HomeSuara WargaMenggali Blora Jiwa Nusantara “Belajar dari Masa Lalu Untuk Masa Depan”

Menggali Blora Jiwa Nusantara “Belajar dari Masa Lalu Untuk Masa Depan”

Suara Warga 0 0 likes 1.1K views share

kabarblora.com – Beberapa hari yang lalu tepatnya pada Selasa Kliwon, 11 Desember 2018 Kabupaten Blora yang kita cintai ini memperingati hari jadi yang ke-269 bertemakan “BLORA JIWA NUSANTARA”.

Susunan acara telah dilaksanakan, semenjak 4 desember dan terakhir pada 14 desember 2018. Jargon ini mulai di unggah di salah satu Fanspage jejaring media sosial semenjak 28 November 2018 ramai menjadi bahan pembicaraan di dunia maya.

Bila kita searching di internet menuliskan “Blora Jiwa Nusantara” kemudian menggunakan sistem pencari yang di sediakan beberapa situs, maka dengan sendirinya akan banyak postingan yang mengunggah dan membicarakan tentang jargon/ tema tersebut.

Ada keunikan tersendiri dalam peringatan tahunan kali ini. Tema “Blora Jiwa Nusantara” Pemkab Blora dengan mantap mengangkat tema yang di anggap sesuatu yang tidak main-main bagi sebagian kalangan masyarakat (termasuk penulis) khususnya mereka yang concern dan mempelajari sejarah Kejayaan Nusantara pada masanya itu, baik melalui cerita mulut ke mulut maupun melalui catatan-catatan yang dengan mudah dapat kita temui di dunia maya.

Dengan mengingat nama ‘Nusantara’ membawa penulis kembali ke masa lalu, membawa untuk mengingat dan mencari catatan-catatan Kejayaan ‘Nusantara’ pada sejarah massa kejayaan di era Majapahit.

Di era Majapahit, ada Gajah Mada dan Hayam wuruk nama yang paling sering di sebut-sebut sebagai Mahapatih dan Raja yang membawa era keemasan. Wilayahnya meliputi sebagian besar asia tenggara, bahkan juga ada yang menyebutkan wilayah ekspansinya sampai dengan Eropa. Kekuasaan yang bertahan hingga 3 abad ini adalah contoh gambaran kejayaan yang mungkin bisa kita bayangkan di jaman sekarang ini. Bagaimana tidak, karena kekuasaanya yang bertahan 3 abad adalah pencapaian yang luar biasa untuk monarchy yang membawahi bermacam-macam suku bangsa yang ada di wilayah Nusantara (1293-1527M/Sumber, Wikipedia).

Walaupun jejak fisik peninggalannya sudah tidak terlihat sebagai gambaran untuk kerajaan yang begitu besarnya, tetap membuat masyarakat Indonesia kagum dan bangga akan keagungan era Majapahit.

Kendakipun jejak fisik tidak terlalu kuat, namun masih ada serat yang menjadi rujukan pengkajian sejarawan untuk menelusuri jejak nenek moyang mereka seperti Pararaton, Kakawin juga Negarakertagama.

Sebagian besar masyarakat Indonesia sudah percaya dan yakin bahwa nenek moyang mereka pernah mencapai kejayaan yang juga di sertai kemakmuran yang luarbiasa bagi rakyatnya di jaman Majapahit.

Menurut salah seorang Kabag Umum Pemkab Blora Ngaliman, SP., MMA. dalam paparannya yang di hubungi Via WA menuliskan “Dari Tema Blora Jiwa Nusantara, menyiratkan bahwa Blora memberikan contoh Kebhinekaan yang ada di daerah menjadi dasar untuk tetap menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Dalam paparan tersebut membawa penulis pada sebuah Buku yang berjudul: “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”.

Buku tersebut menceritakan kehidupan kota (dalam artian Indonesia) telah membawa perubahan terhadap kehidupan masyarakat. Dimana kehidupan Desa yang di indentikkan sebagai masyarakat Komunal dengan menjunjung tinggi hubungan sosial kemasyarakatan. Mengalami perubahan dalam lingkup sosialnya yang menjadi individual yang membuat mereka mengalami perubahan dalam sosialnya.

Karena terbawa arus modernisasi yang juga di kisahkan sebaliknya jika dalam suatu desa yang tidak dipengaruhi perjalanan Indonesia mungkin tidak akan mengalami perubahan atau misal dalam suatu peta jika desa tersebut tidak masuk dalam Peta wilayah Indonesia, mungkin hanya akan sekedar meninggalkan titik yang sangat kecil yang mungkin bila di baca tandanya hanya bertuliskan “Luar Negeri”.

“Semoga tidak hanya menjadi euforia sesaat saja, tapi dapat menjadi komitmen bersama baik jajaran pemerintah maupun kedinasan untuk menjadi Blora yang Lebih baik”, papar salah seorang yang sering melaksanakan kegiatan rutinan di pelataran Sasana Bhakti yang juga concern terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat baik nasional maupun lingkup Blora sendiri.

Bagi kita masyarakat yang sudah mengenal agama dan mengetahui bahwasanya ada kehidupan setelah kematian di dunia. Ada yang disebut dengan istilah “Merdesa”, dimana dalam teori ini kita di arahkan untuk menjalani kehidupan yang selaras. Selaras antara kerohanian dengan sosial kemasyarakatan juga sosial dengan dengan lingkungan dalam menjalani kehidupan.

Selaras yaitu; bejalan seimbang sejajar sebagai makhluk nya sang pencipta. sehingga menimbulkan kesadaran untuk tidak melukai menyakiti sebagai sesama nya. Dimana dalam lingkungan tersebut di ajarkan untuk menjalankan prinsip kehidupan sendiri yang memiliki kesadaran tidak tergantung akan arus modernisasi. Yang mana pada sudut pandang selain dapat merubah masyarakat komunal menjadi individual, juga lebih menuju kepada materialisme. Materialisme mengarah pada cara pandang yang terukur pada kepuasan akan materi. Dimana materi dan kepuasan tidak akan ada habisnya.

Dalam potensi Sumberdaya yang ada di wilayah Blora baik itu SDA maupun SDM, Bukanlah hal yang tidak mungkin Blora mencapai seperti apa yang dibahas ini. Dari sisi SDA selain kekayaan bawah tanah yang luar biasa, Blora juga sebenarnya memiliki potensi yang lain baik di Hortikultura maupun Peternakan. Walaupun didominasi dengan sawah tadah hujan, rekayasa enginering yang baik semestinya bisa di gunakan untuk menutupi kekurangan kebutuhan air pada lahan yang ada di Blora karena sinar matahari yang jarang tertutup awan kecuali saat musim hujan merupakan modal utama yang besar untuk mencapainya.

mengutib informasi dari salah satu situs yang di kelola Dinas pertanian dan ketahanan pangan Blora. Beberapa event yang berhubungan dengan ketahanan pengan telah berhasil di laksanakan dan bahkan mendapat nilai positif dari jajaran terkait. Selain itu juga menyebutkan bahwa Blora mengalami surplus beras sebnyak 70% dari kebutuhan lokal yang hanya sekitar 30%. Bahkan di gadang-gadang Blora bisa menjadi lumbung padi Jawa tengah.

Dari sisi SDM tenaga kerja dari Blora banyak di kenal sebagai sosok yang ulet yang bahkan banyak dari tenaga kerja Blora yang menempati posisi-posisi penting dalam suatu struktur managemen perusahaan. Menggambarkan kemampuan SDM dari Blora yang begitu berkualitas. Dengan modal SDM dan SDA yang begitu kayanya ini lah sisi lain Potensi Blora yang perlu lebih di gali lagi. Tinggal bagaimana peran jajaran tokoh masyarakat maupun instansi kepemerintahan dan kedinasan terkait untuk bekerja sama bersama seluruh elemen masyarakat memaksimalkan potensi yang ada agar tidak hanya tergantung dari hasil bawah tanah maupun Jati yang belum tentu secara langsung dapat di nikmati seluruh masyarakat yang ada di tanah Blora ini.

Sejalan dengan Tema “Blora Jiwa Nusantara” untuk menjadikan Blora ke arah yang lebih baik. Juga selaras dengan Moto “Cacana Jaya Kerta Bhumi” yang berarti kedamaian ketentraman kemakmuran daerah. Maka untuk mencapainya perlu usaha bersama dari seluruh eleman masyarakat Blora sendiri baik dari sisi hubungan kemasyarakatan yang harmonis dan di dampingi pemerintahan yang sepenuhnya bekerja untuk kepentingan rakyat.

Mudah-mudahan apa yang telah di cita-citakan para leluhur dan semangat Blora Jiwa Nusantara dapat membawa Blora mencapai “Cacana Jaya Kerta Bhumi”. (Rif)

[poll id=”4″]