HomeCerpenHantu Rumpun Bambu

Hantu Rumpun Bambu

Cerpen 0 1 likes 974 views share

Malam mulai tiba, Ardi dan Ito segera berangkat ke rumah Satrio. Mereka akan berburu jangkrik di belakang rumah Satrio. Selain keunikan suaranya, jangkrik juga bisa dijadikan hewan aduan, seru sekali.

Sepanjang jalan menuju rumah Satrio terasa sepi. Semilir angin malam, terasa dingin. Ardi dan Ito mengalungkan sarung, melawan dingin. Batang-batang mahoni yang besar disepanjang jalan, membisu dalam lelap. Kaki-kaki lincah itu sigap menyusuri jalan yang gelap.

Rumpun bambu yang lebat menjadi tanda rumah Satrio tinggal beberapa puluh meter lagi. Ada hawa aneh ketika semakin dekat dengan rumpun bambu itu.Ito mulai merapatkan badannya ke Ardi.

Ardi, jangan terlalu cepat jalannya,” kata Ito dengan cemas. Ardi yang lebih tinggi dan kekar memperlambat jalannya. Ardi terlihat sangat pemberani.

Beberapa meter mendekati rumpun bambu terdengar suara “Kruk…kruk…kruk…kruk”. Seperti suara induk ayam. Ito berhenti. Ia berpegangan pada lengan Ardi.

”Ardi, suara apa itu ?” Wajah Ito memucat.

”Tenang itu pasti suara induk ayam. Mungkin pemiliknya lupa memasukkannya ke kandang”. Tidak terlihat sedikitpun rasa ketakutan di wajah Ardi. Senter disorotkan ke rumpun bambu.”Aneh, tidak ada apa-apa.”

Dibelakang Ardi, Ito semakin merapat. Karena tidak menemukan apapun mereka segera berlalu.

Setelah beberapa langkah, suara itu terdengar lagi,”Kruk…kruk…kruk…kruk.” Ardi berbalik lagi dan memeriksa rumpun bambu itu lebih teliti. Ito semakin erat memegang lengan Ardi.

”Tidak ada apa-apa !” kata Ardi dengan yakin. Mereka segera berlalu. Setelah beberapa langkah suara itu terdengar lagi. Ardi mulai berdebar. Keberaniannya mulai terkikis.

Ia memeriksa rumpun bambu itu sekali lagi. Keringat dingin mulai membasahi baju Ito. Tidak ada apa-apa. Mereka berdua terdiam dalam sunyi . Sunyi yang melunturkan keberanian Ardi. Ketika terdengar lagi suara,”kruk…kruk. Kruk…kruk !” Ito dan Ardi segera berbalik arah, ”Hantuuuuuu!”

Mereka tidak mempedulikan lagi janji berburu jangkrik dengan Satrio. Satrio yang sudah menunggu terlalu lama hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, ”Ada apa dengan Ito dan Ardi?”

Penasaran, keesokan harinya Satrio segera ke rumah Ito. Ardi sudah ada disana, mereka sebenarnya berniat ke rumah Satrio. Bergantian Ito dan Ardi menceritakan kejadian semalam ke Satrio.

”Aku tidak percaya !” Satrio masih terlihat agak marah karena dua sahabatnya telah ingkar janji.

”Kamu boleh tidak percaya, tetapi itulah kenyataannya.” Ardi berusaha meyakinkan Satrio. Satrio tetap tak bergeming. Ia segera pulang dan mengira kedua sahabatnya itu telah berbohong.

Dalam perjalanan ia berbelok ke rumpun bambu. ”Itu pasti betul-betul suara induk ayam !” Diperiksanya rumpun bambu itu, tetapi tidak ada tanda-tanda adanya induk disitu semalam.

”Kalau ada ayam disini semalam pasti ada kotorannya.” Satrio termenung, ia tetap yakin tidak ada hantu di rumpun bambu itu. Hantu rumpun bambu hanya omong kosong.

Malam harinya Satrio mengendap-endap dirumpun bambu . Setelah diam sesaat, suara itu muncul,”Kruk…kruk. Kruk…kruk.” Satrio menyorotkan senter ke arah suara itu. Tidak ada apa-apa. Ia berdiam lagi.

”Kruk…kruk. Kruk…kruk.” Suara itu terdengar lagi. Senter diarahkan ke arah suara. Tidak ada apa-apa. Yang ada hanya batang-batang bambu yang menjulang tinggi dan beberapa pokok bambu yang ditinggal setelah ditebang.

Sebagian bambu yang sudah ditebang itu mengering dan kulitnya mulai berjamur. Ada lubang sebesar bola ping pong di ruas bambu yang kering itu. ”Suara itu pasti dari sini.” Satrio tersenyum.

Lubang itu kemudian ditutup dengan daun-daun bambu yang kering. ”katanya  rumpun bambu, besok pagi aku akan menangkapmu.”

Keesokan harinya ruas bambu kering yang berlubang itu digergaji. Ruas bambu yang berhantu itu kemudian disimpan di belakang rumahnya.

Satrio ke rumah Ardi. Ito juga ada di sana ”Ardi, Ito.. Nanti malam kerumahku. Aku sudah menangkap hantu rumpun bambu.”

Malam itu Ardi dan Ito ke rumah Satrio. Ketika lewat rumpun bambu suara itu memang sudah tidak terdengar. ”Hebat, Satrio benar-benar sudah menangkap hantu rumpun bambu itu.” Ardi yang pemberani tidak segan memuji sahabatnya itu.

Satrio sudah menunggu kedua sahabatnya itu.”Sekarang kita ke belakang rumah .”

”Ssst…coba kalian dengarkan suara itu!”. Satrio diam. Ardi diam. Ito menggigil ketakutan.”Kruk…kruk. Kruk…kruk !” Ito hampir berlari. Ardi dengan sigap memegang tangan Ito.

Satrio menyalakan senter dan mengarahkan ke ruas bambu tersebut. Bambu dibawa ke teras rumah Satrio.

”Sekarang kalian lihat wujud hantu rumpun bambu ini.” Satrio membuka sumbatan lubangnya. Satrio tersenyum. Ardi sedikit berdebar-debar. Ito menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Satrio.

Setelah ditunggu beberapa saat terlihat kepala keluar dari lubang dan menjulur-julurkan lidahnya. Sekejap kemudian, Hap ! Hap!. Seekor katak keluar dari lubang.

”Ini namanya katak bangkak. Dia tinggal dilubang-lubang kecil. Entah itu lubang di bambu, kayu atau dimanapun asal ia bisa bersembunyi dengan aman.” Satrio menambahkan lagi, ”Suara kruk…kruk. Kruk…kruk. Itu adalah cara untuk berkomunikasi dengan katak lainnya.”

Katak bangkak itu kemudian melompat ke tempat yang gelap. Suara kruk…kruk. Kruk…kruk terdengar saling berbalasan.

”Awas Ito ! Dibelakangmu ada hantu pisang raja!” Satrio menunjuk kebelakang Ito. Ito segera berlari ke belakang Ardi. ”Ha…ha…ha !” Satrio dan Ardi tertawa. Ito yang merasa dikerjai ikut tertawa juga. Derai tawa mereka bertiga sayup-sayup terdengar sampai ke rumpun bambu. Masih adakah hantu rumpun bambu ???


Penulis Cerpen: Tri Martana | Foto Header: Dwi Setiyani | Redaksi Kabar Blora

Facebook Comments