HomePolitikMenuju Pilkada Blora; Poster-Poster yang Kontradiktif

Menuju Pilkada Blora; Poster-Poster yang Kontradiktif

Politik Suara Warga 0 0 likes share

kabarblora.com – Ratusan bahkan mungkin ribuan poster beberapa tokoh mulai semarak di segala penjuru wilayah Blora. Ditengarai sebagai langkah awal untuk memperkenalkan diri sebagai rangkaian dalam kandidasi dan kontestasi untuk Pilkada serentak tahun 2020. Poster politisi kawakan, Abu Nafi, dan Bambang Susilo paling mendominasi.

Strategi mempublikasikan diri sejak awal merupakan langkah yang rasional karena tenggang waktu masa kampanye yang ditetapkan hanya 71 hari tentu sangat tidak cukup terutama bagi non incumbent.

Sekadar mengenalkan diri pada publik saja tidak cukup apalagi sampai pengenalan visi dan misi. Apalagi dengan pertimbangan wilayah Blora yang luas dan berpencar-pencar, tingkat akses publik pada model kampanye lewat internet yang belum terukur intensitasnya dan tentu saja asumsi masih ada sejumlah besar pemilih di Blora tidak mengakses internet terutama golongan tua di daerah pedesaan dengan tingkat pendidikan yang kurang memadai maka penggunaan poster masih mempunyai relevansi dan rasionalitas.

Tetapi ada yang luput dari perhatian dalam pembuatan poster-poster tersebut sehingga menciptakan kontradiksi antara tujuan poster dengan efektivitas pengaruhnya untuk menjaring dukungan.

Setidaknya jika dikaitkan dengan kemampuan untuk memperluas spektrum pengaruh poster, kemampuan daya beda untuk menciptakan segmentasi diantara para kandidat nantinya dan keterbacaan kwalitas kandidat. Padahal ketiga faktor tersebut mempunyai signifikansi dalam perebutan suara pemilih yang berusaha dibidik melalui pemasangan ribuan poster tersebut.

Apa yang luput adalah struktur isi poster tersebut hanya berisi satu item yaitu perkenalan diri. Dengan kata lain, poster-poster itu seperti berkata “Inilah saya yang hadir di ruang publik anda”. Dan sejauh ini seperti itu juga lazimnya poster-poster politik di Blora.

Poster-poster tersebut tentu kurang efektif karena ia hanya mampu menyatakan “hadir” tetapi tidak mampu menjelaskan dan memang tidak ada penjelasan, “mengapa dan untuk apa dia hadir”. Masyarakat hanya sekadar disodori “identitas” tetapi “personalitas dan kapabilitas” jauh dari jangkauan pengetahuan publik.

Maka kontradiksi tersebut menciptakan sebuah kesenjangan karena meskipun “hadir” tetapi tidak dirasakan kehadirannya, sehingga pemasangan poster tersebut tidak efektif. Bahkan jika dibiarkan banyak yang rusak akan mengganggu keindahan ruang publik.

Kondisi ini tentu merugikan kandidat yang telah mengeluarkan biaya besar untuk pengadaan dan pemasangan ribuan poster tersebut. Kerugian juga dirasakan masyarakat karena kekurangan dasar-dasar pertimbangan rasional untuk menentukan pilihan.

Pilkada memang masih lama. Masih banyak proses yang akan ditempuh para kandidat. Jika politik uang menjadi common enemy maka mesin pembunuhnya adalah menghadirkan sepadat mungkin pertimbangan rasional dipikiran pemilih.

 

Tri Martana, Bidang Media dan Publikasi MD Kahmi Blora

Facebook Comments