HomeNewsNdoro Sumo, Tokoh Sentral Peletakan Batu Pertama Pendopo Blora

Ndoro Sumo, Tokoh Sentral Peletakan Batu Pertama Pendopo Blora

kabarblora.com – Pendopo Kabupaten Blora menyisakan sejarah yang mendalam untuk Kabupaten Blora, salah satunya terkait peletakan batu pertama yang menandai awal dibangunnya pendopo kabupaten Blora yang sekarang berdiri dengan megah.

Tepatnya pada 3 Agustus 1891 putra pertama dari Bupati Tjokronegoro III yang bernama RM. Soedjoed Koesoemaningrat (Ndoro Sumo) menjadi tokoh sentral peletakan batu pertama pembangunan pendopo Blora. Meskipun pada saat itu ia masih berusia 8 tahun, tetapi mendapatkan kehormatan tersebut karena digadang-gadang akan menggantikan ayahandanya kelak dikemudian hari.

Copy an Dokumen Peletakan Batu Pertama Pendopo Kabupaten Blora Oleh RM. Soedjoed Koesoemaningrat

Bersumber dari catatan sejarah yang terarsib oleh yayasan Tirtonatan (Yayasan milik keluarga keturunan Bupati Blora Pertama versi Keraton Surakarta KRT Djajeng Tirtonoto), diperoleh beberapa cerita terkait sosok Ndoro Sumo yang lahir tanggal 3 Juni 1883.

Ndoro Sumo-lah yang menjadi titik awal sejarah bagaimana keturunan dari KRT Djajeng Tirtonoto tidak lagi menduduki jabatan sebagai Bupati Blora. Dikisahkan setelah Tjokronegoro III wafat, Ndoro Sumo menolak untuk menggantikan posisi ayahandanya menjadi Bupati Blora. Penolakan tersebut terjadi dengan alasan karena tidak mau bekerjasama dengan kolonial Belanda.

Oleh karena penolakan dari Ndoro Sumo tersebut, maka jabatan Bupati Blora selanjutnya diserahkan kepada Kanjeng Said Abdoel Kadir Jaelani (1912-1926) untuk menggantikan Ndoro Sumo hingga putranya siap, cukup secara usia dan dapat menjalankan tugas sebagai Bupati selanjutnya.

Dikarenakan Kanjeng Said Abdoel Kadir Jaelani belum memiliki rumah sendiri pada waktu itu, maka Kanjeng Said Abdoel Kadir Jaelani meminjam Pendopo kepada Ndoro Sumo.

Hal tersebut berjalan sampai tahun 1914, hingga Kanjeng Said Abdoel Kadir Jaelani berhasil membangun rumah dan pindah dari pendopo kabupaten Blora dikediamannya daerah Jetis.

Dijelaskan oleh salah satu keturunan bupati Blora pendahulu, RNgt. Widyasintha Himayanti, setelah kepindahan Kanjeng Said Abdoel Kadir Jaelani Pendopo kabupaten Blora tidak dikembalikan kepemilik yang syah yaitu Ndoro Sumo melainkan berada dalam penguasaan pemerintah Kolonial Belanda.

“Tidak hanya sekali dua kali Ndoro Sumo berupaya agar pendopo Kabupaten yang semestinya menjadi kediaman beliau dikarenakan milik perseorangan untuk dikembalikan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Hal tersebut sudah dilakukan baik secara lisan maupun tertulis, akan tetapi tidak membuahkan hasil,” Terang Widyasintha selaku budayawan muda Blora saat berkomunikasi dengan redaksi. Selasa, (12/3/2019).

Facebook Comments