HomeCerpenPutih Abu-abu, Koran dan Lampu Merah

Putih Abu-abu, Koran dan Lampu Merah

Cerpen 0 0 likes 1.1K views share

Disudut jalan ini,
Dibawah lampu merah,
Bermandi peluh,
Membasah tubuh,
Demi sekolah ku,,,

Lirik lagu ini merupakan lirik lagu kegemaran Aiman, karena ia merasa lagu ini mewakili apa yang tengah dia alami saat ini.

Aiman merupakan sulung dari empat bersaudara Dia terlahir dari keluarga sederhana ayahnya hanyalah seorang buruh angkut disebuah Depot kayu, sedangkan ibunya seorang penjual kue disebuah pasar kecil dipinggiran Kota, selain itu Aiman juga dianugrahi Tuhan dengan Kaki yang tidak sama dengan kebanyakan orang, kaki kiri nya lebih kecil dibangdingkan kaki kanan nya, walaupun demikian semua itu tidak membuatnya putus asa.

Aiman saat ini duduk di kelas 1 sebuah SMA. Dibalik keterbatasan fisik dan ekonomi Ia tetap semangat dan menunjukan prestasi disekolahnya, namun sayang ketika pembagian rapot Dia tidak dapat menujukan hasil prestasinya kepada Orang tua nya karena tertunggak biaya SPP, Ia hanya diperlihatkan sebentar oleh wali kelas nya.

“Aiman, selamat nilai rapot kenaikan kelas mu bagus kamu masuk peringkat 4 besar, ini berarti nanti kamu dikelas 2 masuk di kelas unggulan, samapaikan ini kepada orang tua mu tapi maaf Ibu tidak dapat menyerahkan Rapot ini pada mu karena kamu tertunggak SPP selama 4 bulan” Ujar Bu Sri yang merupakan Wali kelasnya.

“Iya bu, nanti saya sampaikan kepada orang tua” Aiman menjawab dengan rasa bangga dan haru. Sepanjang jalan menuju rumahnya Ia memikirkan bagaimana cara melunasi SPP agar rapotnya tadi dapat diperlihatkan kepada orang tuanya, terpikirlah oleh nya untuk berjualan koran di lampu merah.

Sesampainya di rumah ia memberitahu orang tuanya apa yang sudah di sampaikan Bu Sri tadi dan Ia memohon izin selama liburan sekolah untuk berjualan koran agar dapat melunasi tunggakan SPP nya.

“Pak, selama liburan sekolah ini Aku mau jualan koran di Lampu merah, Boleh ya pak?”

“Boleh Nak, tapi hati-hati ya disana banyak mobil, kamu nanti jualannya ngak usah sampai masuk ke dalam bis cukup bejualan dari luar saja ya” walaupun memberikan izin bapak cukup khawatir dengan keadaan anaknya, namun Ia tetap memberikan izin untuk melatih kemandirian sang anak.

Keesokan harinya, pagi-pagi Aiman sudah berpamitan kepada orang tua nya “Pak,, bu,,, aku mau berangkat jualan koran ya, mohon doanya pak” kata Aiman. “Ya nak hati-hati, Ibu doa in jualan mu lancar” jawab Sang Ibu.

Sesampainya dilampu merah ditemuinya seorang penjual koran “Maaf kak saya Aiman, saya mau jualan koran juga, boleh tau ngak kak dimana ya Agen koran?” ia sengaja bertanya ke penjual koran ini karena dilihatnya si penjual koran memiliki keterbatasan fisik yang sama dengan diri nya sehingga ia meyakini bahwa si penjual koran ini tidak akan merasa tersaingi nantinya “Oh,,, kamu mau jualan koran juga ya! itu disana” sambil menujuk kearah tempat si Agen koran mangkal, “Cepat kamu kesana karena Pak Komar (Nama Agen Koran) hanya sampai jam 7 mangkal di situ dan baru kesini lagi jam 12 siang nanti untuk mengambil setoran dari kami” Tambah si Penjual koran tadi “Baik kak, terima kasih banyak ya” Aiman pun bergegas menemui agen koran tersebut.

“Maaf pak saya Aiman, saya mau berjualan koran boleh ngak saya jual koran punya bapak” ujar Aiman kepada Pak Komar sang Agen koran

“Boleh, tapi saya mau tau kamu pulang kemana? sebab saya hanya sebentar disini dan baru kesini jam 12 nanti saya takut setelah koran laku kamu malah kabur” jawab Pak Komar

“Rumah saya ngak jauh kok dari sini pak, yakinlah Pak saya orang baik-baik saya mau jualan karena melunasi bayaran sekolah pak” Aiman menyakinkan Pak Komar.

Mendengar penjelasan Aiman, Pak Komar pun percaya “Oke, Bapak Percaya”

kemudian Pak Komar menjelaskan “Ini Koran Merk A dijual Rp.1.500 nanti kamu setor ke saya Rp.1.300, Sedangkan untuk Koran B ini dijual Rp.1.000 kamu setor kesaya Rp.900. Hari ini kamu bawa sedikit saja dulu karena kamu kan baru mulai”

“Baik pak, jadi untuk koran A untung saya Rp.200 dan untuk koran B untung saya Rp.100” sahut Aiman

“Ya, ini kamu coba dulu bawa masing-masing 20 eksempelar, nanti jam 12 kamu setor hasil penjualan mu” tambah Pak komar

Dan sejak saat itu dimulailah Pejuangan Aiman di lampu merah.

Pada saat pertama berjualan Ia sempat juga mengalami kegugupan dan ketakutan dengan deru kendaraan yang lalu lalang di lampu merah tersebut namun hari itu ia dinaungi oleh keberuntungan koran-koran tersebut sudah ludes terjual dalam waktu 3 jam saja.

“Alhamdulillah, koran ku hari ini cepat habis” Aiman bergumam dalam hati sembari melihat kearah si penjual koran yang pagi tadi memberitahu tempat Agen koran, dilihat nya koran yang dibawa si penjual tersebut masih banyak.

“Sini kak aku bantuin jual” Aiman menawarkan bantuan,
“Tidak usah Dik, kamu istirahat saja” jawab si penjual koran tadi,
“Ngak apa-apa kak, lagian Pak Komar masih lama juga kesini” Sahut Aiman

“Baiklah jika kamu memaksa, ini kamu jual 5 buah koran yang seribu-an ini saja” kata si penjual koran sembari memberikan 5 eksemplar koran.

Sejak saat itu mereka berdua menjadi teman baik karena memilki ikatan emosianal yang kuat yaitu sesama penyadang disabilitas.

Hari-hari liburan sekolah sudah hampir berakhir, namun tabungan Aiman masih kurang untuk melunasi tunggakan SPP nya, sehingga Ia memutuskan untuk berjualan koran sampai sore, karena selama ini ia hanya berjualan sampai jam 12 saja. Berkat kegigihan dan kesungguhan akhirnya sebelum masuk sekolah tabungan Aiman sudah cukup untuk melunasi tunggakannya, walaupun demikian Aiman tetap berjualan namun hanya setengah hari saja.

Dan akhirnya libur sekolah pun berakhir, Aiman tidak dapat lagi berjualan di pagi hari sekarang ia berjualan di siang hari sepulang sekolah.

Pada Hari pertama masuk sekolah Aiman langsung ke ruangan Adminitrasi untuk melunasi tunggakannya setelah lunas Ia pun memperoleh Rapot, dan benar apa yang di sampaikan Bu Sri dulu ketika pembagian rapot kenaikan kelas Aiman masuk kelas unggulan dan ternyata dari 40 orang murid hanya 4 orang murid laki-laki nya, walaupun memilki keterbatasan fisik Aiman tidak pernah mau ketinggalan dari teman-temannya ini terlihat ketika pelajaran olahraga padahal dia sudah diberi keringanan oleh Bu Yati sang guru olahraga.

“Aiman kamu tidak harus mengikuti pelajaran ibu, kamu cukup absensi saja” kata Bu Yati

“Ya bu terima kasih, tapi saya mau ikut pelajaran olahraga. Kalau teman-teman disuruh lari, saya jalan saja. Kalau kawan main Volly atau Bulutangkis saya wasit nya” jawab Aiman
_____________________________________________________________________________________________
Selama sekolah Aiman tidak mengalami banyak hambatan dan tetap berjualan koran di lampu merah setelah Ia pulang sekolah dan tidak pernah lagi tertunggak SPP hingga ia tamat SMA.

Ia tidak pernah Putus asa ataupun menyalahkan Nasib dan Takdirnya

Cerita diatas diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 1999-2002.

Saat ini Aiman sudah menjadi seorang guru dengan tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah di sebuah SMK Swasta. Semoga Tulisan ini dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca. (Gurusiana/Dedi Sulaiman)

Abu-abu, Koran dan Lampu Merah

Disudut jalan ini,
Dibawah lampu merah,
Bermandi peluh,
Membasah tubuh,
Demi sekolah ku,,,

Lirik lagu ini merupakan lirik lagu kegemaran Aiman, karena ia merasa lagu ini mewakili apa yang tengah dia alami saat ini.

Aiman merupakan sulung dari empat bersaudara Dia terlahir dari keluarga sederhana ayahnya hanyalah seorang buruh angkut disebuah Depot kayu, sedangkan ibunya seorang penjual kue disebuah pasar kecil dipinggiran Kota Palembang, selain itu Aiman juga dianugrahi Tuhan dengan Kaki yang tidak sama dengan kebanyakan orang, kaki kiri nya lebih kecil dibangdingkan kaki kanan nya, walaupun demikian semua itu tidak membuatnya putus asa.

Aiman saat ini duduk di kelas 1 sebuah SMA. Dibalik keterbatasan fisik dan ekonomi Ia tetap semangat dan menunjukan prestasi disekolahnya, namun sayang ketika pembagian rapot Dia tidak dapat menujukan hasil prestasinya kepada Orang tua nya karena tertunggak biaya SPP, Ia hanya diperlihatkan sebentar oleh wali kelas nya.

“Aiman, selamat nilai rapot kenaikan kelas mu bagus kamu masuk peringkat 4 besar, ini berarti nanti kamu dikelas 2 masuk di kelas unggulan, samapaikan ini kepada orang tua mu tapi maaf Ibu tidak dapat menyerahkan Rapot ini pada mu karena kamu tertunggak SPP selama 4 bulan” Ujar Bu Sri yang merupakan Wali kelasnya.

“Iya bu, nanti saya sampaikan kepada orang tua” Aiman menjawab dengan rasa bangga dan haru. Sepanjang jalan menuju rumahnya Ia memikirkan bagaimana cara melunasi SPP agar rapotnya tadi dapat diperlihatkan kepada orang tuanya, terpikirlah oleh nya untuk berjualan koran di lampu merah.

Sesampainya di rumah ia memberitahu orang tuanya apa yang sudah di sampaikan Bu Sri tadi dan Ia memohon izin selama liburan sekolah untuk berjualan koran agar dapat melunasi tunggakan SPP nya.

“Pak, selama liburan sekolah ini Aku mau jualan koran di Lampu merah, Boleh ya pak?”

“Boleh Nak, tapi hati-hati ya disana banyak mobil, kamu nanti jualannya ngak usah sampai masuk ke dalam bis cukup bejualan dari luar saja ya” walaupun memberikan izin bapak cukup khawatir dengan keadaan anaknya, namun Ia tetap memberikan izin untuk melatih kemandirian sang anak.

Keesokan harinya, pagi-pagi Aiman sudah berpamitan kepada orang tua nya “Pak,, bu,,, aku mau berangkat jualan koran ya, mohon doanya pak” kata Aiman. “Ya nak hati-hati, Ibu doa in jualan mu lancar” jawab Sang Ibu.

Sesampainya dilampu merah ditemuinya seorang penjual koran “Maaf kak saya Aiman, saya mau jualan koran juga, boleh tau ngak kak dimana ya Agen koran?” ia sengaja bertanya ke penjual koran ini karena dilihatnya si penjual koran memiliki keterbatasan fisik yang sama dengan diri nya sehingga ia meyakini bahwa si penjual koran ini tidak akan merasa tersaingi nantinya “Oh,,, kamu mau jualan koran juga ya! itu disana” sambil menujuk kearah tempat si Agen koran mangkal, “Cepat kamu kesana karena Pak Komar (Nama Agen Koran) hanya sampai jam 7 mangkal di situ dan baru kesini lagi jam 12 siang nanti untuk mengambil setoran dari kami” Tambah si Penjual koran tadi “Baik kak, terima kasih banyak ya” Aiman pun bergegas menemui agen koran tersebut.

“Maaf pak saya Aiman, saya mau berjualan koran boleh ngak saya jual koran punya bapak” ujar Aiman kepada Pak Komar sang Agen koran

“Boleh, tapi saya mau tau kamu pulang kemana? sebab saya hanya sebentar disini dan baru kesini jam 12 nanti saya takut setelah koran laku kamu malah kabur” jawab Pak Komar

“Rumah saya ngak jauh kok dari sini pak, yakinlah Pak saya orang baik-baik saya mau jualan karena melunasi bayaran sekolah pak” Aiman menyakinkan Pak Komar.

Mendengar penjelasan Aiman, Pak Komar pun percaya “Oke, Bapak Percaya”

kemudian Pak Komar menjelaskan “Ini Koran Merk A dijual Rp.1.500 nanti kamu setor ke saya Rp.1.300, Sedangkan untuk Koran B ini dijual Rp.1.000 kamu setor kesaya Rp.900. Hari ini kamu bawa sedikit saja dulu karena kamu kan baru mulai”

“Baik pak, jadi untuk koran A untung saya Rp.200 dan untuk koran B untung saya Rp.100” sahut Aiman

“Ya, ini kamu coba dulu bawa masing-masing 20 eksempelar, nanti jam 12 kamu setor hasil penjualan mu” tambah Pak komar

Dan sejak saat itu dimulailah Pejuangan Aiman di lampu merah.

Pada saat pertama berjualan Ia sempat juga mengalami kegugupan dan ketakutan dengan deru kendaraan yang lalu lalang di lampu merah tersebut namun hari itu ia dinaungi oleh keberuntungan koran-koran tersebut sudah ludes terjual dalam waktu 3 jam saja.

“Alhamdulillah, koran ku hari ini cepat habis” Aiman bergumam dalam hati sembari melihat kearah si penjual koran yang pagi tadi memberitahu tempat Agen koran, dilihat nya koran yang dibawa si penjual tersebut masih banyak.

“Sini kak aku bantuin jual” Aiman menawarkan bantuan,
“Tidak usah Dik, kamu istirahat saja” jawab si penjual koran tadi,
“Ngak apa-apa kak, lagian Pak Komar masih lama juga kesini” Sahut Aiman

“Baiklah jika kamu memaksa, ini kamu jual 5 buah koran yang seribu-an ini saja” kata si penjual koran sembari memberikan 5 eksemplar koran.

Sejak saat itu mereka berdua menjadi teman baik karena memilki ikatan emosianal yang kuat yaitu sesama penyadang disabilitas.

Hari-hari liburan sekolah sudah hampir berakhir, namun tabungan Aiman masih kurang untuk melunasi tunggakan SPP nya, sehingga Ia memutuskan untuk berjualan koran sampai sore, karena selama ini ia hanya berjualan sampai jam 12 saja. Berkat kegigihan dan kesungguhan akhirnya sebelum masuk sekolah tabungan Aiman sudah cukup untuk melunasi tunggakannya, walaupun demikian Aiman tetap berjualan namun hanya setengah hari saja.

Dan akhirnya libur sekolah pun berakhir, Aiman tidak dapat lagi berjualan di pagi hari sekarang ia berjualan di siang hari sepulang sekolah.

Pada Hari pertama masuk sekolah Aiman langsung ke ruangan Adminitrasi untuk melunasi tunggakannya setelah lunas Ia pun memperoleh Rapot, dan benar apa yang di sampaikan Bu Sri dulu ketika pembagian rapot kenaikan kelas Aiman masuk kelas unggulan dan ternyata dari 40 orang murid hanya 4 orang murid laki-laki nya, walaupun memilki keterbatasan fisik Aiman tidak pernah mau ketinggalan dari teman-temannya ini terlihat ketika pelajaran olahraga padahal dia sudah diberi keringanan oleh Bu Yati sang guru olahraga.

“Aiman kamu tidak harus mengikuti pelajaran ibu, kamu cukup absensi saja” kata Bu Yati

“Ya bu terima kasih, tapi saya mau ikut pelajaran olahraga. Kalau teman-teman disuruh lari, saya jalan saja. Kalau kawan main Volly atau Bulutangkis saya wasit nya” jawab Aiman
_____________________________________________________________________________________________
Selama sekolah Aiman tidak mengalami banyak hambatan dan tetap berjualan koran di lampu merah setelah Ia pulang sekolah dan tidak pernah lagi tertunggak SPP hingga ia tamat SMA.

Ia tidak pernah Putus asa ataupun menyalahkan Nasib dan Takdirnya

Cerita diatas diangkat dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 1999-2002.

Saat ini Aiman sudah menjadi seorang guru dengan tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah di sebuah SMK Swasta. Semoga Tulisan ini dapat menjadi inspirasi bagi para pembaca. (Gurusiana/Dedi Sulaiman)

Facebook Comments