HomeCerpenSILENT HOPE

SILENT HOPE

Cerpen 0 0 likes 2.7K views share

Tuhan jika masih ku diberi kesempatan

Ijinkan aku untuk membahagiakan anak-anakku..

Sore ini tepatnya, aku tak ada kekuatan untuk bangun dari tempat tidurku. Semua energiku di makan oleh virus yang ada didalam tubuhku.

Namaku Keyla umurku 30 tahun. Sejak divonis dokter  5 bulan lalu aku merasa jadi orang yang tidak berguna sekarang,  aku masih punya 2 anak yang masing-masing berumur dibawah 10 tahun. Hidupku sekarang seperti anai-anai yang tak punya tujuan dan hanya menunggu malaikat datang untuk menjemputku.

Bertambah hari kondisiku semakin memburuk. Bahkan aku jijik melihat diriku sendiri. Aku rindu bahagiaku yang dulu. Aku rindu keluargaku.

Tuhan, jika benar hidupku tak panjang

Kuingin kau memberi panjang usia buah hatiku

Jika benar aku menjijikkan

Kumohon padamu jangan kau jadikan anakku menjijikkan pula

Cukuplah aku yang merasakan pahitnya cobaan ini


Pagi ini rencana aku akan diantar untuk ceck up ke rumah sakit oleh keponakanku. Dia datang jauh-jauh dari kota lumpia. Jujur aku tak sanggup untuk melihat betapa buruknya kondisiku saat ini dan harus nanti ditambah lagi pernyataan dari dokter. Sungguh hal yang mengerikan bagiku.

“Ma, ini tante kondisinya kok semakin memburuk ya, apa kita opname ke rumah sakit aja”

“ Iya don, mama juga khawatir sama tantemu ini, tapi nanti pasti dia ndak mau untuk diopname ke rumah sakit, dulu dia pernah bilang kan kayak gitu.”

Aku tersadar dari lamunanku ,kualihkan pandanganku keluar, dari kejauhan kulihat sudah ada kakak dan keponakanku yang sedang berdiri dari arah pintu masuk kamar. Air mataku tak mampu ku tahan, dan akhirnya aku terisak pilu.

 Tiba-tiba  semua menjadi Gelapp…. !


Sakit sekali rasanya kepala ku, pusing. Sulit  kurasa untuk membuka mataku. Aku tak ingin melihat mereka mengasihini ku, aku malu dengan kondisiku yang seperti ini.

 “Fendi… Raisya..”

Tak sengaja mulutku yang dipenuhi dengan jamur ini tiba-tiba menyebut nama anakku. Aku rindu mereka.

“Tante sudah sadar, alhamdulillah..Bentar ya tante aku tak manggil mama diluar”

Punggung Doni menghilang dari pandanganku. Air mataku mengalir membasahi kedua pipiku. Aku rindu anakku, aku ingin bertemu dengan mereka, aku kangen canda tawa mereka. Aku tak ingin mereka menjadi korban atas penderitaan yang aku alami.

(tiba-tiba suara mengagetkanku)

“Kamu sudah sadar key, syukur lah kalo begitu. Gimana kabarmu?”

“Buruk” jawabku dengan sinis.

“Oh ya, tadi dapet salam dari keluarga di Semarang”

“Apa pedulinya mereka denganku, menjenguk saja tak pernah”

“Jangan begitu lah, mau tidak mau mereka juga keluarga kita “

Apa pedulinya mereka denganku, buat apa masih ingat diriku, bukankah mereka jijik denganku. Sejak saat terakhir kali aku pergi kesana memohon doa kepada mama dan keluarga disana. Mereka bahkan tidak mau bersalaman denganku, mereka bersifat biasa seolah aku tak tahu apa maksud dari perilaku mereka. Sakit batinku, melihat keluarga yang aku sayangi, keluarga yang sudah hidup lama dan mengerti bagaimana diriku, sekarang ku pegang tangan nya saja tak mau. Lantas buat apa mereka masih peduli denganku.

“Mana Fendy sama Raisya.. aku ingin bertemu mereka”

“Tante, maaf ya, untuk sementara ini, mereka aku titipkan ke pak Edi mantan tukang kebun tante dulu”

“Kenapa , kamu ingin menjauhkan aku dari mereka”

“ini demi kebaikan bersama tante, kasihan mereka masih kecil-kecil”

Aku berontak. Aku marah besar, bahkan aku tidak mau tau ini dirumah ku sendiri atau dirumah sakit. Aku benci dengan diriku sendiri, aku benci suamiku. Apa dosaku tuhan, sampai kau buat aku menjadi busuk seperti ini.

Aku ingin pulang kerumah. Dengan nekat kucabut jarum infus yang masuk di tubuhku. Sungguh  Perihh…

Tapi aku ingin pulang aku ingin merawat diriku sendiri. Aku tak ingin bertemu dengan siapa-siapa. Bahkan jika aku mati biar tidak ada orang yang tau sekalipun.aku lari dari rumah sakit aku tak peduli dengan kakak dan keponkanku, aku ingin sendiri untuk saat ini. hopeless……


Tepat 5 bulan lamanya, aku mengurung diri dirumah. Kurasa kondisiku tidak makin membaik tapi malah semakin memburuk. Setiap kali aku ingin mempercepat umurku, aku teringat akan buah hatiku, kasihan mereka. Mereka sangat butuh aku. Aku harus hidup, aku harus bisa melawan virus kurang ngajar ini. Sampai suatu pagi kakak perempuanku datang menjengukku, dia membawa seorang suster . Awalnya aku tak menyukai suster ini. tapi demi anak”ku aku rela untuk mau berkomunikasi dengannya.  Dan disini aku merasakan semangat untuk berjuang melawan semuanya. Tidak peduli seberapa orang yang membenciku.

Suster cantik itupun menyapaku , “ Selamat pagi ibu keyla, perkenalkan bu, saya mella”

Bahkan dia tidak jijik untuk bersalaman denganku.

“Saya Keyla, anda tidak jijik bersalaman denganku?”

“Lho.. kenapa saya harus jijik buk, kan ibuk bukan barang yang kotor. Bagaimana kabar ibuk hari ini?”

“Buruk sekali. Aku ingin mati rasanya”

“Buk Keyla,, apa ibuk membiarkan virus itu menggerogoti tubuh ibuk, apa ibuk kalah dengan mereka, apa ibuk tidak ingin melihat anak ibu tumbuh dewasa ?”

Tak tahan, aku pun terisak dalam pilu. Aku  pinta kakak untuk keluar dari kamarku. Aku ingin berdua dengan suster ini, aku ingin menceritakan semua.  Bagaimana kisahku sampai aku sekarang dapat julukan ODHA. Semua berawal dari suamiku. Dulu saat dia dinas diluar kota selama kurang lebih satu setengah bulan, pulang kerumah dengan kondisi sakit tak kunjung sembuh 3 bulan lamanya, kemudian dia meninggal. Aku pun tak tahu kalo dia terkena HIV AIDS. Bahkan aku dulu tidak tahu apa itu HIV AIDS. Seminggu tepatnya Setelah dia meninggal, keponakanku doni menanyaiku . dia begitu khawatir denganku, selalu membujuku untuk cek laborat kerumah sakit. Aku tak tahu apa yang sebenarnya dikhawatirkan kala itu. Aku turuti semua permintanya. Sampai seminggu menunggu hasil LAB. Aku pun kembali ke rumah sakit dengan Doni untuk mengambil hasil tes kemarin. Dari lembaran kertas hasil laboratorium disitu. Dokter menjelaskan bahwa aku positif menderita HIV AIDS. Aku penasaran apa sebenarnya penyakit itu, sampai Doni menangisiku. Aku tanyakan semuanya kepada dokter. Dan aku mulai terpuruk sejak dinyatakan aku positif HIV AIDS.

Kebetulan dokter itu adalah dokter yang menangani suamiku saat sakit dulu. Dia juga menjelaskan kalo ternyata aku tertular dari suamiku. Dokter juga sempat menjelaskan  kenapa suamiku bisa sampai terinfeksi virus  HIV AIDS. Ternyata selama dinas diluar kota dulu ,suamiku pernah melakukan hubungan intim dengan perempuan lain. Dari situlah kemudian virus HIV AIDS menyerang suamiku. Dan aku yang tidak tau apa-apa menjadi imbas dari kenakalan suamiku.

“Begitu kiranya cerita nya sus,,sungguh aku benar malu dengan semua ini”

“Bu keyla,, kita tidak boleh menjadi orang yang gampang berputus asa, kita juga tidak minta kan datangnya penyakit ini, sekarang yang harus bu keyla lakukan adalah tetap optimis,sabar dan harus berihktiar serta berdoa meminta agar diberi kesembuhan oleh Sang Maha Pemberi”

“Terimakasih suster, saya minta tolong kepada suster tolong bantu saya untuk berjuang demi kesembuhan saya dan memotivasi saya, suster tolong jangan ceritakan kisahku ini ke orang lain, aku takut jika nanti banyak orang yang mengucilkanku”

“insyaallah bu, jika ibu mau bertekad untuk bangkit ,Allah akan memberikan jalan terbaik untuk kesembuhan ibu dan insyaallah saya orangnya bisa dipercaya buk”

Sejak saat itu, aku mulai merasa menjadi orang yang dihargai. Setiap minggunya aku selalu check up kedokter untuk melihat perkembangan kondisiku. Selama hampir 2 tahun berobat, alhamdulillah puji tuhan aku terlihat menjadi orang pada umumnya tak nampak kusut dan berbau. Kondisiku membaik  meskipun virus ini tidak bakal hilang dari tubuhku dan aku masih dapat melihat anak-anakku melanjutkan mimpi-mimpi mereka. Aku percaya bahwa segala sesuatu yang didasari dengan niat dan tekad yang kuat insyaallah akan ada jalan nantinya.

Tuhan ,,

Engkau begitu adil kepada setiap hambaMu

Terima kasih atas kenikmatan yang masih kau beri untukku

Kuatkan aku tuhan, aku masih ingin melihat malaikat” kecilku

Tumbuh menjadi orang yang sukses dikemudian hari

Sekian…

 

Penulis Cerpen : Dwi Setiyani (@faith_k), Mahasiswi Poltekkes Semarang Prodi Blora

“Terkadang hidup perlu diuji agar kita tahu rasanya bersyukur dan bahagia. Orang dengan HIV AIDS bukanlah orang yang harus dijauhi, melainkan untuk selalu dimotivasi agar dapat melanjutkan kisah hidupnya. Selamat Hari HIV AIDS Sedunia,  Jauhi penyakitnya bukan penderitanya”.

 

 

Facebook Comments