HomeKomunitasStaff Ahli Kemendikbud RI: Perusahaan Perusak Lingkungan Tidak Diperkenankan Menjadi Sponsorship Acara Kebudayaan

Staff Ahli Kemendikbud RI: Perusahaan Perusak Lingkungan Tidak Diperkenankan Menjadi Sponsorship Acara Kebudayaan

Komunitas Nasional News Peristiwa Sastra Tokoh 0 0 likes 1.7K views share

kabarblora.com – Konferensi pers terkait polemik beberapa perusahaan sponsor yang tercantum di poster acara program Indonesiana – Cerita Dari Blora diselenggarakan di Rumah Joglo, Minggu (9/9) sekitar pukul 12.00 WIB. Dihadiri puluhan awak media baik cetak maupun online dari Blora maupun dari luar kota.

“Pak Pram itu lahir di Blora. Pengalaman inderawi beliau adalah menjadi salah satu modal dalam proses kreatif dari seorang penulis. Kita harapkan, generasi muda yang ada di Blora juga bisa mengalami secara inderawi sehingga target Blora menjadi kota sastra itu bisa terpenuhi,” kata Gatot Pranoto dari Yayasan Mahameru membuka ruang pemahaman pada acara konferensi pers.

Meneruskan apa yang dikatakan pemerhati seni budaya tersebut, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Dinporabudpar) Kabupaten Blora Kunto Aji mengatakan bahwa pemajuan kebudayaan adalah sebuah acara yang berbasis kerjasama. Gotong-royong antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, stakeholder yang ada, swasta, pegiat, praktisi, seniman dan budayawan, termasuk sistem yang ada.

“Sehingga kami menggandeng sponsorship. Konsep kami adalah bersama-sama dalam rangka pelaksanaan penguatan pemajuan kebudayaan. Sponsorship di antaranya adalah PT GMM (Gendhis Multi Manis), Bank Jateng, Pertamina, ExxonMobil dan PT Semen Indonesia,” ujar Kunto Aji.

Lanjutnya, terkait dengan besaran riil anggaran platform Indonesiana ini ada di bulan Januari, dimana APBD sudah ditetapkan. Dulu menurutnya sudah disampaikan kepada tim Indonesiana. Dikatakan pula waktu itu bahwa dari pihak Dinporabudpar Kabupaten Blora juga sangat mendukung.

“Jadi dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), dalam konteks nawaitu (niat, red), turunnya itu 1: 1. Manakala itu 500 (juta) maka daerah juga menyiapkan 500 (juta). Karena APBD (Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah) sudah ditetapkan di awal, maka kami tidak bisa menganggarkan. Kalau di tahun 2019 itu sudah ada terkait dengan dukungan anggaran pelaksanaan Indonesiana. Namun untuk di 2018 ini terus terang kami tidak ada dukungan anggaran dari APBD untuk kegiatan Indonesiana ini,” bebernya.

Tambahnya, bahwa anggaran Indonesiana bersumber dari APBN, APBD dan sponsorship. Karena ruhnya adalah kebersamaan, sehingga BUMD dan BUMN yang ada di Blora ini perlu diberikan pengertian bahwa kegiatan ini tidak hanya dikerjakan oleh Pemerintah Daerah saja.

“Sampeyan ada usaha, ada untung, ada CSR (Corporate Social Responsibility), mari kita sama-sama. Dengan dasar itu sehingga kami tidak ada niatan atau pemikiran “menjual” ikon Pramoedya seperti yang disoal teman-teman,” tukasnya.

Terangnya lagi, bahwa sponsorship tata dan kelola CSR sekarang sudah berbeda. Pihak pemohon tidak bisa langsung mendapatkan uang. Tetapi sistemnya beralih menjadi ganti uang. CSR tersebut juga tidak masuk ke dalam APBD, karena manajemen tersebut dari non goverment. Proposal pemohon adalah panitia. Dalam surat permohonan bantuan sponsorship tersebut sebagai Kadinas mengetahui. Pihak sponsor itu nantinya memberikan sarana dan prasarana, terkait dengan perhelatan acara.

“Misalkan di grand opening itu ada kebutuhan tratak, kursi, dan sound. Mereka akan membantu seperti itu. Apa yang kami laksanakan baru ditukarkan kepada sponsor,” jelas Kunto.

Terkait dengan konsep Indonesiana, menurutnya, karena ruhnya di sosok penulis legendaris kelas dunia Pramoedya Ananta Toer, Pemerintah Kabupaten Blora lewat dinas akan menonjolkan sastra rumah masa kecil Pramoedya yang berada di Jetis. Dari sana akan dilaksanakan pameran memorabilia Cerita Dari Blora, talkshow Pram dan Sastra, bedah buku Cerita Dari Blora. Di lokasi yang lainnya ada pementasan teatrikal Bumi Manusia, Barongan Kentrung, Singiran, Wayang Krucil, Tayub, Ledek Barangan, Wayang Kulit, musikalisasi puisi dan lain-lain,” terangnya.

Di sesi berikutnya, Fawarti Gendra Nata Utami dari PIC (Person In Charge) Flatform Indonesiana mengatakan bahwa acara Indonesiana ini adalah praktik kerja yang senyatanya.

“Kalau memang teman-teman mau support, sebetulnya ini tidak hanya mengatasnamakan dinas, ini adalah Blora dan Indonesia. Tidak apa-apa dikritisi. Kalau tidak ada yang mengkritisi, tidak ada yang vokal, tidak mungkin sebuah acara bisa ada masukan dan berjalan lebih baik,” tandas Fafa Utami, pengajar di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta Jurusan Etnomusikologi.

Melanjutkan dari apa yang disampaikan para narasumber, Staf Ahli Kebudayaan Kemendikbud Republik Indonesia Anung Karyadi yang turut hadir sebagai pembicara juga mengatakan bahwa Indonesiana merupakan upaya merombak sistem kerjasama antara pusat dan daerah. Intinya, yang paling penting di acara Indonesiana adalah kegotongroyongan, yaitu APBD, APBN, sponsorship dan juga komunitas yang aktif serta partisipatif membangun kerja-kerja kebudayaan.

“Kami selama ini kami masih memiliki SOP (Standar Operasional Prosedur) yang standart, kalau Kemendikbud Republik Indonesia tidak diperbolehkan mendapat sponsor dari perusahaan rokok. Ke depan, kami pasti belajar juga dari masukan komunitas, (daftarnya) akan kita tambah. Perusahaan-perusahaan yang memiliki permasalahan dengan lingkungan, pelanggaran hak asasi manusia, itu tidak diperkenankan,” jelas Anung Karyadi.

Senada dengan Anung, Wakil Bupati Arief Rohman menyampaikan bahwa acara Indonesiana bisa terlaksana dengan baik atas kerjasama dari semua pihak dan semua komunitas, para pemerhati dan pecinta Pramoedya untuk memberikan saran usul dan masukan terkait dengan kesuksesan acara.

“Sebuah kota bisa menjadi maju salah satunya adalah lewat kebudayaan seni dan sastra. Karena itu kami bersama-sama mohon dukungan kepada teman-teman media dan teman-teman Pramis semua agar acara Indonesiana ini bisa terlaksana dengan baik dan bermanfaat,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments