HomeSuara WargaSandyakalaning Sejarah Lokal Blora

Sandyakalaning Sejarah Lokal Blora

Suara Warga Wisata dan Budaya 0 1 likes 1.8K views share

kabarblora.com – Identitas merupakan atribut penting bagi sebuah komunitas. Identitas lahir dan berurat berakar dalam tradisi dan sejarah masyarakat. Dalam masyarakat yang modern sekalipun, misalnya Jepang, Inggris dan banyak negara-negara Barat lainnya masih tetap menampilkan simbol-simbol masa lalunya dengan penuh kebanggaan.

Goa Kidang Blora, tempat ditemukannya manusia purba “Homo Sapiens”

Orang Jepang yang super maju, masih tetap bangga dengan Kaisarnya yang dianggap sebagai keturunan Dewa Matahari. Sepintas tentu terlihat kontras tetapi toh nyatanya di Jepang modernitas tetap berdampingan tradisionalitas yg terkesan primitif. Keduanya berdampingan tidak sebagai sebuah ironi tetapi sebagai sebuah harmoni.

Akibatnya simbol- simbol tradisionalitas itu tetap terpelihara sehingga masyarakat Jepang tidak kehilangan akar budayanya. Identitas menjadi seperangkat nilai yang sengaja dibentuk dan dihadirkan dari masa lalunya. Masyarakat yang tidak mempunyai kecemerlangan dari masa lalunya berusaha membangunnya dengan membuat tokoh rekaan, imaginer dan ahistoris. Tetapi tentu saja tetap  rapuh dalam proses integrasi sosialnya karena masyarakatnya tidak memiliki keterikatan dengan proses sejarahnya. Amerika merupakan contoh masyarakat yang seperti ini. Berapa banyak “hero” palsu yang sengaja diciptakan dan dipaksakan agar hidup dalam pikiran masyarakat melalui tokoh-tokoh film yang berjilid-jilid.

Samin Surosentiko (Foto ilustrasi)

Bagaimana dengan Blora?  Blora sangat kaya dengan sejarah lokal, baik dari sisi arkeologi, tradisi maupun tokoh-tokoh sejarahnya. Bahkan banyak kualitas pengendaranya bergema hingga ke level nasional dan internasional. Sayangnya, dari sisi pengelolaan sumber daya tersebut masih lemah sehingga terabaikan dan berpotensi hilang dari ingatan publik jika tidak diupayakan akselerasi penanganannya.

Beberapa penanganan yang sudah dilakukan cenderung bersifat sporadis,insidental dan partikular. Penanganannya masih bergantung pada atensi berkontribusi yang mempunyai kepedulian sehingga daya tahan dan kemampuannya terbatas. Jika sumber daya historis tersebut hilang karena tidak tertangani secara sistemik maka nilai-nilai historis, sosial dan kemanusiaan yang terkandung di dalamnya juga akan hilang.

penemuan gajah purba di Desa Medalem Kecamatan Kradenan Blora.

Dari sisi transformasi nilai dan peristiwa sejarah juga mengalami masalah yang serius. Tahun 2015, Bupati Blora sebenarnya pernah memberikan statemen pentingnya sejarah lokal untuk diintegrasikan di sekolah. Tapi “sinyal” ini tak ada yang merespon apalagi menindaklanjuti baik oleh institusi seperti Diknas maupun Masyarakat Sejarah Indonesia di Blora.

Akhirnya sinyal tersebut lenyap dan benar-benar dilupakan publik. Sejarah lokal Blora benar-benar terancam dan mengalami sandyakala. Masyarakat terancam kehilangan identitas dan tautan dengan figur dari masa lampaunya. Barangkali kita pun tak ambil peduli bahkan tidak merasa penting untuk sekadar mendiskusikan misalnya apa relevansinya kehadiran Patung Arjuna di Cepu.

Tokoh yang dari negara asalnyapun dipahami sebagai tokoh imaginer. Tidakkah misalnya lebih historicalistic jika yang ditampilkan adalah tokoh Arya Penangsang sebagai simbol perlawanan ketidakadilan oleh pusat kekuasaan.

Belum lagi sumber daya sejarah lain seperti Museum Mahameru, Perpustakaan Pataba, nasib situs goa kidang, apalagi nasib situs Homosoloensis di sepanjang aliran bengawan Solo. Butuh penanganan yang sistematis melalui intervensi kebijakan agar sejarah lokal Blora benar-benar tidak melewati sandya kala menuju pralaya. (timkb)

Penulis : Tri Martana, Pemerhati Sejarah dan Budaya (Alumni UNS Fakultas Sejarah ’93)

[poll id=”3″]