HomeEkonomi BisnisPawai Obor Nusantara Todanan, Njaga Bumi Njaga Panguripan

Pawai Obor Nusantara Todanan, Njaga Bumi Njaga Panguripan

Ekonomi Bisnis Gaya Hidup Jawa Tengah Komunitas Nasional Peristiwa Sosial Wisata dan Budaya 0 0 likes share

kabarblora.com – Pawai obor Nusantara yang dikemas dalam karnaval seni budaya digelar di Todanan, Rabu (19/9) malam. Dengan bertema njaga bumi njaga panguripan, menuju keselarasan, keseimbangan, persatuan dan perdamaian. Diikuti sekitar 1.000 peserta dari Desa Dalangan, Desa Todanan, Desa Cokrowati dan desa-desa lainnya para peserta berjalan melewati beberapa dukuh dan desa di kecamatan yang terletak di bagian Barat Laut dari kota Blora.

“Obor-oboran ing sasi Sura. Arak-arakan tolak balak. Penyakit lan hama ayo padha sumingkira. Buang sengkala muga diridhoi karo Gusti Kang Murbeng Dumadi. Kabeh padha diparingi sehat wal afiat. Watuk pilek sirah ngelu lan gatel padha ilang. Diparingi sandang pangan kang murakabi. Kembang kacang kembang kedele. Masyarakat dha gemah ripah loh jinawe. Ayo padha sorak hore. Sing iseh nduwe anak sekolah, mugo padha diparingi ngerti lan pinter. Sing dadi pejabat, muga hya sing amanah ben bayarane isa ditambah. Sing randha, muga oleh bojo jaka sing kinyis-kinyis. Sing wis duda, mugo oleh PK, eh kliru, prawan sing ting-ting,” kelakar Suparno Tri Yuwono (50), Bayan Dukuh Tlogo Desa Dalangan lewat sound system yang memandu jalannya acara lewat mobil komando yang berada di paling depan.

Pawai yang berlangsung di tengah hujan gerimis berjalan khidmat. Dari prosesi awal ritual berupa pertunjukan seni barongan yang melakonkan cerita Dadungawuk di Sendang Nganten yang keramat, hingga semua peserta berjalan beriringan memegang obor membawa suasana magis yang membuat para penghuni rumah di beberapa desa yang dilewati keluar untuk menyaksikan dan sebagian mengikuti.

Rute arak-arakan berjarak sekitar 3 kilometer. Dengan start di perempatan Sedang Nganten yang biasa digunakan untuk acara selamatan sedekah bumi, naik jalan tanjakan ke Selatan, sekitar 100 meter belok ke kiri, lalu belok lagi ke timur, naik sekitar 30 meter perempatan Doglik, masuk jalan raya Japah-Todanan, sampai di depan kantor polisi, ke utara, tembus Desa Dalangan dan kembali lagi ke titik awal.

“Tema lingkungan ini diangkat untuk menyatukan berbagai elemen, lintas komunitas, lintas madzab, lintas pemikiran, sehingga bisa jadi satu. Ikonnya melalui kebudayaan. Tradisi pawai obor ini sedari saya kecil sudah ada. Turun temurun. Dulu pernah mau hilang, tapi ketika dibangkitkan lagi oleh teman-teman komunitas, akhirnya muncul kembali di desa-desa. Intinya bersama-sama nguri-uri kebudayaan yang sudah hampir hilang,” kata Kang Supat pegiat seni budaya dan lingkungan dari Komunitas Upat-Upat Bumi.

Dalam penuturannya, malam ini adalah malam terakhir dari rangkaian acara seni budaya tujuh hari di bulan Suro tahun ini di Todanan. Di hari terakhir ini dilakukan arak-arakan secara besar-besaran. Dari lintas desa, bahkan lintas kecamatan dan kabupaten/ kota seperti dari Sukabumi, Semarang, Kudus, Jakarta, Bandung, Jepara, Pati, Rembang dan Blora.

Menurut Supat, untuk kegiatan yang dilakukan ini, dananya bersumber dari swadaya dan murni swakelola dari masyarakat. Ada masyarakat yang membantu pertunjukan seni budaya, ada juga yang membantu kebutuhan kendaraan, sound system, shooting video, dan lain-lainnya.

“Alhamdulillah, walaupun dengan dana yang minimal, namun dengan banyak teman dan saudara yang membantu dengan gotong royong, akhirnya bisa menyuguhkan tontonan yang berkesan. Kalau event tahunan ini terawat, mungkin besok kita bisa mengundang pasar malam. Di situ kan nanti bisa ada perkembangan di bidang ekonomi. Produk-produk dan kerajinan lokal kita pamerkan di situ. Pesan-pesan tentang tema kelestarian alam dan lingkungan bisa kita sampaikan pula. Kegiatannya tidak berkutat di arak-arakan saja, namun mungkin ada teater, pentas seni budaya, pameran dan juga bedah buku,” ungkapnya.

Imbuhnya, jikalau kegiatan seni budaya yang diangkat masyarakat ini pemerintah bisa menangkap dan menterjemahkan sebagai energi kreatif masyarakat, ini akan menjadi sebuah sinergitas yang baik antara pemerintah dan masyarakat.

“Kalau ini jadi ikon budaya yang bersifat global ini dipelihara dan menjadi besar, secara otomatis akan bisa menggerakkan sendi-sendi perekonomian masyarakat,” ungkapnya.

Camat Todanan Kiswoyo saat ditemui wartawan di sela-sela acara menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan pelestarian nilai-nilai budaya. Selaku Camat, dari kegiatan ini dirinya berharap agar terbangun sebuah masyarakat yang aman, tentram dan terlindungi.

“Memasuki bulan Suro ini untuk tahun Jawa, kita sebagai orang Jawa tentunya menghargai nilai-nilai leluhur sebagai bentuk nilai-nilai sejarah yang memang harus kita lestarikan. Mudah-mudaan event semacam ini bisa menjadi event tahunan, bisa dikemas menjadi destinasi wisata agar masyarakat juga menerima manfaatnya,” ujar Camat Kiswoyo.

Tidak hanya itu, apresiasi dan sinyal untuk bersama-sama melakukan pengembangan budaya Nusantara juga datang dari Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Blora Drs Kunto Aji yang menyatakan bahwa keberadaan kegiatan event Parade 1.000 Obor di Todanan ini merupakan bagian dari pemajuan kebudayaan.

“Selamat dan sukses. Perlu dilestarikan agar tata kelolanya kelak memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Utamanya bagi masyarakat Todanan,” jelas Kunto Aji lewat sambungan WhatsApp, Rabu (19/9) malam.

Tidak hanya pihak pemerintah kabupaten, pihak pemerintah desa lewat Kepala Desa Dalangan pun cukup antusias dan mengucapkan banyak terimakasih pada rekan-rekan pegiat seni budaya lingkungan serta media yang sudah peduli dengan adat-istiadat dan budaya di daerahnya.

“Terimakasih pada panjenengan dan teman-teman yang sudah membantu, sehingga acara yang bisa berjalan lancar, didukung oleh semua pihak. Mudah-mudahan kedatangannya njenengan bisa memberikan motivasi, semangat, budaya kami bisa berjalan, bisa hidup terus, bisa bersama pemerintah dan bersama agama. Kita jalan terus pokoknya,” pungkas Kepala Desa Dalangan Sriyono yang turut berjalan kaki dari mulai start sampai finish.

Acara pawai obor yang dianggap warga sebagai acara termeriah dalam 1 dekade ini ditutup dengan pementasan tari Barongan, Bujangganong, Genderuwon dan Jaranan kelompok Seni Barong Singo Lodro pimpinan Kang Widodo dengan dimeriahkan letusan warna-warni petasan di angkasa. (*)

Facebook Comments