualisasikan kembali.” Pungkas Mimin diakhir wawancara.

Facebook Comments