HomeNewsSoal Koalisi Pilkada Blora, Kahmi Sebut Masih Bisa Pecah Kongsi

Soal Koalisi Pilkada Blora, Kahmi Sebut Masih Bisa Pecah Kongsi

News 0 0 likes 1.3K views share

kabarblora.com – Formasi koalisi di pilkada Blora masih sangat dinamis. Baik kubu Arif Rohman- Tri Yuli Setyawati maupun Umi Kulsum-Agus Sugiyanto tentu sudah berusaha keras mengikat koalisi yang sudah ada saat ini tetapi dinamika internal partai politik bisa merombak formasi koalisi yang sudah ada.

Dalam pandangan Tri Martana selaku Bidang Komunikasi dan Media MD KAHMI Blora, pihaknya menyebut bahwa koalisi partai itu dinamis bergantung pada dinamika internal partai dan di level pragmatis. Tentunya, kata dia, ada juga pertimbangan besaran logistik yang mereka terima untuk menggerakkan mesin partai dalam memberikan dukungan.

“Dengan demikian, semakin gemuk koalisi semakin besar pula pembiayaan politik untuk mengikat partai-partai anggotanya,” ujar Martana kepada kabarblora.com, Jumat (3/7/2020).

Menyinggung konsekuensi pecahnya kongsi koalisi, mantan aktivis HMI ini berpesan jika koalisi pecah dengan memunculkan koalisi baru maka muncul konsekuensi politik di kedua pihak. Terutama berkaitan dengan pembelahan konstituen yang mungkin terjadi.

“Apakah pembelahan konstituen itu akan signifikan untuk koalisi baru yang akan dibentuk dalam meraup suara,” ucapnya.

Martana memandang, pertimbangan tersebut sangat strategis karena pembentukan koalisi baru harus mempertimbangkan peluang kemenangannya jika ikut kontestasi.

“Maka koalisi baru itu harus menemukan kandidat yang akan diusung benar-benar mempunyai efek pembelahan konstituen untuk meraup suara sebanyak mungkin”, paparnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, bertahan ataupun pecah kongsi dalam koalisi pilkada jangan sekadar mempertimbangkan menang dan kalah dalam pilkada.

Menurutnya, masa depan eksistensi partai juga harus dipertimbangkan lantaran efek kemenangan dalam pilkada tidak selalu simetris dan kongruen dengan jumlah suara yang sanggup diraih partai di pemilu legislatif berikutnya.

“Partai-partai dalam hal ini lebih cermat mempertimbangkan koalisi dari sudut pandang masa depan partai,” katanya.

Mengenai keterlibatan konstituen partai dalam formasi koalisi, diingatkannya agar dimensi nuansa batin internal partai baik dari konstituen dan pengurus partai harus benar-benar terakomodasi.

“Keterlibatan partai dalam sebuah koalisi harus secara relatif bulat didukung oleh dua elemen itu. Sangat fatal jika pilihan dalam koalisi justru membuat hubungan antara konstituen dengan partai semakin berjarak. Apalagi jika soliditas pengurus tidak terkonsolidasikan dengan baik maka akan memicu friksi internal partai,” jelasnya.

“Dan yang paling substansial adalah, apakah kepentingan rakyat turut dipertimbangkan ketika memutuskan tetap bergabung atau pecah kongsi dalam koalisi. Inilah sebabnya seharusnya koalisi itu berbasis gagasan dan strategi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena hakikat berpolitik harus bermuara pada kepentingan rakyat,” Imbuhnya.

Facebook Comments