HomeCerpenSerenade, Nyanyian Senja Buat Para Pahlawan dari Dua Tokoh Sastra Asal Blora

Serenade, Nyanyian Senja Buat Para Pahlawan dari Dua Tokoh Sastra Asal Blora

Cerpen Nasional News Pendidikan Sastra Tokoh 0 0 likes 1.1K views share

kabarblora.com – Serenade adalah istilah umum yang merujuk kepada nyanyian atau alunan musik untuk memberikan penghormatan pada sore hari. Serenade biasanya dibawakan oleh banyak orang, bisa dalam bentuk paduan suara, nyanyian tunggal, kelompok musik, ensembel atau orkes simfoni.

Di Indonesia, Serenade kerap kali ditambahkan sebagai bagian dari upacara perayaan hari peringatan kemerdekaan republik, yang ditampilkan setelah upacara penurunan bendera selesai.

Lagu perjuangan, lagu nasional dan lagu bertema patriotisme yang dinyanyikan dalam serenade bertujuan untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur di medan perang dalam rangka ikut memerdekakan Indonesia. Selain itu juga untuk membangkitkan semangat seluruh generasi dalam rangka terus berjuang meneruskan kemerdekaan.

Judul Serenade itulah yang dipilih menjadi judul buku yang berisi kumpulan cerpen masa-masa awal kepenulisan dua tokoh sastra dari satu keluarga, yaitu Walujadi Toer dan Soesilo Toer.

Serenade beserta judul-judul cerpen lainnya dikumpulkan dari berbagai majalah di ibu kota seperti Keluarga, Roman, Widjaja, Siasat, Pena, Mesra dan Brawidjaja pada masa tahun 1952-1960. Buku telah disunting oleh Benee Santoso dan diterbitkan langsung oleh PATABA Press. Buku cetakan pertama pada Februari 2019 ini. Dengan tebal x + 210 halaman dan ukuran 13×19 cm karya dua penulis keluarga Toer ini dibandrol hanya dengan harga Rp65 ribu.

“Saya sampai heran, saya kok bisa nulis kayak gini itu kapan. Saya sudah lupa itu. Buku kumpulan cerpen yang berjudul Serenade ini berisi lima belas cerpen. Pak Walujadi dua cerpen, saya tigabelas cerpen. Terdiri dari berbagai macam tema kehidupan. Karya tersebut dari tahun 1952-1960. Saya sendiri saat itu masih SMP/SMA. Itu yang diketemukan. Nanti kalau ketemu lagi ya ditambahkan, biar lebih tebal,” ujar Soesilo Toer (82) sewaktu dikonfirmasi Kabar Blora, Sabtu (23/2/2019) siang di sebuah warung kopi Jl. Sumodarsono 33 Mlangsen Blora.

Soesilo, seorang yang bertitel doktor yang bercita-cita menjadi pemulung profesional ini menceritakan bahwa waktu itu menulis memang untuk dapat bersekolah.

“Dulu, perbulan saya dikasih Pram uang 10 rupiah untuk membeli alat-alat tulis. Tiap hari jkalau sekolah alan kaki berangkat-pulang kuranglebih 6 kilometer. Ya, sekolah sambil nulis. Untuk membiayai sekolah,” ungkapnya.

Lanjut Soesilo, waktu itu dirinya tinggal bersama kakak-kakaknya di daerah Kebun Jahe Kober Jalan Tanah Abang Jakarta Pusat.

“Satu rumah itu ditinggali Mas Pram, istrinya (Arfah Ilyas, red) bersama ketiga anaknya, Mas Koesalah Toer, Mbak Koesaisah Toer dan saya,” tuturnya.

Untuk memperkuat karakter tulisannya, tentunya Soesilo muda juga banyak membaca, di antaranya adalah karya-karya Riyono Pratikto dan Trisnojuwono. Termasuk karya penulis kelahiran Moskwa Rusia, Fyodor Dostoevsky.

“Saya senang banget dengan tulisan Riyono Pratikto dan Trisnojuwono. Kalau dari luar negeri waktu itu saya sudah baca karya Dostoevsky berjudul Rumah Mati di Siberia. Saya baca itu sewaktu kelas 6 SD di Blora. Bapak juga cukup banyak baca. Pendidikan keluarga yang utama. Dari 9 orang anak, 1 mati, 6 orang jadi penulis,” ungkap Soesilo, rektor yang tahun 2018 lalu pernah diundang acara Hitam Putih Deddy Corbuzier.

Kisah pengalaman pribadi dirinya dengan Pramoedya bisa dikatakan sebuah paduan berbagai rasa di dunia. Antara manisnya pujian hingga pahit getirnya pengusiran semua dirasakan Soesilo tak lain merupakan upaya sang kakak dalam mendidik adik-adiknya.

“Pernah kan saya nulis cerita pendek. Dimuat di korannya HB Jassin Mimbar Indonesia. Setelah dia baca, dipuji saya setinggi langit: “Cerita kamu pendek-pendek kayak Gorky, penuh makna kayak Steinbeck, kayak Hemingway, kayak Faulkner. Hebat kamu. Tapi kamu mengkritik saya ya? Kalau gak suka di sini, minggat kamu!” Ya, seperti itulah Pram mendidik adik-adiknya,” terangnya.

Dikatakan Soesilo, waktu itu nominal uang kompensasi dari hasil pemuatan karya tulisan-tulisannya di media massa seperti koran atau majalah juga beragam.

“Terkait dengan honor atas karya tulisan, Mimbar Indonesia termasuk mahal. Kalau yang lain seperti Siasat paling Rp30, Rp50. Tahun 1952-1954. Saya dibayar mahal oleh Majalah Keluarga yaitu Rp150. Tahun itu uang segitu bisa digunakan untuk makan berbulan-bulan,” jelasnya.

Seingatnya, setahun pindah ke Jakarta dirinya sudah menulis. Tulisan pertama Soesilo tentang Blora, berjudul Saya Ingin Jadi Jendral.

“Cerpen tersebut ceritanya kita anak-anak main perang-perangan di Blora. Sayang belum ditemukan,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments