HomeSejarah BloraSejarah Kompleks Makam Keluarga Tirtonatan

Sejarah Kompleks Makam Keluarga Tirtonatan

Sejarah Blora Wisata dan Budaya Yayasan Tirtonatan 1 0 likes 4.5K views share

kabarblora.com – Pada tahun 1782, daerah Blora masih dibawah kekuasaan Sri Susuhunan Surakarta. RT. Jayeng Tirtonoto memilih sebidang tanah yang terletak di desa Grogol untuk dijadikan tempat kediaman beliau dan kemudian berganti nama menjadi desa Ngadipurwo.  Sebidang tanah yang dimaksud sekarang menjadi makam keluarga RT. Jayeng Tirtonoto; tanah dan halaman Masjid Ngadipurwo.

Diatas sebidang tanah tersebut dibangun sebuah rumah tinggal RT. Jayeng Tirtonoto dan ditempati setelah beliau meletakkan jabatan (pensiun) sebagai Bupati.  Atas permintaan Beliau apabila suatu hari Beliau mangkat (wafat) supaya dimakamkan di dalam kamar rumah kediaman Beliau. Pada tahun 1785 RT. Jayeng Tirtonoto wafat dan dimakamkan didalam kamar tempat tinggal Beliau. Dan sejak saat itu tempat tinggal RT. Jayeng Tirtonoto menjadi makam. Dan sejak pada waktu itu juga (1785) oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IV Surakarta desa Ngadipurwo menjadi desa Perdikan dan demikian seterusnya sampai pada akhir tahun 1945 masih menjadi desa perdikan. Seiring perkembangan jaman pada awal tahun 1946 desa Ngadipurwo berubah statusnya menjadi desa biasa.

Baca Juga : Yayasan Tirtonatan Rilis Buku Untuk Memperingati Ulang Tahun Kabupaten Blora ke – 268

Raden Tumenggung Jayeng Tirtonoto, Bupati Blora (1762-1782)

Jayeng Tirtonoto adalah putra RT. Tirto Kusumo (Adipati Lasem). Sebelum menjadi bupati Beliau bertempat tinggal di puncak Gunung Purwobale (sekarang Gunung Trobali) yang masuk wilayah Jiken. Pada 21 September 1762 RT Jayeng Tirtonoto diangkat menjadi Bupati oleh Sri Susuhunan Pakubuwono III karena Beliau berhasil menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh Raden Guntur atau Raden Wiradmeja dengan keris Kyai Buntet miliknya. RT. Jayeng Tirtonoto wafat pada 1785.

Raden Tumenggung Prawirayudha, Bupati Blora  (1812-1823)

Prawirayudha adalah putra dari RT. Jayeng Tirtonoto. Sebelum menjadi Bupati, Beliau bekerja sebagai Syahbandar Telengmalo di Tinawun Bojonegoro. Pada tahun 1823 RT. Prawirayudha pensiun menjadi Bupati Blora dan bertempat tinggal di Tuban hingga wafat pada tahun 1826.

Raden Tumenggung Adipati Tirtonagoro, Bupati Blora (1823-1842)

Tirtonagoro adalah putra dari RT. Prawirayudha. Lahir pada 15 Juli 1789/1785. Sebelum menjadi Bupati Blora, Beliau bekerja sebagai Patih Blora; Patih Rembang dan Patih Panolan. Pa da 1 Juli 1823 RT. Tirtonagoro dilantik menjadi Bupati Blora dan pada 3 Oktober 1830 mendapat gelar Adipati sehingga nama beliau menjadi Raden Tumenggung Adipati Tirtonagoro. Setelah pensiun dari jabatan bupati Beliau bertempat tinggal di Bojonegoro dan wafat pada tahun 1859.

Raden Tumenggung Aryo Cokronegoro I, Bupati Blora (1842)

RTA. Cokronegoro I adalah putra dari RT Adipati Tirtonagoro. Lahir pada 15 Maret 1821. Sebelum menjadi bupati Beliau bekerja sebagai: Mantri Kabupaten Blora pada  28 Desember 1835;  Letnan Prajurit Tingkat II di Blora pada 21Juli 1837; dan   menjadi Ref. Demang Distrik Karangjati pada 4 November 1840. RTA. Cokronegara I dilantik menjadi Bupati pada 1 April 1842. Namun  hanya berjalan 6 bulan Beliau menjadi bupati dan wafat karena sakit pada September 1842.

Raden Tumenggung Panji Notowijoyo, Bupati Blora (1847-1857)

Panji Notowijoyo lahir pada 16 Mei 1801. Sebelum menjadi bupati Beliau bekerja sebagai: Patih di Blora tahun 1831; Patih di Rembang Januari 1845. RT. Panji Notowijoyo menjadi bupati pada 1847 hingga 1857.

Raden Mas Adipati Aryo Cokronegoro II, Bupati Blora  (1857-1886)

RMAA. Cokronegoro II adalah putera dari RTA. Cokronegoro I, lahir pada 23 Oktober 1837. Sebelum menjadi bupati Beliau bekerja sebagai: Mantri Kabupaten Bojonegoro  15 September 1851;  Mantri Aris Binangun Rembang  27 Desember 1852; dan Wedana Ngumpak  Bojonegoro  10 Pebruari 1854. RMAA. Cokronegoro II  menjadi Bupati pada 5 Desember 1857 dan pensiun tahun 1886. Setelah pensiun Beliau bertempat tinggal di Desa Bengir. Meninggal  20 Juli 1901.

Raden Mas Adipati Aryo Cokronegoro III, Bupati Blora  (1886-1912)

 RMAA. Cokronegoro III adalah putra dari RMAA. Cokronegoro II, lahir pada 20 Juli 1857. Sebelum menjadi bupati Beliau bekerja sebagai: Juru Tulis di Distrik Jepon; Mantri Kabupaten Blora; Asisten Wedana Pangkat II di Bleboh; Ajun Jaksa di Blora; Wedana di Bojonegoro; Wedana di Jatirogo; Wedana di Panolan. RMAA. Cokronegoro III diangkat menjadi Bupati Blora  10 Januari 1886 dan pensiun 1912. Wafat pada 14 Januari 1912.

Raden Mas Sujud Kusumaningrat (Ndoro Sumo)

Sujud Kusumaningrat adalah putra dari RMAA. Cokronegoro III, lahir 3 Juni 1883. Beliau tidak bersedia menggantikan ayahandanya sebagai Bupati karena tidak ingin bekerja sama dengan kolonial. Meski tidak menjadi Bupati Blora nama RM. Sujud Kusumaningrat tetap dikenang oleh masyarakat Blora dengan sebutan Ndoro Sumo dan jabatan Bupati selanjutnya diserahkan kepada RMAA. Said Abdulkadir Jaelani.

Raden Mas Adipati Aryo Said Abdulkadir Djaelani, Bupati Blora (1913-1926)

RMAA. Said Abdulkadir Jaelani sebelum menjadi bupati Beliau bekerja sebagai: Jaksa Cianjur kemudian Wedana Ambarawa dan diangkat menjadi Bupati Blora pada tahun1913 – 1926

Al-Habib Idrus bin Abu Bakal Al-Jufri

Al-Habib Idrus bin Abu Bakar Al-Jufri adalah masih keturunan ke 36 dari Rasulullah Muhammad SAW. Beliau diangkat menjadi Penasehat Kabupaten dibidang Agama pada masa RT. Jayeng Tirtonoto menjadi bupati  sekaligus penyebar agama Islam di Blora.

Cungkup Makam Raden Mas Tejonoto Kusumaningrat

Cungkup makam ini dahulu adalah tandu yang membawa RAy. Ngamsiyah/RAy. Cokronegoro I dari Kasunanan Surakarta ke Blora ketika menikah dengan RTA. Cokronegoro I. Sekarang tandu tersebut dipergunakan untuk cungkup makam RM. Tedjonoto Koesoemaningrat dan RAj. Tedjonoto Koesoemaningrat. (Redaksi kabarblora.com, RR. Widyasinta H)

 

Facebook Comments