HomeSuara WargaMedia Sosial dan Gejala Hoax: Peran Kader HMI Mendayagunakan Media Sosial yang Berkualitas

Media Sosial dan Gejala Hoax: Peran Kader HMI Mendayagunakan Media Sosial yang Berkualitas

Suara Warga 0 0 likes 1.2K views share

Opini | kabarblora.com – Di era digital sekarang teknologi internet semakin berkembang dan banyak penduduk di Indonesia menggunakan internet serta mempunyai media sosial seperti facebook, twitter, blog dan youtube, Hal ini menjadi jelas bahwa alat online memainkan peran penting dalam membentuk opini publik. Namun imbas dari pesatnya penggunaan media sosial ada permasalahan yang timbul dari penggunaan media sosial saat ini yaitu banyaknya hoax yang menyebar luas. Hoax adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu.

Salah satu contoh pemberitaan palsu paling sering muncul yaitu pemberitaan yang mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/ kejadian sejatinya. Penyebaran hoax memiliki tujuan yang beragam tapi pada umumnya hoax disebarkan sebagai bahan lelucon atau sekedar iseng, menjatuhkan pesaing (black campaign), promosi dengan penipuan. Penyebaran yang tanpa melalui proses koreksi pada akhirnya akan berdampak pada memecah belah publik.

Media sosial menjadi tempat paling subur untuk tumbuhnya berita-berita hoax. Hal tersebut dikarenakan sifat dari media sosial yang memungkinkan akun anonim untuk berkontribusi, juga setiap orang, tidak peduli latar belakangnya, punya kesempatan yang sama untuk menulis. Sehingga ada berberapa orang yang tidak bertanggungjawab, menggunakan celah ini untuk menggunakan media sosial dalam konteks negatif, yaitu menyebarkan fitnah, hasut dan hoax.

Sebagai kader HMI yang memiliki lima kualitas insan cita yaitu insan akademis,pencipta,pengabdi,bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur diharapkan mampu mendayagunakan media sosial dengan berkualitas untuk menanggulangi kejahatan dalam media sosial seperti informasi hoax. Kader HMI harus mengambil peran untuk menjadi pengkampanye cerdas bermedia sosial dengan menerapakan etika bersosial media dengan baik.

Etika bermedia sosial yang baik pada prinsipnya merupakan berperilaku dan bertindak yang mengacu pada apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Etika bermedia sosial dibagi dua yaitu etika tertulis dan tidak tertulis. Etika tertulis legal formal telah dirumuskan dan disahkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan, seperti UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Sedangkan kaidah dan nilai-nilai yang terdapat dalam etika tidak tertulis pada umumnya tidak mengikat secara hukum. Oleh sebab itu, apabila terjadi pelanggaran atau tidak ditaati maka tidak ada sanksi yang bisa diberlakukan. Sanksi yang muncul pada umumnya adalah sanksi sosial, seperti dikeluarkan dari grup, mendapat unfollow, dislike, mendapat kritikan, teguran, atau masukan dari orang lain, atau bisa juga dikucilkan (ekskomunikasi) oleh pengguna medsos yang lain.

Selanjutnya dalam mendayagunakan media sosial kader HMI diharapkan mampu mengambil peran sebagai pengembang model literasi media yang berkehinekaan sehingga mampu mencegah informasi hoax yang saling menjatuhkan satu sama lain dan mampu mempererat rasa persatuan dalam bermedia sosial.. Secara operasional, aspek literasi media ini harus bisa memunculkan kesadaran tentang posisi dan peran media baru (new media) dalam kehidupan berbangsa. Kader HMI harus mampu mengkampanyaekan media literasi berkebhinekaan sehingga ketika di konsumsi masyarakat mereka bisa sadar bahwa media ibarat pisau bermata dua, bisa untuk membangun masyarakat atau merusak masyarakat dengan dampak-dampak yang diakibatkannya. Selain itu juga harus mampu menyadarkan masyarakat bahwa mereka berada di ruang publik ketika berselancar di dunia online, sehingga segala tindakannya tidak bebas nilai. Sehingga masyarakat sadar dengan peran strategisnya dalam proses penyampaian berita yang benar. (Moh Khudzaifi, Kader HMI Cabang Probolinggo)