HomeCerpenPotret Pemuda Hutang Beasiswa

Potret Pemuda Hutang Beasiswa

Cerpen Suara Warga 0 0 likes 830 views share

Foto: Jalaluddin (Dokpri)

Saya menulis ini gara-gara banyak teman penerima beasiswa dari pemerintah melupakan kewajiban sosial ketika kembali ke masyarakat. Bahkan beberapa diantaranya ketika kita mengeshare di sebuah grup penerima sebuah beasiswa malah komentar “Jangan ngeshare sesuatu yang gak jelas” tanpa baca isinya.

Ada juga yang komentar banyak kurang ini kurang itu tanpa tahu di lapangan seperti apa. Pas ditanya kira – kira bisa bantu apa pas ditanya malah diam. Yang paling menyebalkan kata beberapa teman ada penerima beasiswa Bidikmisi maupun LPDP setelah mendapatkan dan lulus, muk ngurus wetenge dewe, dengan menjadi panjat sosial di Media sosial.

Hal di atas merupakan sedikit dari contoh kasus dan masih banyak lainya. Walaupun banyak juga yang bagus seperti beberapa teman yang sudah membantu membuat sekolah informal dari kelompok penerima LPDP di Bali. Ada juga yang membantu membuat project sosial di wilayah-wilayah pedalaman, walaupun statusnya ASN dengan gaji masih rendah dia tetap semangat. Serta masih banyak lainya.

Foto: Jalaluddin (Dokpri)

Dari pengalaman sendiri

Saya itu penerima beasiswa dari SMP-SMA hingga kuliah S1. Dan semua itu bukan membuat saya bangga akan kegratisannya. Di balik gratisnya Beasiswa itu ada sebuah bencana jika itu tak dilaksanakan yaitu tanggungjawab moral yang harus di bayar dan itu sangat besar sekali. Boleh lah ngomong sok tau, atau seneng jika dapat beasiswa. Belum nanti jika sudah lulus.

Saya itu paling kesel kalau ketemu teman sesama penerima beasiswa yang mentalnya cuma menerima, menerima dan seperti tidak ada usaha sama sekali. sekalipun ada usaha itu untuk memenuhi perut sendiri. Pas jaman kuliah lebih nyesek lagi tau kelakuhanya cuma nongkrong, kalau sudah pulang ke kostsan, ya mending kalau lulus cepet nilai bagus, habis itu kerja terus bisa kembali ke masyarakat.

Sebatas angan-angan

(Lupa jaman diwawancara dan pelatihan sosial yang diberikan kepada penerima beasiswa).

“Jika Beasiswa mudun (turun) HP anyar (baru), Pakaian merek (bermerk), Nongkrong ke mall, nonton film bioskop, Jalan-jalan (Habis itu Selpi ke medsos) nanti pas bokek (tidak punya uang) minjem ke teman penerima beasiswa lainya. masih mending kalau pinjem awal buat laptop (bagi yang gak punya, memang kebutuhan wajib mahasiswa). Minjem (meminjam) ada juga yang dipakai buat jalan2 dan update medsos”.

Apa yang terjadi kemudian

Setelah lulus……. Masih melamar kerja sana-sini sekaligus nganggur. seandainya sudah di terima kerja, mikir kredit motor, kalau dapat kerja lebih bagus, mikir nyicil mobil, nikah cepet-cepet, dimana semuanya itu banyak yang ambil kreditan. bahkan beberapa diantaranya yang bikin nyesek sampai pas biaya Nikah sama di kejar cicilan sampek ngutang nek aku. (Lha dalah)
Lha terus kapan sampean ada waktu buat sosial? nanti kalau anak sudah jebrol apa masih ada waktu?

Foto: Jalaluddin, (Dokpri)

Saya malah merindukan sebuah sistem dimana setelah mendapatkan beasiswa bidikmisi, minimal ada pengabdian ke masyarakat 1-2 tahun. habis itu silahkan monggo memperkaya diri sendiri. kalau yang saya lihat di LPDP hal tersebut sudah di terapkan. Walaupun penyerapanya belum sepenuhnya berjalan dengan baik. hal itu juga disampaikan teman yang sudah lulus dari luar negeri yang mendapat beasiswa dari pemerintah.

Seaindainya sudah lulus S1 dari BIDIKMISIpun pas sudah pulang kampung ya, apa mau Serawung dengan masyarakat. boro-boro, ada juga yang ngasih jawaban belum sukses belum kembali ke masyarakat.

Duh kang sampean iki mbok ya mikir, pemerintah kui Bayari sampean beasiswa kui dari keringet petani, buruh, masyarakat yang ada di indonesia. apalagi yang sampai ikut organisasi yang ada sangkut pautnya dengan Teroris. lebih nyesek lagi. Belajarlah dari politik etis. memangnya para pejuang gak srawung di masyarakat?

Apalagi yang paling mengesalkan dari semuanya.
Pas wawancara Sebelum menerima beasiswa keluar negeri :
Saya ingin memajukan bangsa………
Hemmmmmm…..

Foto: Jalaluddin, (Dokpri)

Pas balik ke Indonesia

Iki kok wong indonesia bodo-bodo, ora teratur, di omongi do keminther (Ini orang Indonesia bodoh-bodoh, tidak teratur, dikasih tahu sok ngerti).

Ya memang banyak yang keminter, ada sebuah kasus dimana banyak sekali teman-teman pas tau jurusanku di sejarah, pasti tanya PKI 65 SEK BENER SOPO? pas dikasih sedikit penjelasan mereka membenarkan versinya sendiri. dari mbah guugel (Google) ….

Berasa 6 tahun lamanya bergelut degan buku sia-sia usahamu. Justru itu yang jadi PR Bersama. bagaimana menyadarkan mereka untuk bisa menjadi teratur, Minimal buang sampah gak sembarangan.

YANG TERAKHIR DAN PALING PENTING….
NGAPAIN KULIAH TINGGI-TINGGI DAPAT BEASISWA SAMPAI KELUAR NEGERI UJUNG-UJUNGNYA PAS BALIK KE INDONESIA MALAH MENCARI DAN MELAAMAAAARR PEKERJAAANN. NEGARA MEMBIAYAIMU RATUSAN JUTA BAHKAN ADA YANG LEBIH SAMPAI 1 M NAK NEK NEGARA2 EUROPE, AUSSY, LATIN, AS DSB.

PULANG MALAH NAMBAH BEBAN NEGARA…

Semoga sebagai sesama penerima beasiswa paling gak ngerti lah sedikit saja, bagaimana mengembalikan ke masyarakat.

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali” – Tan Malaka ”
― Tan Malaka, Madilog


Penulis: Jalaluddin, Alumni Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Jurusan Sejarah.

Facebook Comments