HomeSuara WargaPengawas Pemilu Era Milenial

Pengawas Pemilu Era Milenial

Suara Warga 0 0 likes 822 views share

kabarblora.com – Tugas, wewenang dan standar etik pengawas pemilu dengan tegas telah diatur dan dikuatkan dalam perundang-undangan dan peraturan lain. Hal tersebut menegaskan pentingnya keberadaan pengawas pemilu sebagai salah satu pilar pengawal demokrasi. Tujuannya untuk membantu menciptakan demokrasi yang bermartabat dan berkualitas yang berujung pada demokrasi yang berkeadilan. Karena hajat berdemokrasi merupakan sebuah hajat bersama yang melibatkan seluruh elemen bangsa, maka proses-proses berdemokrasi harus berjalan sesuai koridor yang telah disepakati bersama. Disinilah tugas dan wewenang pengawas mempunyai peran yang urgen dan vital demi menjaga hak pilih seluruh negeri.

Andyka Fuad Ibrahim/Panwascam Blora 2017-2019

Kehadiran pengawas pemilu beserta perangkat perundangan yang menyertainya tidak berada dalam ruang sosial yang kosong. Maka seorang pengawas pemilu harus peka terhadap dinamika masyarakat, karena tidak serta merta  dengan modal berpegang pada peraturan perundangan saja pengawas akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Kecanggihan sarana informasi dan komunikasi membuat geliat politik seluruh elemen bangsa semakin terbuka, cepat tetapi juga semakin rumit dan mempunyai pengaruh yang luas. Ekspresi dan cara berpolitik masyarakat pun berkembang sesuai kemajuan tersebut.

Baca Juga: Andyka Fuad Ibrahim: Jangan Lupa Arti dan Makna Sumpah Pemuda

Maka seorang pengawas pemilu harus mempunyai dasar pengetahuan, komunikasi yang baik serta kemampuan membangun jejaring sosial yang mumpuni, melihat semakin luasnya spektrum dinamika politik masyarakat dan semakin intensnya atau dalamnya keterlibatan masyarakat dalam dinamika politik. Penguasaan pada kemampuan membentuk jejaring sosial dan membangun komunikasi menjadi soft skill yang bersifat extra ordinary agar tugas dan wewenang yang diamanahkan kepadanya dapat dilakukan dengan baik.

Pentingnya membangun jejaring sosial

Kehidupan kita selalu diwarnai dengan interaksi dengan manusia dan kelompok sosial lain. Interaksi merupakan keniscayaan dalam proses bermasyarakat. Disadari atau tidak, dalam interaksi terhadap sesama manusia, terjadi saling suatu timbal balik saling mempengaruhi satu sama lain. Dalam proses interaksi tersebut akan terjadi pertukaran nilai, pengetahuan dan informasi yang menjadi modal dasar untuk menuju pelembagaan pertukaran tersebut dalam format jejaring sosial.

Jejaring sosial merupakan salah satu dimensi sosial yang memfokuskan pada aspek ikatan antar simpul yang bisa berupa orang atau kelompok (organisasi). Pada dasarnya jaringan sosial terbentuk karena adanya rasa saling tahu, saling menginformasikan, saling mengingatkan, dan saling membantu dalam melaksanakan ataupun mengatasi sesuatu. Intinya konsep jaringan dalam kapital sosial menunjuk pada semua hubungan dengan orang atau kelompok lain yang memungkinkan kegiatan dapat berjalan secara efisien dan efektif (Lawang, 2005).

Peran yang dimainkan oleh jaringan sosial bersifat multi dimensional tetapi dalam aplikasinya bersifat khas dan bervariasi antar wilayah, demikian juga dampak yang ditimbulkannya. Dengan demikian, jaringan sosial juga bersifat local indigeneous, atau mengandung dimensi kelokalan. Oleh karena itu seorang pengawas pemilu harus mempunyai dasar pengetahuan yang baik tentang jaringan sosial  atau pemetaan jaringan sosial masyarakat yang berpotensi mempunyai relevansi dengan dinamika politik,  utamanya kepemiluan.

Pengenalan jejaring sosial juga berkorelasi dengan jejaring sosial yang harus dibangun oleh seorang pengawas pemilu agar fungsi partisipatif dalam kepengawasannya dapat dijalankan dengan prefesional. Artinya cara pengawasan yang efektif dan sebisa mungkin obyek yang kita awasi tidak merasa kita awasi karena baiknya intensitas komunikasi yang kita bangun dalam jejaring sosial tersebut. Seorang pengawas sosial harus mampu menjangkau jaringan-jaringan masyarakat tradisional sampai jejaring yang bersifat milenial yang membutuhkan cara berkomunikasi yang berbeda.

Pentingnya strategi komunikasi
Komunikasi memainkan peran penting untuk mensukseskan tugas dan peran seorang pengawas pemilu. Komunikasi dalam masyarakat modern bersifat multi polar atau banyak arah karena keragaman media komunikasi dan informasi. Komunikasi dan informasi menjadi elemen penting dan berpengaruh luas dalam membentuk alam fikiran, suasana kebatinan sekaligus menyediakan referensi pilihan tindakan bagi masyarakat.

Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap yakni proses komunikasi secara primer dan secara sekunder. Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambing (symbol) sebagai media. Sedangkan proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media. (Onong, 2000:11&16)

Beberapa teori dengan akurat menunjukkan peran komunikasi dan media informasi dalam masyarakat. Dan peran tersebut semakin luas dan mendalam seiring dengan kemajuan alat komunikasi dan penyebaran informasi. Teori Ketergantungan (Dependency Theory) mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Di dalam model mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.

Teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media. Teori ini berangkat dari sifat masyarakat modern, dimana media diangap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam proses memelihara, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat, kelompok, dan individu dalam aktivitas sosia

Mengingat pentingnya jejaring sosial dan komunikasi yang sangat beragam sebagai ciri khas pluralitas masyarakat Indonesia maka seorang pengawas pemilu harus menyiapkan diri dengan keragaman cara berkomunikas,i karena tiap jejaring sosial kadang-kadang mempunyai ciri, perilaku dan tata cara yang khas. Fungsinya agar daya serap terhadap potensi kerawanan dan masalah yang muncul dalam kepemiluan dapat terbaca dan terdeteksi lebih dini. Karena kenyataannya faktor-faktor yang berpengaruh dalam kepemiluan bukan berasal dari aplikasi perundang-undangan saja tetapi juga dapat berasal dari perilaku politik yang tidak semuanya dapat dijangkau oleh tafsir dan perangkat kepemiluan.

Bersama Rakyat Awasi Pemilu, Bersama Bawaslu Tegakkan Keadilan Pemilu.

Facebook Comments