HomeCerpenPhotograph in Love

Photograph in Love

Cerpen 0 0 likes 2.3K views share

Namaku Kirana. Tapi, teman-temanku biasa memanggilku Kira. Jadi, panggil saja aku Kira.

Fotografi adalah hobiku. Aku mendapatkan sensasi yang berbeda saat ku bidikkan lensa kameraku pada objek yang menarik perhatianku. Aku memotret apa pun yang membuatku tertarik. Jutaan objek telah berhasil aku bidik. Ribuan momen telah kuabadikan lewat lensa kamera. Ratusan tempat telah kukunjungi untuk memuaskan hasrat memotretku. Berjejer–jejer foto menghiasi album yang telah menggunung.

Tapi, segalanya berubah sejak dia pergi. Meninggalkan kenangan yang telah kuat terpatri. Merenggut mimpi yang telah ku junjung tinggi. Dan kini, hanya kesunyian yang tertinggal bagiku.

Tak ada lagi objek yang mampu menarik perhatianku, kecuali Kota Lama. Tempat pertama kali kami dipertemukan oleh takdir.

Namanya Kama, Kama Samudra. Nama yang dengan waktu singkat telah mampu memenuhi seluruh isi otak dan pikiranku. Kama telah menyedot habis seluruh perhatianku. Dan hasratku memotret hanyalah dirinya. Aneh. Aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.

Dia seorang pelukis. Pelukis yang hebat, setidaknya itu bagiku. Saat itu, lensa kameraku tak sengaja memotret sosoknya yang sedang melukis. Entah mengapa, aku merasakan sesuatu yang berbeda saat melihatnya melukis. Yang membuatku tertarik untuk membidiknya. Entah apa itu namanya. Semua masih samar bagiku saat itu.

Aku beranjak meninggalkan tempatku, dan mulai melihat-lihat hasil jepretanku. Lumayan. Kurasa cukup untuk hari itu. Ditambah, hari juga mulai beranjak senja.

“Hei tunggu!” seseorang berteriak. Aku menoleh ke belakang. Dia sedang melambai-lambaikan tangannya. Apa dia yang memanggilku? Apa aku yang dimaksudnya? Jangan-jangan dia tahu aku memotretnya. Bagaimana ini? Aku harus cepat pergi. Pikiranku dipenuhi oleh segala pertanyaan-pertanyaan membingungkan.

“Hei kamu, syal biru. Tunggu!” Beneran aku? Kulirik sekitar. Tak ada orang lain di sini yang memakai syal biru selain aku. Kuhembuskan napas perlahan, memantapkan diri. Semua akan baik-baik saja, kusugestikan diriku sendiri. Langkahku pun terhenti, dan aku berbalik.

Sekarang kami saling berhadapan.

“Ada apa ya Mas?”, tanyaku. Masih menyimpan kegugupan dalam diriku.

“Kamu yang motret aku tadi kan?”

“Iya Mas. Maaf ya Mas. Saya ndak sengaja. Bener deh Mas. Sumpah!” kuacungkan kedua jari telunjuk dan tengahku ke udara. Agar dia percaya bahwa aku tak bohong. Dan membiarkan aku pergi.

‘Hahaha… kamu ini aneh.” Aku melongo dibuatnya. Kenapa dia malah tertawa. Bukannya dia  mau memarahi aku?

“Mas ndak marah?”

“Aku? Enggak lah. Aku cuma pengen lihat hasil jepretanmu aja kok.”

“Oh!”

“Boleh kan?”

“Iya. Ini.” Kuserahkan kameraku kepadanya. Dengan antusias dia meraihnya. Mulailah dia melihat-lihat hasil jepretanku. Setelah melihatnya, apa dia akan marah? Jangan-jangan dia tak suka dengan hasil fotoku.

Entah mengapa aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya. Dia seperti magnet saja bagiku.

“Wah! Keren… keren.”

“Eum…?” aku tergagap dari perhatianku terhadapnya.

“Kau pandai sekali memotret. Sepertinya, seluruh perasaanmu benar-benar kamu tuangkan dalam setiap bidikanmu. Jadi hasilnya itu kayak ada soulnya. Ada nyawanya. Lihatlah! Bahkan aku terlihat sangat keren dalam bidikanmu.” Dia menjelaskan panjang lebar. Aku serasa melayang saja mendapat pujian darinya. Ini hari pertama kami bertemu, tapi dia sudah membuatku terbang ke atas awan.

Tuhan! Ada apa denganku? Apakah aku masih normal? Uh! Ini lagi, ada apa dengan jantungku? Apa aku harus membawanya ke dokter jantung. Dia terlalu berdetak kencang sekarang.

“Aku tak percaya, ternyata aku sekeren ini.”

“Ki…!” aku mendapatinya melambai ke arahku. Lengkap dengan kuas dan cat di tangannya. Dia melukis lagi. Matanya menatap lurus kepadaku, berpadu dengan senyumnya yang menawan. Dua lesung pipinya nampak begitu jelas terukir. Kuhembuskan napas perlahan. Mengecek segalanya. Memastikan tak ada yang kurang dari penampilanku.

Jantung, untuk saat ini, bekerjasama dengan baiklah padaku.

“Hai Ka…! sudah lama?” tanyaku berbasa-basi.

“Belum kok. Ini aku baru mulai melukis. Duduklah!” dia menyodorkan sebuah kursi plastik kepadaku. Aku pun duduk di sampingnya. Ini hari kedua, tapi dia sudah membuatku gila.

Jantungku mulai melepaskan kontrolnya. Mataku ikut-ikut sulit ku kendalikan.

“Ka…”

“Hem…?” jawabnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari kanvas di depannya.

“Kenapa kamu suka melukis Kota Lama?”

“Entahlah Ki…Kota Lama seperti magis bagiku. Ada sesuatu yang menarikku untuk terus melukisnya. Sepertinya aku telah jatuh cinta.” Tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya kepadaku. Aku yang sedari tadi memperhatikannya, dibuatnya tercekat dan membeku di tempatku. Aku seperti maling yang ketahuan aksinya.

Lalu, apa katanya tadi. Dia jatuh cinta? Kepada siapa? Kepadaku? Ah! Mana mungkin.

“Apa?”

“Iya. Sepertinya aku telah jatuh cinta pada Kota Lama.”

“Oh! Ku kira.”

“Kau kira apa Ki?”

“Bukan. Bukan apa-apa kok.” Dia hanya tersenyum dan melanjutkan kembali lukisannya. Tak memaksaku untuk menjelaskan. Nilainya makin tinggi di mataku. Dia benar-benar tipe yang kucari. Bahkan sejak hari pertama dia sudah menarik hatiku.

Dan tanpa kusadari, mataku kembali terpaku menatapnya.

“Ki…”

“Ya.” Aku kembali tergagap. Apa aku ketahuan. Apa dia tahu, bahwa sejak tadi aku memperhatikannya. Jangan. Kuharap jangan. Tapi, kalau aku tak bisa menahan diriku terus-terusan seperti ini, lama-lama aku akan ketahuan.

“Terimakasih ya. Sudah mau memenuhi permintaanku.”

“Itu bukan masalah. Tapi ada syaratnya.”

“Syarat? Syarat apa? Ku kira tak ada syarat.”

“Syaratnya…,” aku mulai tersenyum usil. Dia menatapku, menunggu kata-kataku selanjutnya.”… kau harus membuatkan lukisan khusus buatku.”

“Oh! Itu. Ku kira apa.” Dia kembali tersenyum. Menampakkan kembali kedua lesung pipinya. Kenapa sih dia selalu tersenyum. Kama, kalau kau tak ingin aku gila, jangan terus-terusan tersenyum seperti itu padaku.

“Baiklah. Kita deal ya?” diulurkannya tangannya kearahku. Dengan senang hati aku meraihnya.

“Deal.”

Mulai saat itu, hari-hariku habis bersama Kama. Berdua berkeliling menikmati kemagisan Kota Lama. Dan tak lupa, kubidikkan kameraku ke arahnya. Dia sudah berubah jadi candu buatku. Tak ada dia, aku seperti berada dalam ambang kematian. Mungkin aku terlalu lebay. Tapi ini adalah nyatanya. Bersatu dengannya itu masalah nanti. Asal aku bisa selalu bersamanya itu sudah cukup. Melihatnya bahagia, membuatku bahagia juga.

Kama, tahukah kamu? Aku sudah gila karenamu.

Aku selalu menyukai pagi. Selalu. Pagi selalu membuatku bersemangat. Di setiap waktuku, hanya pagi yang selalu ku nanti. Dan tak pernah ingin dia cepat berlalu.

Pagi membuatku tersenyum. Meski tanpa alasan yang pasti. Pagi membuatku bernyanyi dan menari. Menikmati melody yang diciptakannya. Menelusuri setiap detiknya dengan senyum semangat.

Aku telah siap menyambut kebahagiaan yang diciptakan pagi. Karena pagi mempertemukan aku dengannya. Dan pagi ini, masih pagi yang aku nanti.

Kulirik jam digital di tangan kiriku. Sudah jam delapan. Dia belum juga datang. Aku yang terlalu bersemangat, hingga terlalu cepat sampai, atau, dia yang datang terlambat? Akan aku tunggu sebentar lagi. Mungkin dia memang terlambat.

Ku edarkan pandanganku ke sekeliling. Masih juga tak ku temui sosoknya. Kemana dia? Semangatku yang menggebu, kini menguap seketika. Pagi ini tak cerah lagi bagiku.

Kring…kring…kring…

Suara bel sepedaku memaksaku menoleh. Dan pagiku kembali cerah seketika. Kalian pasti sudah bisa menebak siapa gerangan di balik suara kringan sepeda itu. Dia. Ya. Dia dengan gagahnya duduk di balik kemudinya. Dengan senyum yang selalu menawan bagiku.

“Hai! Sudah lama?”

“Setidaknya kau sudah membuat kakiku kram.” Kataku sembari memberengutkan wajahku. Padahal, dalam hatiku, aku berlonjak gembira. Siapa juga yang bisa marah dengannya. Melihat senyumnya saja, segala emosi luntur seketika.

“Hei, jangan marah begitu. Aku tahu, makanya, naiklah!”

“Kemana?”

“Naik sajalah.” Ku turuti saja katanya. Aku tak pernah marah. Semua ini aku lakukan, agar aku tak terlihat bahwa aku sangat mencintainya. Sebagai wanita, kita jangan sampai menjatuhkan harga diri kita di depan laki-laki. Sebesar apa pun kita menggilainya. Jangan sampai mereka beranggapan kita itu gampangan. Mudah dirayu dan di taklukkan. Kata orang, wanita itu harus jinak-jinak merpati.

“Kenapa hari ini naik sepeda?” tanyaku. Sepeda kami telah melaju menyusuri Kota Semarang.” Kama, apa kamu tahu, ini lebih baik dari segalanya. Menyusuri Kota Semarang bersamamu adalah kebahagiaan tak ternilai bagiku.” Hatiku bersuara lirih.

“Kenapa? Apa kau kepanasan?”

“Bukan. Bukan begitu. Hanya tak biasanya saja.”

“Aku sedang ingin berkeliling Kota Semarang sekarang. “

“Ow!”

“Tak apa kan kita pindah objek? Kau potret saja apa yang kamu suka. Aku yang akan mengayuhnya.”

“Baiklah! Kalau itu maumu.”

Kami berhenti di alun-alun kota, Simpang Lima. Beristirahat sejenak. Dia nampak kelelahan sekali. Napasnya tak beraturan. Apa aku terlalu berat? Ku rasa tidak. Aku termasuk golongan gadis mungil. Setidaknya itu yang dikatakan temanku. Bahkan mereka pernah berseloroh bahwa beratku ini seperti kapas. Tak ada bobotnya. Lalu kenapa dia sangat kepayahan? Aku dibuat cemas sekarang.

“Ka… kamu baik-baik saja kan?” aku tak bisa menyembunyikan perasaan khawatir ini. Sepertinya, sebentar lagi aku akan ketahuan.

“Iya…kamu…tenang saja.” Jawabnya terputus-putus. Wajahnya sangat pucat sekarang. Peluh deras mengucur dari dahinya. Napasnya masih memburu. Begitu pula napasku, karena khawatir dengan keadaannya.

“Ka…?” ku sentuh  pundaknya.

“Aku baik-baik saja. Hanya perlu istirahat.”

Aku hanya bisa duduk diam di sampingnya. Menunggu sampai dia dapat  menenangkan dirinya. Entah apa yang terjadi padanya. Aku tak tahu. Dan aku tak berani bertanya. Ku harap dia akan baik-baik saja. Dia laki-laki pertama yang membuatku khawatir seperti ini.

“Kurasa aku sudah baik-baik saja.”

“Sungguh?”

“Iya. Ayo kita pulang!” dia sudah beranjak menuju sepeda kami. Kelihatannya dia masih lemas. Kenapa dia memaksakan diri? Kalau dia sakit, tak perlu dia menemuiku. Aku tak apa. Meski akan ada yang kurang dengan pagiku. Melihatnya seperti itu menumbuhkan sebuah gagasan di kepalaku.

“Tunggu!”

“Ada apa?” dia menatapku heran. Meminta penjelasan lebih lanjut.

“Biar aku saja yang boncengin kamu ya?”

“Kamu? Tidak. Tidak. Aku masih mampu Ki.” Dia masih bersikeras rupanya. Lihatlah! Wajahnya masih pucat begitu.

“Tidak. Untuk saat ini, kamu harus nurutin aku. Pokoknya aku yang boncengin, atau aku berhenti jadi fotografer kamu.” Terpaksa aku memberi ancaman padanya. Padahal , aku tak pernah berniat sedikit pun untuk berhenti. Fotografi adalah hidupku. Dan dia juga hidupku. Aku tak ingin berpisah dari dua hidupku ini.

“Oke. Kali ini aku nurut sama kamu.”

Ternyata dia tak seberat yang aku kira. Malah terkesan ringan. Dia sejak tadi hanya terdiam di boncengan belakang. Seperti memikirkan sesuatu, atau, dia mengantuk? Aku jadi canggung memulai percakapan lagi. Kalu dia mengantuk, semoga tak terjatuh dari boncengan ini. Gak lucu kan nanti jadinya.

“Ki….” akhirnya dia bersuara.

“Ya.”

“Maafkan aku.”

“Untuk apa? Kau tak melakukan kesalahan apa pun padaku.”

“Pokoknya aku minta maaf. Untuk hal yang sudah aku lakukan padamu.”

“Hei… kau ini kenapa? Seperti orang mau meninggal saja.” Aku tersentak sendiri oleh kata-kataku. Bagaimana mungkin aku bisa memikirkan hal ini. Apa yang telah aku lakukan. Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa ku sadari.

“Bodoh! Lihatlah! Dia terdiam lagi. Dia pasti tersinggung dengan kata-katamu.” Hatiku mengutuk diriku.

Perlahan ku rasakan kepalanya menyender di punggungku. Cemas segera menceruak. Apa kata-kataku jadi kenyataan? Mana mungkin. Aku bukan tukang teluh atau pun tukang sihir. Aku semakin merutuki diriku yang telah mengatakan hal itu padanya. Sepeda ku hentikan sejenak di bawah pohon rindang. Agar dia tak kepanasan.

“Ka…Ka… kamu kenapa?” kugoyangkan tubuhnya perlahan.

“Oh! Maaf Ki. Aku ketiduran. Aku mengantuk sekali.” Dia telah mengangkat kepalanya dari punggungku. Syukurlah dia baik-baik saja.

Dan perjalanan dilanjutkan kembali. Dia tertidur kembali di punggungku. Kelihatannya, dia memang sangat lelah. Aku bisa merasakan napasnya sampai menembus kulitku. Setiap tarikan napasnya, menciptakan melody baru dalam hidupku. Dan jantungku sedang lompat-lompat kegirangan sekarang.

“Ka… tidurlah! Aku akan pelan-pelan. Tak akan mengganggu tidurmu. Waktu akan lama berlalu sekarang. Aku akan membiarkanmu tetap terlelap, sampai kau bangun dengan sendirinya.” Hatiku lirih berkata. Dan hari ini berlalu dengan senyuman yang terus terukir di bibir insan yang sedang kasmaran ini.

Semua berjalan begitu saja. Rasa yang ku rasakan semakin tumbuh subur dalam hatiku. Setiap pori-pori hatiku telah terisi penuh wajahnya. Seluruh waktuku habis untuk memikirkannya.

Mungkin ini cinta. Entahlah. Tapi sepertinya memang iya. Aku hanya ingin cinta yang sederhana. Bagiku, bisa menghabiskan waktu bersamanya sudah cukup membuatku bahagia. Aku takut, saat kuutarakan perasaanku padanya, dia akan menghindariku. Dan bahagiaku akan hilang. Tidak. Lebih baik cinta ini tak terbalas, asal dia selalu ada bersamaku.

Saat rasa ini bertambah levelnya, aku tak pernah befikir bahwa suatu saat hari dia pergi akan datang. Bukannya tak pernah, tapi aku tak ingin memikirkannya.

“Kemana dia? Tumben jam segini belum datang. Mungkin seperti waktu itu lagi.” Gumamku sendiri pada diriku. Ku putuskan untuk berkeliling. Mungkin aku akan bertemu dengannya di salah satu sudut Kota Lama ini.

Siang semakin beranjak. Dan senja telah mengintip. Tak juga ku temui raganya. Ku putuskan melangkah pergi.

Telah lebih sebulan tak ku temui sosoknya. Tanpa kabar, tanpa berita. Hidupku berantakan. Aku semakin dibuat gila oleh rindu yang kian menyiksa. Yang mampu ku lakukan hanya pergi ke tempat ini, Kota Lama. Berharap sosoknya akan menghampiri.

Nomor ponselnya sudah tak aktif. Andai ku taku rumahnya, sudah ku datangi dan menumpahkan sumpah serapahkuterhadapnya. Berani-beraninya dia membuatku rindu.

“Maaf. Non Kira?”

“Iya.” Jawabku singkat. Seorang bapak-bapak menghampiriku dan membawa bungkusan besar di tangannya.

“Ini. Wonten titipan dari Den Kama.” Demi mendengar nama itu, senyumku langsung mengembang. Mataku berbinar cemerlang. Ku raih bingkisan itu. Seperti sebuah figura.

“Dan ini ada suratnya.” Ku raih juga amplop putih itu. Kalau dugaanku benar, ini adalah lukisan yang ku minta. Tapi, kenapa bukan Kama sendiri yang memberikannya. Apa dia takut aku omeli gara-gara menghilang. Mungkin saja.

“Kamanya di mana pak?”

“Den Kama… itu… Den Kama…,” bapak itu urung melanjutkan kata-katanya. Ragu-ragu mengatakannya kepadaku. Ada apa gerangan.

“Iya pak. Kama dimana?” tanyaku sekali lagi.

“Den Kama sudah meninggal seminggu lalu Non.” Bagai petir menyambar saat  kudengar berita itu. Meninggal? Mana mungkin. Tubuhku tak siap menerima semuanya. Hampir saja aku limbung. Semua terasa berat untuk ku cerna. Tak bisa begitu saja menerima semua ini.

“Non tidak apa-apa?’

“Bapak bohong kan? Pasti dia sedang sembunyi di sekitar sini. Dia mau ngasih kejutan buat aku kan? Iya kan Pak?”

“Saya tidak bohong Non. Den Kama sudah lama sakit kanker. Sebulan yang lalu koma di rumah sakit. Dan minggu kemarin Aden meninggal.”

“Kanker?”

“Maaf Non. Saya harus cepat kembali.” Aku membiarkan bapak itu pergi. Otak dan hatiku mulai bisa mencerna semua. Kama sakit kanker. Kanker? Mana mungkin? Dia tak nampak seperti seseorang yang sakit. Bahkan dia terlihat sangat bugar.

Air mataku menderas mengalir. Dadaku terasa sesak oleh sakit yang tak ku mengerti. Apakah harus begini akhir dari rasaku?

Dengan gontai ku langkahkan kaki menuju rumah. Pandanganku kosong, entah menatap kemana. Kuletakan perlahan bingkisan itu di atas kasur dan membukanya hati-hati. Benar. Itu lukisanku.

“Lihatlah Kama! Kau juga sangat keren. Bahkan aku lebih cantik dalam lukisannmu.” Air mataku kembali menderas. Dan ku teringat amplop putih itu.

Untuk, Kirana

Fotografer tercantik di seluruh pelosok jagad Kota Lumpia.

Ki…saat kau membaca surat ini, berarti aku sudah pergi sangat jauh darimu. Terima kasih telah menjadi fotografer pribadiku selama ini. Kau yang terbaik bagiku.

Ada rahasia yang ingin aku ungkapkan padamu. Rahasia yang dengan sangat susah payah aku sembunyikan darimu. Rahasia itu adalah, bahwa aku mencintaimu. Sejak awal pertemuan kita.

Sebenarnya, menjadikanmu fotografer hanyalah kedok agar aku bisa selalu bersamamu. Bersama berjalannya waktu, aku mulai menyadari, kau juga tertarik padaku. Bisa saja aku mengutarakan rasa ini padamu. Mungkin kau tak akan menolaknya. Tapi, aku tak mau melakukan itu. Karena aku tak mau menyakitimu suatu hari nanti.

Ki… aku penderita kangker otak. Stadium akhir. Aku tahu hidupku tak akan lama lagi. Waktuku sangat singkat. Aku tak ingin di akhir hidupku yang singkat ini,aku menyakiti seseorang yang sngat aku sayangi. Yaitu, kamu. Dan aku memilih menahan rasa ini dalam hati ini saja.

Ku harap kau menyukai lukisan ini. Aku membuatnya dengan sepenuh hatiku.

Semoga kau selalu bahagia.

Jangan bersedih karenaku.

Salam,

Kama S., yang selalu mencintaimu sampai akhir hidupnya

Tak ada lagi tempat yang mampu menarik perhatianku. Hanya Kota Lama yang akan aku foto. Bagiku, Kota Lama adalah saksi bisu dari kisah cinta kami. Berada di tempat ini, seperti merasakan hadirnya Kama di sini. Langit Kota Lama ini telah terukir kisah kami.

Trit.. Trit..Trit..

Ponselku bergetar. Ku rogoh sakuku dan mengambil ponsel di dalamnya. Ku lirik sekilas nama yang tertera di sana. Ku tekan tombol hijau dan meletakkannya di telingaku.

“Halo.”

“Kiraaa…,” terdengar teriakan cempreng di ujung sana. Orang ini belum berubah.

“Ada apa Qis? Pelanin dong volume suara kamu.” Telingaku terasa berdenging mendengar teriakan cempreng khasnya itu.

“Hehehe… maaf. Kamu di mana?”

“Kota Lama.”

“Cocok banget. Tunggu di sana ya!”

“Memangnya kamu….”

Tut… Tut…Tut….

Sambungan telah terputus. Selalu saja seperti ini. Memutus telepon sembarangan. Tak membiarkan lawan bicara menyelesaikan kata-katanya dulu. Tak pernah berubah dari dulu.

“Kiraaa…,’ nah itu orangnya sudah muncul. Qisha melambai-lambaikan kedua tangannya ke arahku. Aku urung membidikkan kameraku. Dan menggantungnya kembali di leherku.

Oh! Dia tak sendiri rupanya.

“Kira, ini Tody. Calon suami aku.” Katanya berbisik di telingaku saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Dia mau menikah rupanya.

“Hai,” sapaku pada Tody.

“Ra, kamu bawa kamera kan?”

“Iya. Kenapa?”

“Rencananya aku mau foto pre-wed. Kamu mau ya jadi fotografernya?”

“Qis, kamu tahu kan? Aku hanya bisa memotret Kota Lama.”

“Makanya, aku pilih Kota Lama jadi settingnya. Mau ya? Demi aku.” Sejenak aku mulai memikirkannya. Ku rasa tak ada salahnya. Lagian ini untuk sahabatku sendiri juga.

“Please Kira.. mau ya? Masak tega sih sama aku. Mau ya…? ya…?”

“Eum.. baiklah.

“Yeay…makasih Kira sayang.” Qisha berhambur ke arahku. Memelukku dengan eratnya. Anak ini memang sangat ekspresif. Apa dia dia tak malu dengan calon suaminya.

“Qis… aku gak bisa napas nih.’

‘Hehehe… maaf. Aku seneng banget.”

“Baiklah. Kita mulai sekarang. Kalian jalan-jalan saja. Nikmati waktu kalian di Kota Lama ini. Aku akan memotret kalian, saat ku dapatkan yang menarik.’

“Sipp! Percaya deh sama kamu.”

Mereka mulai berjalan menikmati kemagisan Kota Lama. Terlihat sekali mereka sangat bahagia. Andaikan Kama ada di sini, aku pasti juga akan bahagia. Ah! Sudahlah. Semua sudah berlalu.

Kini Kota Lama juga akan jadi saksi kebahagiaan mereka.

Bukkkk…..

Seseorang berlari dan menyenggol tubuhku. Membuatku terhuyung ke depan. Dan, fatal. Kamera di tanganku terlepas dari genggaman. Dan lensanya pecah berkeping-keping.

“Maaf. Saya benar-benar gak sengaja. Apa kameramu baik-baik saja?”

“Kau bisa lihat sendiri, lensanya pecah berkeping-keping.” Jawabku kesal.

“Ada apa Kira? Kameramu?” Qisha buru-buru menghampiriku dan bertanya apa yang terjadi.

“Maafkan saya. Saya sangat menyesal ini terjadi. Tapi, saya harus pergi sekarang. Bisa berikan nomor ponselmu?”

“Untuk?”

“Setelah urusan saya selesai, saya akan menghubungimu untuk bertanggung jawab.’

“Baiklah.’ Ku diktekan deretan  nomor digit ponselku.

“Oke. Udah aku save. Oh ya! Ini kartu nama saya. Saya benar-benar harus pergi sekarang.”

Dia sudah melesat jauh meninggalkan kami. Hampir saja tak ku pedulikan kartu nama di tanganku ini. Aku tak tahu apa dia bersungguh-sungguh ingin bertanggung jawab atau tidak. Biarlah! Aku masih mampu mengganti lensaku sendiri. Itu fikirku. Baru saat aku ingin membuang kartu nama itu, sudut mataku menangkap sesuatu yang membuatku mengurungkan niatku.

Dalam kartu itu tertulis,

Kama Satria, pelukis

#TAMAT#

Facebook Comments