HomeSuara WargaPiala Dunia dan Pilkada Serentak 2018

Piala Dunia dan Pilkada Serentak 2018

Suara Warga 0 0 likes 903 views share

kabarblora.com – Mungkin tak ada hubungan langsung antara gelaran sepakbola piala dunia dan pelaksanaan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara serentak tahun 2018. Piala dunia adalah ajang olahraga yang mempertandingkan tim-tim terbaik wakil dari lima benua yang ada di planet bumi ini. Sementara Pilkada serentak 2018 adalah ajang pemilihan pimpinan daerah baik gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati atau walikota dan wakil walikota.

Meskipun tak secara langsung berkorelasi, namun ada beberapa hal yang dapat diperbandingkan antara sepakbola dan Pilkada Serentak 2018. Atau bahkan keduanya bisa saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Karena keduanya sebenarnya adalah ajang kompetisi untuk mencari pemenang. Karena sama-sama bersifat persaingan tentu ada hal-hal yang bagi keduanya (Piala Dunia dan Pilkada Serentak) memiliki prinsip-prinsip yang dapat dipersandingkan.

Hubungan saling mempengaruhi yang pertama barangkali terkait animo masyarakat dalam keikutsertaan pada dua agenda besar yang beriringan tersebut. Gegap gempita masyarakat menyambut piala dunia mungkin lebih meriah dari pelaksanaan Pilkada Serentak 2018. Dalam menyambut gelaran bal-balan lima tahunan ini banyak masyarakat yang melakukan berbagai kegiatan, diantaranya  dengan memasang bendera peserta Piala Dunia, mengecat lingkungan sekitar dengan warna warni yang bernuansa piala dunia. bahkan berbagai tempat nongkrong dilingkungan, atau cafe sudah menyiapkan acara nonton bareng setiap pertandingan yang mempertemukan jagoan pengolah si kulit bundar kelas dunia.

Baca Juga: Jadwal FIFA World Cup 2018 Russia, Ini Jam Main Tim Favoritmu!

Beragam kegiatan tersebut ada yang dilakukan secara mandiri dan swadaya oleh kelompok masyarakat karena saking cintanya pada sepakbola. Atau di cafe dan tempat nonton bersama lainya sebagai peluang bisnis memanfaatkan fanatisme pecinta sepakbola tanah air.
Bagaimana dengan pilkada serentak? Apakah masyarakat menyambut Pilkada serentak dengan gempita selayaknya menyambut helatan piala dunia?  Kalau bentuknya seperti piala dunia mungkin tidak. Karena Pilkada serentak adalah momen politik, dimana masyarakat belum terbiasa dengan upaya-upaya mandiri untuk membuat gempita Pilkada selayaknya Piala Dunia.

Akan tetapi disisi lain, dengan perhelatan Piala Dunia yang bersamaan dengan Pilkada Serentak, akan menjadikan suasana Pilkada lebih adem. Pemilih mungkin tidak akan bergesekan antara satu dengan lain dalam mendukung calonnya karena dipersatukan sepakbola. Konsentrasi pemilih akan terpecah antara Piala Dunia dan Pilkada.

Bagi penyelenggara Pilkada (KPU dan Bawaslu) tentu ini menjadi tantangan besar. Dengan adanya pementasan Piala Dunia masyarakat akan semakin apatis terhadap Pilkada. Sebagai contoh adalah Pemilihan Gubernur Jawa Tengah Tahun 2013, dimana pada saat itu tingkat kehadiran pemilih hanya 55,9% atau hanya separuh lebih sedikit dari jumlah total pemilih di Jawa Tengah yang menyalurkan hak suara di TPS. Dimana pada saat itu tidak ada Piala Dunia atau momen besar yang mengiringi pelaksanaan Pilgub.

Disisi lain KPU mentargetkan tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada Serentak adalah 77,5%. Target yang membutuhkan kerja keras dan upaya ekstra tentu saja. Menjawab tantangan tersebut, bagi KPU kontes Piala Dunia harus dimanfaatkan semaksimalkan mungkin untuk menunjang sukses Pilkada Serentak, yaitu tingkat partisipasi pemilih. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan membuat TPS bernuansa Piala Dunia, baik dari atribut petugas maupun atribut pelengkap di TPS. Atau cara-cara lain yang bernuansa Piala Dunia, namun tidak melanggar ketentuan perundang-undangan. Kreasi dan inovasi tersebut disesuaikan dengan adat dan kebiasaan lingkungan masing-masing. Apabila hal ini dapat dilakukan maka, Piala Dunia dan Pilkada Serentak 2018 akan menyatu dan menyenangkan.

Prinsip Fair Play dan Independen

Korelasi  yang lain dapat diperbandingkan antara Piala Dunia dan Pilkada adalah keduanya sama-sama kompetisi memperebutkan untuk menjadi pemenang. Dalam sepak bola dikenal istilah menjunjung tinggi fair play. Setiap pemain harus memiliki respect terhadap pemain lainnya. Tidak menghalalkan segala cara untuk menang. Demikian juga dengan pengadil lapangan (wasit) harus adil dan tidak memihak (independen). Panitia pelaksana juga harus jujur dan adil memberikan pelayanan sama terhadap semua peserta Piala Dunia.

Baca Juga: Bersama Mendidik Publik

Segala komponen yang ada dalam sepak bola tersebut sama dengan kontes Pilkada. Apa peserta yang namanya pasangan calon, ada wasit yang namanya Bawaslu dan ada Panitia Pemilu yaitu KPU. Meskipun tidak dapat dipersamakan begitu saja, namun ketiga unsur tersebut punya prinsip-prinsip yang dapat dipersamakan.

Karena memiliki prinsip-prinsip yang hampir sama, dan apabila semua dijalankan dengan baik oleh masing-masing pihak, tentu akan tercipta pertandingan dan perhelatan yang menyenangkan dan menggemberikan.

Peserta Pemilihan yang berkompetisi secara fair play akan membuat suasana tenang. Pemilih mendapatkan pendidikan politik yang sehat dari peserta pemilihan. Sehingga masyarakat dapat menentukan pilihannya secara bijak berdasarkan hati nurani dan visi misi pasangan calon. Tidak ada gesekan antar individu dan kelompok masyarakat. Tidak ada upaya memecah belah dan menghalalkan segala cara untuk menang, semuanya fair, berkompetisi sesuai ketentuan.

Demikian juga bagi penyelenggara Pemilu KPU dan Bawaslu dapat berlaku adil, jujur dan independen, berjalan sesuai koridor hukum. Yang salah di semprit dan diberi hukuman sebagai dengan aturan. Apabila ini dapat dilakukan dengan baik, maka pilkada serentak akan sama-sama menyenangkan selayaknya pentas Piala Dunia. Yang kalah masih bisa tertawa bersama dengan yang menang. Dan yang menang tidak jumawa, tetapi merangkul yang kalah.

Dan harapan itu semoga dapat terwujud dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Tahun 2018. Sehingga Pilgub Jateng 2018 yang Becik Tur Nyenengke benar-benar terwujud di propinsi tercinta ini.

Penulis : Mohammad Khamdun, Anggota KPU Kabupaten Blora dan Pecinta Sepakbola