HomePendidikanPenindasan Dalam Kontinuitas Keindonesiaan Yang Multi Komplek Sistem

Penindasan Dalam Kontinuitas Keindonesiaan Yang Multi Komplek Sistem

Pendidikan Peristiwa Suara Warga 0 2 likes 1.1K views share

kabarblora.com – Sewaktu SD saat mendapati pelajaran sejarah Guru selalu mengatakan “Indonesia dijajah Belanda 3,5abad”. Saat diperkuliahan kita belajar sejarah dari berbagai multidimensi ilmu dan kita ketahui kata – kata 3,5 abad itu dipopulerkan dari pidato Soekarno yang mengatakan “Kita lebih menderita dijajah Jepang yang hanya 3,5 tahun dibandingkan dengan Belanda yang menjajah hingga 350 tahun”.

Jika kita hitung Soekarno mengatakan pidatonya di tahun 1945 – 350 = 1595, tahun ini adalah tahun kedatangan Cornelis de Houtman (Kapten Kapal dengan Bendera Belanda, namun tidak membawa tentara perang di Kapal tersebut) di Banten dengan tujuan “Berdagang”,  belum menjajah dan tahun ini juga belum ada pembentukan VOC.

Dukungan dan perlawanan terhadap tanam paksa zaman penjajahan

VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) mulai 1602 ia bisa dikatakan mulai melakukan monopoli perdagangan di Hindia-Belanda, membangun benteng dan memiliki hak menunjuk Gubernur Jendral. Tapi ungkapan Belanda menjajah Indonesia dimulai 1602 juga tidak sepenuhnya benar, selain nama Indonesia saat itu masih belum ada, VOC hanyalah merupakan perkumpulan kongsi dagang, bukan Negara Belanda.

Awal tahun 1800 VOC mengalami kebangkrutan,setelah VOC bangkrut barulah bangsa Belanda yang masuk untuk menguasai/menjajah, namun yang dikuasai itupun tidak keseluruhan wilayah Indonesia seperti sekarang ini (dari Sabang sampai Merauke).

Memang kala itu Belanda berhasil menduduki dan menguasai kerajaan2 di Indonesia hingga muncul berbagai perlawan – perlawanan dari masing – masing kerajaan untuk melawan kolonialisme, seperti Perlawanan Sisinga Mangaraja di Tapanuli,  Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten, Sultan Agung Mataram dan Sultan Hasanudin di Makasar.

Tetapi apakah secara representatif perlawanan raja2 kala itu mewakili Bangsa Indonesia secara Nasional? Tentu tidak karena masing-masing kerajaan itu masih mempertahankan eksistensi dari wilayah masing – masing agar tidak dikuasai Belanda ditambah Bangsa Indonesia sendiri kala itu belum ada secara de facto dan de jure. Artinya Bangsa Indonesia/jiwa kebangsaan Indonesia yang Nasional Belum ada ketika raja – raja yang pernah eksis itu melakukan perlawanan.

Ditambah Tidak semua wilayah Indonesia sekarang merupakan wilayah kekuasaan Belanda, meskipun Belanda menduduki beberapa wilayah kerajaan tersebut, namun beberapa wilayah juga tidak dikuasai Belanda terutama kerajaan – kerajaan kecil diwilayah pesisir Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia bagian Timur. Tidak dilihat hanya dari wilayah geografis semata, tapi juga entitas politik dan sebagai wilayah hukum, praktis dan baru lahir tanggal 18 Agustus 1945 dengan disahkannya UUD 1945.

Ketika dalam cengkeraman beragam bentuk kolonialisme Belanda, entitas ke Indonesiaan  sudah dalam bentuk wilayah-wilayah otonom dengan sistem kemasyarakatan yang lengkap/kompleks. Lemahnya relasi antar wilayah-wilayah otonom lebih meringankan Belanda untuk menegakkan hegemoninya. Kesadaran kesamaan nasib lambat laun muncul dan melahirkan gagasan besar bersama tentang keindonesiaan sebagai obsesi kolektif bersamaan dengan lahirnya pola perjuangan baru melawan Belanda melalui organisasi-organisasi pergerakan nasional.

Jika kita mau jeli menganalisa sejarah, Belanda hanya menjajah Indonesia dari tanggal tersebut sampai 27 Desember 1949 dan setelah melalui perjuangan diplomasi yang berat, Belanda akhirnya menyerahkan kedaulatan. Kerajaan Belanda hanya menjajah Republik Indonesia selama 4 tahun lebih sedikit. Secara parsial, Papua dan (Irian Barat) masih dijajah sampai bendera Belanda diturunkan tahun 1962. Angka ini dilihat jika yang dimaksud Indonesia itu dari sisi Indonesia Negara Kesatuan yang berdaulat.

Terlepas berapa tahun dan Bangsa asing apa yang menjajah Indonesia tidaklah terlalu penting dan cukup kita jadikan pembelajaran dan pengetahuan. Yang terpenting adalah untuk cermat melihat apakah masih ada rasisme, penindasan, perbudakan, penghisapan, dan pemberangusan kebebasan berekspresi yang terjadi hari ini di negeri bernama Indonesia yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda.

Apakah masih ada kecurangan, monopoli perdagangan, dan persaingan tidak sehat. Apakah kekerasan dan pendekatan militer masih digunakan untuk memenangkan kepentingan ekonomi segelintir orang. Apakah korupsi masih merajalela di kalangan elit seperti yang terjadi di tubuh VOC ratusan tahun yang lalu. (timkb/Widyasintha/TM)

Penulis dan editor : Pemerhati Sejarah dan Budaya

Jika sekarang pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2018, siapa yang Anda pilih ? Vote Sekarang !

  • SUDIRMAN - IDA (56%, 250 Votes)
  • GANJAR - YASIN (39%, 177 Votes)
  • NETRAL/TIDAK MEMILIH (5%, 22 Votes)

Total Voters: 449

Loading ... Loading ...

Facebook Comments