HomeNasionalMengenal Gus Dur dalam Kilas Ingatan “Bapak Pluralisme”

Mengenal Gus Dur dalam Kilas Ingatan “Bapak Pluralisme”

Nasional Suara Warga Tokoh 0 0 likes 1.4K views share

kabarblora.com – Warga Blora yang notabenenya (mayoritas) adalah warga NU, kembali yang perlu kita kilas balik adalah Tokoh Pluralisme KH Abdurrachman Wahid (Gus Dur), Tepat Sewindu (30/12) telah pergi (Wafat).

Beliau sosok yang menjadi figure Indonesia berdamai telah mendunia dan terkenal  disegala penjuru. Gus Dur tidak berfikir bagaimana layaknya sebagai orang Indonesia namun malah berfikir bagaimana umumnya pemikiran manusia bisa berkembang sesuai dengan kodrat kemanusiaannya, inilah yang sampai sekarang menjadi pembicaraan orang banyak betapa Gus Dur begitu dicintai dan dielu-elukan sedemikian rupa berkat pluralisme dan perdamaian yang beliau gagas baik dalam hal pemikiran maupun praktis berkehidupan.

Menurut Zulfikar Akbar (mantan wartawan Top Score) dalam akun twitternya @zoelfick menyampaikan pendapatnya tentang sosok Gus Dur

 

Kehilangan sosoknya merupakan kesedihan mendalam bagi warga Indonesia pada umumnya dan warga muslim NU khususnya, kilas balik kehadirannya menyimpulkan senyum di tiap wajah hadirin karena kelakar segar dan cerdas itu, tak ayal gelombang dukungan kepada almarhum untuk dijadikan pahlawan nasional sangat gencar di utarakan. Dengan begitu kita akan sedikit banyak akan tahu kiprah dan dasar apa yang membuat Gus Dur berpikiran seperti itu, adakah memang telah bakatnya sejak kecil ataukah sebab wacana yang terambil saat kuliah di (timur tengah) Al Azhar Kairo Mesir. Berbagai pendapat dan komentar tentang beliau menjadi gurita yang merasuk tiap kaum minoritas, dan dukungan Gus Dur terhadap pribumisasi islam kian kental dan mendamaikan hati tiap pemeluk islam maupun bukan.

Menurut ulama, ciri pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang memiliki jiwa humoris. Dengan memiliki jiwa humoris, pemimpin yang dikritik dalam bentuk apapun tidak cepat marah.

Seperti halnya Gus Dur ketika dipaksa mundur dari kursi presiden, maka dengan santai dia keluar dari istana mengenakan celana pendek. Menurut netizen gusdur.net, sikap tersebut merupakan bagian dari humoris seorang Gus Dur.

Gus Dur tidak hanya seorang tokoh agama yang pluralis, tapi dia juga pemikir yang jenius, dan brilian. Tidak jarang bahkan pemikirannya mendahului zamannya. Konsep pluralisme yang dimiliki Gus Dur, tidak hanya menjadi bagian penting dalam menjalin toleransi antarumat beragama, tapi juga menjadi bagian dari sejarah untuk menghilangkan sekat-sekat yang ada selama ini. Gus Dur pada intinya inginkan masyarakat Indonesia lebih demokratis, dan lebih toleran.

Sementara itu, Gus Dur dalam pidatonya mengatakan pluralisme yang menjadi isi buku dan roh dirinya diambil dari keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) pada 1935. Muktamar memutuskan menjalankan syariat Islam tapi tidak perlu negara Islam di Indonesia. Keputusan tersebut lahir dari pemikiran kakeknya KH Hasyim Asy’ari dan bapaknya KH Wahid Hasyim yang melihat Indonesia sebagai negara plural. Sampai saat ini tokoh-tokoh Islam sebagian besar menolak Negara Islam. Gus Dur sangat menolak peraturan daerah berdasarkan syariah Islam yang mulai menyebar di Indonesia. Buku ‘Islamku,  Islam Anda,  Islam Kita’ telah diminta untuk dialih bahasakan ke tujuh bahasa yaitu Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, Jepang, Korea, dan China.Buku Gus Dur, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang telah diluncurkan merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL). Materi lengsernya Gus Dur dan lain-lain itu diambil dari salah satu judul tulisan Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Judul tulisan itu sebenarnya menggambarkan pusaran utama keseluruhan pemikiran Gus Dur yang ada di dalam buku itu. Kalau dilihat mendetail, memang banyak sekali hal-hal yang dibicarakan Gus Dur, sejak soal Islam dan ketatanegaraan, sampai responnya terhadap masalah-masalah kontemporer seperti kasus Inul dan problem ekonomi global.

Buah pikirannya bukan hanya diwacanakan dalam bentuk tulisan lalu diseminarkan dan lain sebagainya. tapi juga diwujudkannya dengan aksi. Lihatnya bagaimana kukuhnya Gus Dur berpegang pada prinsip anti-diskriminasi. Bukan hanya menulis, dia benar-benar memperjuangkan prinsip itu dalam aksi nyata. Juga konsistensinya dalam pembelaan terhadap pluralitas. Dia tetap melakukan itu meski dianggap kerja yang tidak populer dan dipandang kontroversial. Tapi dia tetap lakukan pembelaan. Dalam soal pembelaan atas pluralitas, saya tidak pernah melihat orang sekonsisten Gus Dur.

Aktivismenya juga merupakan cerminan dari apa yang ia pikirkan. pertama-tama melihat Gus Dur sebagai sosok santri, dan santri itu dididik berpikir secara plural oleh tradisi fikih. Sebab, tak mungkin ada pandangan yang tunggal di dalam fikih. Karena itu, orang yang ahli fikih seperti Gus Dur, tak mungkin menganut satu konsep kebenaran absolut. Itulah  yang pertama kali mendidik Gus Dur untuk tidak memutlakkan pandangannya sendiri. Di samping fikih, dia juga banyak belajar ilmu-ilmu lain seperti sosiologi, antropologi, dan filsafat. Dia juga pembaca sastra yang baik. Karena itu, perhatian Gus Dur terhadap ilmu pengetahuan amatlah luas. (timkb)

Facebook Comments