HomeNasional“Sang Sahabat Memimpin Serdadu untuk Menggebuknya”

“Sang Sahabat Memimpin Serdadu untuk Menggebuknya”

Nasional Peristiwa Politik Suara Warga 0 0 likes 968 views share

kabarblora.com – Politik memang penuh drama yang lengkap dengan kejutannya. Sejak Kang Mas Solo memimpin, banyak adegan adegan fulgar yang muncul ke publik, seperti politik pukul rangkul, politik penyandraan, dan politik belah bambu.

Politik pukul rangkul, pertunjukan politik yang terjadi seperti Aburizal sang penyokong KMP (Koalisi Merah Putih) 2014 dipukul dengan kawannya Agung Laksono. setelah saling perang retorika selama 1,5 tahun akhirnya di Rangkullah Golkar. Keduanya tak muncul lagi dalam drama politik karena perannya sudah berakhir di episode tersebut. Drama tersebut solution ending dengan tawaran kuasa di parlemen KMP pun Rontok.

Episode penyandraan pernah terjadi di era ini dengan aktor JK (Jusuf Kalla) yang merupakan RI 2. Tokoh ini berencana pensiun ke kampung halaman setelah lama memimpin. Bisikan mendorongnya maju sebagai RI 2 kembali ramai ditonton. Mulai keberatan sampai ngurus cucu, berubah menjadi gugatan MK (Mahkamah Konstitusi) perihal masa jabatan wakil presiden. Meski belum dilayani MK, namun ini menjadi bagian dari drama politik 2019 mendatang.

Setelah JK bersedia, publik digemparkan dengan mencuatnya pembicaraan antara Sofyan Basir dengan Rini Soemarno tentang proyek Pertamina di Banten yang dijalankan Keluarga JK. Publik tahu kondisinya bahwa SB (Sofyan Basir) semenjak duduk di BRI telah akrab dengan bisnis Keluarga JK. Dua minggu menjelang pendaftaran pilpres, publik dikejutkan dengan episode tamu di rumah SB yang digledah, tamu tersebut adalah KPK. Tak mau berkepanjangan JK pun berargumen membela SB diberbagai media.

Kembali pada episode penyandraan, MK belum memberikan signal positif mengenai gugatan JK menjelang pendaftaran pilpres. Signal tersebut hanya lewat dan akhirnya membuat RI 2 duduk manis di samping RI 1. Episode berlanjut pada tawaran sebagai ketua TIM pemenangan, berkali kali JK menyakinkan bahwa Dirinya akan full time memenangkan Mas Joko dan Mbah Maruf Amin, yang penting Jangan Jadi Ketua tim dengan berbagai alasan. Akhirnya JK keluar duduk sebagai ketua penasehat TKN (Tim Kampanye Nasional).

JK Hadir dan duduk di samping Mas Joko saat mengumumkan Ketua TKN Erick Tohir yang tidak lain adalah kawan Sandi. Asumsi JK diProgram Politik Penyandraan karena untuk menahan Anies tidak maju pilpres 2019.

Episode politik belah bambu lebih terlihat rumit dengan dua pemeran utama yang berbeda dalam tugasnya. Pertama Rosan Perkasa Roeslani yang memperoleh mandat menghimpun kalangan pengusaha untuk merapat di Istana. Dibidang yang sama dengan Sandi, menjadikan pertanyaan publik, bagaimana bisa partner berseberangan dan berlawanan satu sama lain. Alurnya Rosan Perkasa Roeslani disandra dalam kasus TGB pada pemeriksaan KPK.

Kedua, peran yang disetting di depan publik Erick Thohir. Pernah tercatat sebagai Pengurus HIPMI namun tidak aktif tak ada legacy yang ditinggalkan dan Hanya bergaul terbatas dengan M Lutfi (Mantan Menteri Perdagangan) dalam merintis Mahaka Group.

Erick Thohir pernah melatih tim digital campaign Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI 2017 sebelum Al Maidah Muncul. Peristiwa itu mencuat di media pada Juli 2017. Ceritanya Semua tim inti secara tertutup dikumpulkan di sebuah restoran Jakarta Selatan, disitulah Erick Thohir sebagai mentor melatih strategi pemenangan untuk mengalahkan AHOK.

Erick Thohir adalah adik Boy Thohir yang tidak lain adalah partner Sandiaga Uno di Saratoga. Erick Thohir bersama Sandiaga Uno, Anindya Bakrie, adalah Partner dalam bisnis media Viva Group yang memiliki TV One, ANTV dan Vivanews.

Erick Thohir sebagai kawan kini memimpin serdadu mengalahkan Sandiaga Uno. Apakah ini kehebatan Wong Solo atau kehebatan Sandiaga Uno? Sehingga Politik Belah Bambu pun dijalankan.

Publik menunggu episode berikutnya sampai pilpres 2019.

Disarikan oleh :
Ahmad Adirin,  Jurnalis Pembelajar Kepemimpinan Politik Indonesia

Facebook Comments